Budi Pekerti

Seekor Anjing Mengubah Kehidupan Tukang Jagal

Laocai adalah seorang tukang jagal yang telah membunuh banyak hewan. Suatu hari, tetangganya, Laowang, membawakannya seekor anjing hitam. Laowang mengatakan dia menemukan anjing tersebut di gunung dan ingin Laocai menyembelihnya. Anjing itu memiliki bulu hitam di seluruh tubuh, dengan hanya sedikit bulu putih di antara alisnya, yang menyerupai mata ketiga.

Laocai memasukkan anjing itu ke dalam kandang dan melanjutkan pekerjaannya. Sore harinya, dia siap menangani anjing itu. Ketika dia mengeluarkan anjing itu, dia memperhatikan bahwa anjing itu sangat kalem. Sebagian besar hewan akan berontak dan melolong saat mau disembelih. Ketika istri Laocai, Sue, keluar dan memandangi anjing itu, dia memperhatikan bahwa perutnya sedikit bengkak, jadi dia menyentuhnya dan berkata:

“Dia lagi bunting, lepaskan dia kembali ke tempat asalnya”.

Laocai membawa anjing itu kembali ke gunung dan berkata: “Pergilah dan jangan tertangkap lagi”.

Di malam hari, ketika Laowang datang untuk mengambil anjingnya, Laocai meminta maaf, dan menawarinya sebotol anggur yang baik untuk menebus kehilangannya.

Tahun berikutnya saat festival musim semi, seorang pendeta Tao tua berhenti di rumah Laocai untuk meminta air. Laocai memberikannya, dan mereka terlibat perbincangan sehari-hari. Lalu Sang Tao tua itu berkata:

“Kamu tidak punya anak, kan?” Laocai mengangguk pelan. Sang Tao tua menjawab, “Tubuhmu sarat dengan Qi jahat. Ketika anda bertambah tua, kemalangan akan terjadi” .

Setelah mendengar ini, Laocai berlutut dan memohon bimbingan. Sang Tao berkata:

“Kamu telah mengambil terlalu banyak nyawa sehingga mengumpulkan karma buruk dalam jumlah besar, jadi berhentilah membunuh untuk membersihkan karma buruk. Setelah itu, lakukan perbuatan baik” .

Setelah Tao itu pergi, Laocai berhenti menjadi tukang daging, dia dan istrinya menjadi vegetarian dan mengabdikan hidup mereka untuk membantu orang lain. Pada musim gugur, Sue hamil.

Ketika musim semi datang lagi, Sue akan melahirkan bayinya. Laocai menghubungi bidan dan menyiapkan segalanya untuk anggota keluarga baru. Pada hari Sue siap melahirkan, bidan membawanya ke kamar tidur untuk melahirkan. Setelah beberapa saat, bidan keluar dengan panik dan memberi tahu Laocai bahwa istrinya mengalami distosia (kelahiran yang sulit, biasanya disebabkan oleh janin yang besar atau posisi tidak tepat, oleh kecilnya panggul ibu, atau oleh kegagalan rahim dan serviks berkontraksi dan berkembang secara normal) yang mengancam jiwa.

Laocai merasa sangat pusing sehingga dia duduk di atas batu dan tidak bergerak sampai dia mendengar gonggongan. Setelah itu, dia mendengar tangisan bayi. Bidan kemudian keluar untuk memberi selamat kepadanya, mengatakan bahwa ia memiliki bayi laki-laki, dan ibu dan anak baik-baik saja.

Sue kemudian memberi tahu Laocai bahwa saat melahirkan, dia pingsan dan mendapati dirinya dalam kabut tebal yang dikelilingi oleh banyak binatang. Dia akan dibunuh oleh seekor banteng, ketika seekor anjing hitam dengan mata ketiga muncul dan mengusir semua binatang. Anjing itu membawanya keluar dari kabut tebal dan kemudian berubah menjadi seorang Tao dan menghilang. Sue sadar kembali setelah mimpinya dan melahirkan putra mereka.

Laocai dan Sue mengerti betapa beruntungnya mereka, dan bertekad untuk melakukan lebih banyak perbuatan baik, sehingga mereka menjadi dermawan terkenal di desa mereka. Putra mereka tumbuh, menikah, dan memiliki empat putra. Laocai berumur panjang, tidak menderita penyakit apa pun, dan meninggal karena usia tua dikelilingi oleh keluarga yang disayanginya.