Budi Pekerti

Rutinitas Harian Kaisar Kangxi

Kaisar Kangxi @Wikipedia
Kaisar Kangxi @Wikipedia

Bagaimana para pangeran kerajaan Dinasti Qing dididik, telah ditetapkan pada era Kaisar Kangxi (1654 -1722). Para pangeran memulai sekolah formal mereka pada usia enam tahun. Mereka harus bangun jam 5 pagi setiap hari untuk belajar hingga jam 6 atau 7 malam.

Mereka hanya memiliki satu hari libur—Hari Tahun Baru—dan dua setengah hari libur sebelumnya. Itulah jadwal sepanjang tahun baik hujan atau cerah, pada musim panas maupun musim dingin.

Lokasi di mana mereka belajar disebut Wuyizhai (“Tempat Tanpa Waktu Santai” atau “Rumah Kerja keras”) yang terletak di Taman Changchun. Nama tempat itu merupakan indikasi betapa serius dan ketatnya Kaisar terhadap pendidikan para pangeran.

Selain memiliki harapan yang tinggi untuk anak-anak kerajaan, Kaisar Kangxi sendiri juga memberikan contoh yang baik. Ia mengatakan dalam Tingxun Geyan (Pedoman untuk Keluarga), “Membangun karakter berasal dari upaya sungguh-sungguh dalam rutinitas sehari-hari. Bahkan di musim panas yang terik, saya tidak perlu menggunakan kipas angin atau melepas topi saya, karena saya tidak memanjakan diri dalam kehidupan sehari-hari.”

Jadwal Harian di “Tempat Tanpa Waktu Santai”

Kaisar Kangxi sangat ketat dalam hal pendidikan pangeran. Ia sering memeriksa pekerjaan rumah mereka dan menguji keterampilan seni bela diri mereka. Catatan sejarah menunjukkan catatan berikut untuk studio Wuyizhai pada tanggal 10 Juni 1687:

Yin Shi (Pukul 3-5) Belajar sendiri di studio, persiapan menghadapi kedatangan guru.

Mao Shi (Pukul 5-7) Guru memeriksa pekerjaan rumah pangeran dan meminta mereka untuk membacakan teks. Ketika tidak ada kesalahan yang dibuat, mereka melanjutkan untuk mengajarkan teks baru dan memberikan pekerjaan rumah baru, yang akan diperiksa keesokan harinya. Guru Manchu mereka adalah Dahata dan Guru bahasa Mandarin mereka adalah Tang Bin.

Chen Shi (Pukul 7-9) Kaisar Kangxi datang untuk memeriksa studi mereka setelah pertemuan pagi dengan anggota istana. Kaisar terutama memeriksa apakah para pangeran dapat melafalkan karya klasik yang telah mereka pelajari.

Si Shi (Pukul 9-11) saat itu sangat panas di musim panas, tetapi para pangeran tidak diizinkan menggunakan kipas angin, dan mereka harus duduk tegak. Mereka berlatih kaligrafi, menulis setiap karakter 100 kali.

Wu Shi (Pukul 11-13) waktu makan siang, dilanjutkan dengan belajar sendiri – berlatih kaligrafi.

Wei Shi (13-15) para pangeran pergi ke halaman untuk latihan fisik. Kegiatan tersebut antara lain memanah, gulat, dan seni bela diri.

Shen Shi (15-17) Kaisar Kangxi datang lagi. Kaisar mengambil teks secara acak dan meminta para pangeran untuk membacakan dan menjelaskan artinya. Kaisar memeriksa setiap pangeran secara berurutan.

You Shi (17-19) para pangeran berlatih memanah di halaman. Kaisar meminta setiap pangeran untuk memanah; skor mereka bervariasi. Kaisar juga meminta pelatih mereka untuk memanah. Pada akhirnya, kaisar sendiri menanah sejumlah anak panah, dan setiap anak panah mengenai sasaran.

Para pangeran kemudian dibubarkan setelah seharian belajar.

61 Tahun Memerintah dengan Rajin

Kangxi, yang memerintah selama 61 tahun pada masa dinasti Qing, adalah kaisar yang paling lama memerintah dalam catatan sejarah Tiongkok. Dengan memperluas wilayah negara serta membawakan dan menyebarluaskan manfaat dan kemakmuran, ia dipuji sebagai “kaisar yang hanya muncul sekali dalam seribu tahun.”

Dimulai dengan Kangxi, kaisar Dinasti Qing mengadakan pertemuan pagi dengan pejabat istana setiap hari, kecuali untuk keadaan yang jarang terjadi. Bahkan di tahun ke-18 pemerintahan Kangxi, ketika gempa bumi hebat terjadi di Beijing, Kangxi tetap mengadakan pertemuan pagi seperti biasa.

Pertemuan pagi awalnya dimulai pada pukul 6:00 pagi di musim semi dan musim panas dan pada pukul 7:00 pagi di musim gugur dan musim dingin. Banyak anggota istana yang sudah lanjut usia harus bangun di tengah malam agar bisa tepat waktu hadir. Seiring waktu, mereka merasa semakin sulit, jadi mereka berulang kali memohon kepada kaisar untuk jadwal yang lebih fleksibel untuk audiensi pagi.

