Site icon NTD Indonesia

PODCAST Maafkan Dia

Dua sahabat

Dua sahabat. (Screenshot Storyblocks)

Kisah Inspiratif: Maafkan Dia

Suatu hari saat pulang dari sekolah, tingkah si bungsu, Anna, tiba-tiba menjadi pendiam, murung, dan lesu.

PODCAST

http://ntdindonesia.com/wp-content/uploads/2020/08/Maafkan%20Dia.mp3

Sang Ibu yang melihat sikap anaknya merasa heran, lalu bertanya:
“Ada apa nak? Kenapa mukamu sedih begitu?”

Setelah terdiam dan ragu-ragu sejenak, akhirnya si bungsu pun bercerita:
“Aku lagi kesel sama si Tina Bu!” Masa dia memfitnah aku, padahal dia kan temanku!”

Ibunya dengan sabar mendengarkan cerita putrinya. Anna melanjutkan ceritanya.
“Jadi tadi temen sekelasku si Nita dibikin nangis sama si Tina Bu! Terus, si Tina dipanggil ke ruang guru. Eh, disana dia bilang kalo aku yang ngajarin dia semua itu! Emang sih, aku sama Tina gak gitu suka sama si Nita. Tapi aku mana pernah ngajar-ngajarin dia ngejek si Tina! Akhirnya aku sama Tina dikasih hukuman bersihin kelas hari ini, Bu!”

Si bungsu pun mulai menangis mengasihani dirinya sendiri. Ibu menghiburnya dan berpikir masalah ini akan segera selesai, namun ternyata beberapa hari kemudian kasus itu masih berlanjut. Anna mengadu pada ibunya lagi dengan nada marah.
“Bu! Nggak adil banget Bu! Si Tina sekarang menyebarkan gosip kalo aku tukang fitnah. Terus, temen-temen sekelas semuanya jadi musuhin aku. Malah, mereka bilang aku harus minta maaf sama Tina Bu! Nggak adil Bu! Aku ngga mau minta maaf sama Tina. Kan dia yang salah!”

Ayahnya, kali ini ikut mendengarkan. Dengan bijak, Ayah berkata:
“Anna, pertengkaran sesama teman itu kadang memang terjadi. Ayah juga, kadang-kadang bisa kok bertengkar sama ibu atau teman akrab ayah. Tapi, jika kedua pihak sama-sama merasa benar, lalu bagaimana? Selamanya tidak bisa selesai, kan? Salah satu pihak mesti mengalah, baru bisa selesai. Jika kamu mengalah duluan, maka kamulah pemenangnya. Karena, mengalah itu tidak mudah. Mengalah itu sangaaatttt susah. Mereka yang bisa berlapang hati mengalah, itulah yang menang.”

Anna terdiam mendengar nasehat ayahnya ini. Lalu ia berkata:
“Tapi Ayah! Kenapa aku mesti mengalah dan minta maaf, padahal bukan aku yang salah? Kemaren bahkan Tina bilang dia nggak akan mau ngomong lagi sama aku, kalau aku belom minta maaf sama dia. Katanya aku yang mempengaruhi dia untuk mengata-ngatai Nita!”

Ayah tertawa lebar mendengarnya.
“Hahahaha…. Iya Anna, ayah mengerti. Memang minta maaf walaupun kita merasa benar itu sangat sulit. Tapi, apakah ruginya untukmu? Jika kamu merasa benar didalam hati, itu sudah cukup. Ayah lihat beberapa hari ini, mukamu murung sekali dan kamu jadi tidak pernah tertawa. Ayah ingin gadis ayah yang ceria, kembali lagi menjadi ceria! Nah, cobalah untuk minta maaf sama Tina, nanti kamu boleh lihat hasilnya bagaimana!”

Anna mendengarkan ayahnya. Ia merasa tertantang. Akhirnya, ia berkata,
“Baiklah Ayah! Mari kita coba lihat hasilnya bagaimana kalau aku minta maaf duluan, walaupun aku tidak salah!”

Keesokan harinya, ayah dan ibu kaget melihat Anna pulang sekolah bersama Tina. Mereka terlihat akrab dan tertawa-tawa, sebelum Tina pamit pulang kepada orangtua Anna.

Ibu tersenyum pada Anna, lalu bertanya pada si bungsu:
“Nah Anna, coba ceritakan bagaimana hasilnya setelah kamu meminta maaf pada Tina! Ayah dan Ibu sudah tidak sabar mendengarnya.”

Anna pun tersenyum pada ibu dan ayahnya.
“Ide ayah memang hebat! Tadinya aku kesal sekali harus minta maaf duluan sama Tina. Tapi setelah aku minta maaf, tiba-tiba Tina menangis dan memelukku. Dia bilang, maafin dia juga, karena sudah menyeretku ke masalah dengan Nita.

Habis itu, entah kenapa aku merasa aku juga harus minta maaf sama Nita, dan dia dengan tulus mau memaafkan kami berdua. Habis itu…. Teman-teman sekelasku tiba-tiba berubah jadi hangat lagi, dan mereka berkata aku sangat pemberani, Bu.”

Sejak itu, si bungsu kembali menjadi anak yang ceria, bersemangat, tidak murung dan marah – marah lagi baik di sekolahnya maupun saat berada di rumahnya.

Kesalahan orang lain kepada kita, apapun bentuknya, jika terus saja kita simpan di hati, maka itu akan menjadi beban pikiran dan penderitaan dalam hidup kita.

Lepaskanlah rasa sakit hati itu dan maafkanlah kesalahan orang lain, dengan begitu akan membawa kedamaian dan manfaat bagi diri sendiri juga orang lain.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Dengarkan Podcast kami:

Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu