Individu tertentu tampaknya dilahirkan dengan bakat “membaca orang”, menangkap getaran orang lain, atau kecerdasan sosial. Tetapi bagi kebanyakan dari kita, itu adalah sesuatu yang perlu dipelajari.
Kaisar Tiongkok kuno dan pejabat tinggi pengadilan memahami seni membaca orang. Melihat karakter dan kepribadian seseorang serta melihat sekilas nasibnya dianggap sangat membantu. Tidak seperti hari ini, mereka tidak peduli dengan penampilan fisik seseorang, tetapi mereka bisa memahami aura mereka.
Orang dengan Aura yang Mengesankan
Cao Cao adalah seorang panglima perang Tiongkok, dan sebagai salah satu tokoh sentral dari periode Tiga Kerajaan, dia meletakkan dasar untuk apa yang akan menjadi negara Wei. Cao Cao berencana untuk menerima utusan Hun yang mewakili orang nomaden yang tinggal di Asia Tengah.
Karena Cao Cao bertubuh pendek tanpa fitur yang menonjol atau mengesankan, dia memerintahkan pejabat istana yang tinggi dan tampan Cui Jigui untuk berdiri di sampingnya. Saat menerima utusan Hun, Cao Cao berdiri di samping Cui Jigui, memegang pedang. Ketika utusan itu kembali ke rakyatnya, mereka bertanya tentang kesannya terhadap Raja Wei. Utusan itu menjawab: “Raja itu bermartabat dan anggun, tetapi yang berdiri di sampingnya dengan pedang adalah seorang pejuang pemberani.”
Orang yang Bisa Melihat Bakat
Penyair legendaris Tiongkok Li Bai meninggalkan kampung halamannya untuk pertama kalinya dan melakukan perjalanan ke ibu kota, Chang’an. He Zhizang, penyair Tiongkok terkenal lainnya pada saat itu, mengunjungi Li Bai dan meminta agar dia membawakan salah satu puisinya untuk dibaca. Jadi Li Bai mengeluarkan salah satu puisinya: ‘Kesulitan Jalan Shu’ dan memberikannya kepada He Zhizang.
Zhizang bahkan belum selesai membaca puisi itu sebelum dia mulai memuji Li Bai atas tulisannya. Kemudian, Zhizang mengeluarkan liontin kura-kura emas yang dia kenakan dan menjanjikannya kepada Li Bai sebagai ganti anggur, yang dia minum dengan gembira bersamanya.
Orang yang Menunjukkan Kebaikan
Atribut kebaikan membawa kebahagiaan bagi orang lain dan kegembiraan bagi hidup sendiri. Li Shutong adalah seorang biksu Buddha, seniman, dan guru musik pada akhir abad ke-19. Selama kelas, dia memperhatikan seorang siswa membaca buku siswa lain sementara siswa kedua meludah di lantai.
Setelah kelas usai, Li Shutong meminta kedua siswa itu untuk tetap tinggal. Dia memberi tahu mereka: “Lain kali jangan membaca buku orang lain atau meludah di kelas.” Kedua siswa itu ingin membantah, tetapi Li Shutong membungkuk kepada mereka, dan keduanya tiba-tiba merasa malu. Kebaikan memiliki efek yang bertahan lama.
Orang-orang dengan Hati dan Karakter yang Baik
Secara umum, menghargai orang berarti memahami karakter mereka. Moralitas seseorang menentukan untuk menyaksikan sifat mereka dalam tindakan. Orang dengan karakter yang baik selalu mengungkapkan perhatian dan simpati kepada orang lain. Hati welas asih dan kebaikan mereka memiliki efek yang menawan. Mereka melakukan hal-hal secara rasional tanpa menarik perhatian pada diri mereka sendiri, dan tindakan mereka memperbaharui kepercayaan kita pada umat manusia.(nspirement)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini
Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations
VIDEO REKOMENDASI