Kaisar Kangxi mendengarkan dan membuat perubahan yang sesuai. Ketika ibu kota mengalami hujan lebat, badai salju, panas atau dingin yang luar biasa, audiensi pagi bisa dibatalkan jika tidak ada masalah mendesak. Selain itu, pejabat lanjut usia di atas 60 tahun dapat menghadiri pertemuan sekali setiap dua atau tiga hari, bukan setiap hari.

Namun, Kaisar Kangxi memastikan bahwa ia sendiri hadir setiap hari. “Saya sudah melakukan ini selama lebih dari 30 tahun dan itu sudah menjadi rutinitas,” jelasnya. “Saya akan merasa tidak nyaman jika saya melewatkan pertemuan. Ditambah lagi, jika kita bertemu hanya sekali setiap tiga atau empat hari, saya mungkin akan mengendur.” Karena itu, ia tetap mengadakan pertemuan setiap hari.

Jika ada sesuatu yang mendesak, Kangxi akan mengerjakannya sepanjang malam, menulis komentar di memo itu tanpa penundaan. Ia menentang pandangan bahwa “kaisar hanya perlu mengurus hal-hal yang paling penting dan dapat menyerahkan hal-hal sepele kepada orang lain.” Ia menjelaskan bahwa, jika kaisar sembarangan meskipun hanya sesaat, itu dapat menyebabkan masalah bagi seluruh bangsa dan menyebabkan bencana bagi generasi selanjutnya. Dengan kata lain, mengendur pada hal-hal sepele sekarang dapat menyebabkan masalah besar di kemudian hari.

Pada musim panas ke-15 era Kangxi (1676), Sungai Kuning sering banjir karena tepi sungai rusak. Untuk memahami situasi secara langsung, Kangxi mengunjungi wilayah tersebut beberapa kali untuk memeriksa dan menyelidiki, mencari solusi. Ia melakukan perjalanan dengan perahu ke Mengjin, Xuzhou, Suqian, Pizhou, Taoyuan, dan Qingkou di bagian hilir sungai dan pergi ke Shanxi, Shaanxi, Inner Mongolia, Ningxia, dan tempat-tempat lain di bagian tengah.

Ia juga berlayar dari Hengchengbao (selatan Yinchuan) di sepanjang bagian tengah Sungai Kuning. Tur inspeksinya berlangsung selama 22 hari dan menempuh jarak ribuan mil. Kaisar melakukan inspeksi secara menyeluruh ke mana pun ia pergi.

Banyak kaisar dalam sejarah Tiongkok yang peduli dengan konservasi air, tetapi sangat sedikit yang melakukannya seperti Kangxi. Ia tidak hanya pergi ke garis depan secara pribadi, tetapi ia juga mengusulkan solusi yang tepat untuk masalah yang sulit.

Belajar dan Meningkat Setiap Hari

Kaisar Kangxi berulang kali memperingatkan generasi selanjutnya untuk bekerja dan belajar dengan rajin dan tidak mengendur sedikit pun. Ia berkata, “Dikatakan dalam I Ching (Kitab Perubahan) bahwa membuat kemajuan baru setiap hari adalah suatu kebajikan besar. Seseorang harus mengambil langkah maju setiap hari agar tidak membuang waktu yang berharga.”

Dalam Pedoman untuk Keluarga, ia menulis, “Semua orang menikmati kesenangan dan tidak menyukai kerja keras. Tapi hati saya mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengetahui kesenangan adalah dengan bekerja keras. Jika seseorang hanya memanjakan diri dalam kesenangan, ia tidak akan mengerti apa arti kesenangan dan tidak akan mampu memikul kesulitan apa pun.

Oleh karena itu, Kitab Perubahan mengatakan ‘Langit memberi contoh/panutan, maka sebagai seorang budiman harus mengikuti panutan tersebut dengan terus membina diri tiada hentinya.’ Oleh karena itu, orang-orang yang bermoral menganggap kerja keras sebagai berkah dan kesenangan sebagai kemalangan.”

Kaisar Kangxi memperlakukan dirinya berdasarkan prinsip-prinsip seperti itu sepanjang hidupnya. Sejak ia naik takhta hingga kematiannya, ia menghadiri pertemuan pagi hampir setiap hari, kecuali saat tertentu yang jarang terjadi seperti ketika ia sakit, pada tiga festival besar, atau ketika ada insiden penting yang tidak terduga. Ketika ia melihat kembali pemerintahannya selama 61 tahun, ia berkata bahwa ia “bekerja dengan rajin dan teliti, dan tidak pernah mengendur dari tugasnya bahkan di malam hari. Selama beberapa dekade, saya telah melakukan yang terbaik, yang bisa saya lakukan setiap hari tanpa terkecuali.”

Sesuai dengan kata-kata dan perbuatannya, Kaisar Kangxi memberikan contoh yang baik untuk generasi selanjutnya dalam hal mengembangkan kebajikan, dan kekayaan spiritual berharga yang ia tinggalkan adalah salah satu harta budaya tradisional Tiongkok.(id.minghui.org)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI