Di sebuah kerajaan, hiduplah seorang raja yang tamak dan suka menghambur-hamburkan kekayaan.
PODCAST
Ia menarik pajak tinggi dari seantero negri, sehingga banyak rakyatnya yang menjadi jatuh miskin dan kelaparan. Sementara hidupnya sendiri di istana adalah sangat mewah dan berkelimpahan.
Setiap hari, ia disuguhi makanan yang berlimpah, namun Raja ini hanya menyicip sedikit dari setiap makanan saja dan tidak menghabiskannya; lalu ia menyuruh para pelayan dapur untuk membuang sisa makanannya ke sungai.
Rakyatnya yang telah lama menderita dan kelaparan, akhirnya mengadakan pemberontakan. Raja ini pun ditangkap dan diusir dari singgasananya.
Raja yang terlunta-lunta tanpa tujuan, baru pertama kalinya merasakan kelaparan dan tidak memiliki makanan serta tempat berteduh. Dengan perut keroncongan, ia berjalan tertatih-tatih melewati hutan, dan akhirnya sampai di sebuah rumah kecil yang sederhana. Ia pun mengetuk pintunya.
Seorang wanita berwajah ramah muncul dari balik pintu. Ia sangat kaget melihat seorang pria yang lemah dan kurus berdiri di depan pintunya.
“Maaf Nyonya, apakah saya boleh berteduh disini? Dan apakah saya boleh meminta sedikit saja makanan? Sudah tiga hari saya tidak makan apa-apa!”
“Haduh Pak! Kurus sekali badanmu, kasihan! Ayo masuk, saya akan menyiapkan sedikit makanan untukmu!”
Raja pun masuk ke dalam rumah itu dengan perasaan bersyukur. Ia melihat sekeliling. Ternyata di dalam rumah, ada dua orang anak kecil yang sedang menikmati makan siang mereka. Walaupun makan siangnya hanya terdiri dari makanan kering dan roti, hidangan itu terlihat sangat lezat bagi si Raja yang sudah sangat kelaparan.
Ibu pemilik rumah sangat ramah dan menyuruhnya duduk. Sebentar saja, ia mengetahui bahwa pria kumal di hadapannya ternyata adalah Raja yang telah diusir dari singgasananya.
“Wah Raja, saya merasa sangat terhormat Raja bisa datang mengunjungi rumah saya. Tetapi, terus terang saja, sewaktu Anda masih berkuasa, kami memang sangat susah mendapatkan makanan! Pajak sangat tinggi, sementara penghasilan kami sangat rendah!”
“Dengan segala hormat, Ibu, saya meminta maaf sedalam-dalamnya pada Anda…”
Raja terlihat sangat sedih. Sewaktu masih di istana, ia tidak pernah menyadari bahwa sifat tamak dan gemar berfoya-foyanya telah membawa petaka bagi rakyatnya. Ia bahkan tidak pernah tahu rasanya kelaparan.
Ibu pemilik rumah hanya tersenyum dan mengangguk. Raja pun diizinkan tinggal di rumah itu bersama keluarga tersebut, dan ia merasa sangat bersyukur.
Setelah tinggal beberapa lama, Raja merasa sangat berutang budi dan ingin bekerja bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga itu. Namun Ibu pemilik rumah tertawa saat mendengar idenya tersebut.
“Raja, sebenarnya kami ini tidak kekurangan makanan. Bahkan, Anda tidak usah membalas budi, karena semua makanan yang saya berikan pada Anda sebenarnya adalah milik Anda.”
“Milik saya? Apa maksudnya?”
“Nah, mari saya tunjukkan.”
Ibu pemilik rumah keluar dan berjalan ke gudang yang terletak di samping rumah tersebut. Ia menunjukkan isi gudang pada si Raja, yang ternyata berisi bertumpuk-tumpuk bahan makanan yang telah dikeringkan.
“Rumah kami terletak di pinggir sungai. Saat Anda berkuasa, sebenarnya kami sering melihat bahan makanan mengalir terapung begitu saja di sungai. Jadi saya menyuruh anak-anak saya berjaga di pinggir sungai dan mengambil bahan makanan itu. Sepertinya sungai itu terhubung dengan sungai tepi istana, sehingga bahan makanan yang dibuang dari sana mengalir kesini. Saya hanya mengambilnya, mengeringkannya dan mengolahnya menjadi makanan kering agar tidak membusuk dan bisa disimpan lama sebagai bahan makanan cadangan kami.”
Raja yang mendengar ini merasa amat menyesal dan pedih hatinya. Ia tidak menyangka bahwa makanan yang telah ia buang-buang selama ini ternyata telah menjadi cadangan makanan yang berlimpah bagi orang lain.
Sebagai manusia, hendaknya kita tidak berfoya-foya dan tidak membuang-buang makanan. Sebutir nasi pun adalah sangat berharga bagi mereka yang kelaparan. Hendaklah kita bijaksana dalam berhemat makanan, tidak membeli lebih dari yang dibutuhkan, dan menghabiskan semuanya tanpa disisakan.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu


