Budi Pekerti

Satu Tahun Tiga Musim: Apa yang Coba Konfusius Ajarkan Pada Muridnya

Konfusius ( screenshot @ Storyblocks)
Konfusius ( screenshot @ Storyblocks)

Di Qufu kota kelahiran Konfusius beredar sebuah cerita :  Pada suatu hari murid Konfusius sedang berada didepan rumah menyapu, seorang tamu datang berkunjung dan bertanya : “Siapakah engkau?”

Murid Konfusius dengan bangga berkata: “Saya adalah murid Konfusius!”

Tamu ini kemudian berkata, “Oh bagus, bolehkan saya mengajukan sebuah pertanyaan?”

Murid Konfusius dengan gembira berkata, “Boleh!”  didalam hatinya dia berpikir : pertanyaan apakah yang akan ditanyakan?

Tamu ini berkata, “Sebenarnya satu tahun ada berapa musim sih?”

Murid Konfusis didalam hatinya sangat geli, pertanyaan seperti ini apakah pantas ditanyakan? Lalu dia menjawab :”Musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin, empat musim.”

Tamu menggeleng-gelengkan kepala berkata, “Tidak benar, satu tahun ada tiga musim.”

“Ah, Anda pasti keliru, ada empat musim!”

“Tiga musim!’

Akhirnya mereka berdua mulai bertengkar, dan memutuskan akan bertaruh : Jika empat musim, tamu akan menyembah kepala 3 kali kepada murid Konfusius. Jika 3 musim, maka murid Konfusius harus menyembah 3 kali kepada tamu.

Murid Konfusius didalam hatinya bergembira sekali ini pasti saya yang menang, lalu dia bersiap-siap akan mengantar tamunya bertemu dengan Konfusius.

Kebetulan saat ini Konfusius keluar dari rumah berjalan ke halaman, murid lalu menyongsong Konfusius dan bertanya, :”Guru, satu tahun ada berapa musim?”.

Konfusius memandang ke tamu lalu menjawab, :” Satu tahun ada 3 musim.”

Muridnya sangat kaget hampir pingsan, tetapi tidak berani membantah.

Tamu ini bergegas berkata, “Menyembah saya, menyembah saya!”

Murid Konfusius tidak punya pilihan, akhirnya dengan patuh menyembah 3 kali.

Setelah tamunya pulang, muridnya tidak sabar bertanya kepada Konfusius, “Guru, yang jelas satu tahun ada empat musim, kenapa guru mengatakan hanya 3 musim?”

Konfusius berkata, :”Apakah engkau tidak melihat seluruh badan orang tersebut berwarna hijau? Dia adalah belalang, belalang lahir dimusim semi, musim gugur sudah mati, dia selamanya tidak pernah melewati musim dingin, engkau mengatakan 4 musim apakah dia dapat menerima, jika engkau mengatakan ada 4 musim maka dia akan berdebat denganmu tidak habis-habisnya karena tidak masuk di akalnya. Engkaulah yang rugi. Kamu menyembahnya 3 kali, tidak masalah daripada menghabiskan waktu.”

Sebenarnya dari kisah diatas kita juga bisa mendapatkan banyak pelajaran yang berguna. Setiap kita memandang ke langit, alam semesta tak terbatas yang tidak diketahui, bukankah kita juga akan seperti serangga musim panas yang hidupnya tidak lama. Tetapi selama kita tahu keterbatasan kita, dengan selalu menjaga toleransi, kerendahan hati , maka kita dapat terus memecahkan keterbatasan kita untuk mencapai pemahaman yang lebih tinggi.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI