Budi Pekerti

PODCAST Pak Tua dan Mangkuk Kayu

Suatu ketika, ada seorang kakek tua yang menetap bersama keluarga putranya.

PODCAST

Karena sudah sangat tua, kesehatannya mulai menurun, tangannya sering gemetaran dan langkah kakinya juga tertatih-tatih.

Saat makan malam bersama, tangannya gemetaran dan penglihatannya yang kabur, membuat sang kakek kesulitan untuk makan dengan benar.

Hal ini membuatnya seringkali tanpa sengaja, menjatuhkan piring kaca keluarga tersebut pecah sehingga makanannya jatuh berserakan di lantai.

Selain itu, sang kakek juga sering menumpahkan susu ke lantai, saat ia minum susu.

Seiring berjalannya waktu, sang menantu pun menjadi merasa kerepotan dan kesal dengan ayah mertuanya tersebut.

Suatu hari, sang istri berkata:

“Suamiku, kita harus berbuat sesuatu, saya sudah jenuh dengan segala kekacauan yang dibuat oleh Ayahmu!”

Kemudian sang suami berkata:

“Hmmm…baiklah istriku. Ayahku sudah banyak merepotkanmu. Jadi mulai hari ini, kita minta Ayah makan pakai mangkuk kayu dan makan di kamarnya saja! Bagaimana menurutmu?”

Sang istripun tersenyum dan mengangguk setuju.

Sejak itu, si kakek makan sendirian dengan mangkuk kayu di kamarnya, sedangkan putra beserta keluarganya menikmati makanannya di meja makan.

Sang kakek seringkali menangis diam-diam karena merasa sakit hati dan dikucilkan. Namun, tanpa diduga, cucu nya yang baru berusia enam tahun ternyata memperhatikan kejadian tersebut.

Suatu malam, sang cucu sedang bermain dengan beberapa potongan kayu.

Ayahnya memperhatikannya dan dengan lembut bertanya:

“Lagi main apa Nak?”

Dengan polosnya, anak itu menjawab:

“Oh, saya sedang membuat mangkuk kayu kecil seperti kepunyaan Kakek, untuk tempat makan Ayah dan Ibu, saat aku besar nanti.”

Ayah anak tersebut terkejut oleh ucapan putrinya, dan tidak sanggup berkata apa apa lagi. Ia merenungkan kata-kata polos itu, lalu menceritakannya pada istrinya.

Sang istri yang juga merasa bersalah, akhirnya setuju untuk berdamai dengan sang mertua.

Malam itu juga, suami istri tersebut meminta maaf pada kakek tua tersebut, lalu membawanya kembali ke meja untuk makan malam bersama lagi.

Akhirnya, di sisa hidupnya, sang kakek tua itu bisa menikmati lagi makan bersama anggota keluarganya di meja makan dengan bahagia.

Sementara sang istri, tidak peduli lagi dengan susu yang tumpah, makanan yang jatuh, maupun piring yang pecah lagi, karena ia telah menyadari satu hal: apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai.

Selama orangtua masih hidup, kita harus menghormati, merawat, dan mencintai mereka dengan sepenuh hati. Singkirkan perasaan malas dan kesal saat merawat orangtua bagaimanapun keadaan mereka. Yakinlah bahwa sikap Anda pada orangtua saat ini, adalah sikap anak atau menantu pada Anda, ketika Anda telah tua nanti.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Dengarkan Podcast kami:

Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu