Budi Pekerti

Sang Raja

@unsplash

Konon di sebuah kerajaan yang makmur dan tentram, dimana rakyatnya hidup sejahtera dan bahagia, keadaan perlahan mulai memburuk hingga akhirnya berada di ambang keruntuhan total. Pasca munculnya bencana kekacauan dalam masyarakat, dan ditambah sang Raja menderita sakit yang mengakibatkan situasi istana menjadi kacau, moralitas rakyat mengalami kemerosotan secara dramatis. Mereka mulai kehilangan etika kesopanan dan kepercayaan terhadap Langit. Kemerosotan moral menyebar hingga ke titik dimana orang-orang melabeli diri mereka dengan sebuah sumpah immoral yang dilambangkan dengan gambar naga merah pada lengan bawah, sebagai tanda pemberontakan terhadap kebajikan dan hati nurani.

Ketika sang raja pulih dari sakit dan melihat situasi ini, dalam kelemahannya beliau menemukan bahwa dia juga mengalami kemerosotan moralitas yang sama.

Dengan tujuan menemukan apa yang telah hilang dari rakyatnya, sang raja menyerahkan tahta kerajaan kepada penasihatnya yang paling tepercaya, menanggalkan jubah kerajaannya, dan mengenakan pakaian biasa, lalu berangkat memulai perjalanan panjang.

Selama perjalanannya, beliau tertidur di tempat yang sunyi dan bermimpi. Makhluk Surgawi mengungkapkan kepadanya bahwa semua orang di kerajaannya akan disisihkan dari Surga jika mereka tidak menghentikan sumpah tak bermoral. Sejak hari itu, raja berkeliling dari desa ke desa memberi tahu orang-orang tentang mimpinya, tetapi tidak ada yang mendengarkannya.

Suatu hari seorang pemabuk tua mencuri sepotong ayam dari penginapan. Pemilik penginapan mengejarnya dengan membawa pisau sambil berteriak. Dia menangkap pemabuk dan hampir menusuknya, ketika Raja, dengan kedok seorang pria miskin mencegah pemilik penginapan itu. Raja berkata: “Saya akan membayarnya”, dan pemilik penginapan itu berkata bahwa bukan hanya uang yang harus dibayar, tetapi dia juga ingin memotong setidaknya satu jari sang pencuri. Raja berkata dia akan membayarnya juga. Tanpa berpikir dua kali, pemilik penginapan memotong salah satu jari raja. Dengan rasa sakit luar biasa, raja berusaha untuk tenang. Sementara itu sang pemabuk yang selamat dari hukuman meninggalkan kerumunan orang dan menghilang.

Sang Raja menghadapi kesulitan yang sama pada banyak kesempatan, mengakibatkan hilangnya beberapa gigi dan uang, konflik yang berkelanjutan dengan banyak orang, dan banyak kesengsaraan lainnya yang mengakibatkan beberapa penderitaan. Sedikit demi sedikit, beberapa orang tersentuh atas perilakunya yang bajik dan membatalkan sumpah bodoh mereka.

Suatu hari, ketika Raja (selalu mengenakan pakaian sederhana) sibuk menjelaskan fakta kepada orang-orang, meyakinkan mereka untuk membatalkan sumpah jahat mereka dan mencari kebajikan dalam diri mereka sendiri, ia bertemu dengan seorang pria bersenapan, yang mengarahkan senjatanya ke arahnya dan mulai berteriak penuh kebencian. Awalnya sang Raja merasakan takut di hatinya, tetapi beliau menenangkan diri dan bertanya kepada pria itu dengan ramah.

Pria itu terus meneriakkan kalimat penuh kebencian. Berusaha bersikap tenang dan lembut, sang Raja memberitahunya fakta tentang sumpah. Laki-laki itu dikejutkan oleh sikap tulus dari orang di hadapannya, tetapi dia sedang tidak waras, dan kegilaan membunuh mulai muncul di dalam dirinya. Sambil mencoba menekan amarah dan gelisah dengan canggung, ia menembakkan senapan ke arah sang Raja.

Suara panik dan jeritan bergema di seluruh penginapan, kemudian hening selama beberapa detik. Ajaibnya, sang raja berdiri terhuyung dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Peluru itu hanya menyisakan goresan kecil di dekat bahunya. Setelah melihat ini, pria dengan senapan mulai menangis. Merasa lega luar biasa, dia membatalkan sumpahnya, menjatuhkan senapannya dan pulang dengan wajah cerah.

Kemudian, setelah sebagian besar orang menanggalkan sumpah jahat dan situasi secara keseluruhan berangsur membaik (meski beberapa masih ada yang melawan), tibalah waktunya pengadilan oleh langit.

Dalam sekejap ilusi tersapu, sang Raja muncul kembali dengan jubah kerajaannya yang terang berwarna emas berkilauan. Semua orang menangis dan mengakui raja mereka. Sang Raja akhirnya mengenali dan ingat dirinya dahulu. (pureinsight.org/bud/may)