Saat merintis bisnisnya Honda selalu diliputi kegagalan.
Ia sempat jatuh sakit keras, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah, pabriknya dibom karena perang, kena gempa bumi, kehabisan uang. Namun ia terus membangun mimpi, bangkit, dan bangkit lagi…
Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya.
Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.
Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda – Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang.
Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian dan sepeda, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi catut untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.
Di situ, ia dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan mesin pesawat terbang.
Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda dengan model rem kaki.
Karena keluarganya miskin, ia tidak meneruskan sekolah di usia 15 tahun. Honda hijrah ke Tokyo, bekerja sebagai mekanik di Art Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh.
Pada zaman itu, velg mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan velg itu dengan logam. Hasilnya luar biasa. Velg logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.
Setelah menciptakan velg logam, Honda ingin membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan ring Piston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938.
Soichiro Honda bekerja tujuh hari selama seminggu, tiga puluh hari selama satu bulan, bahkan ia sering tidur di bengkelnya. Ketika uangnya mulai habis dan kesuksesan belum terlihat, ia menggadaikan perhiasan istrinya untuk dijadikan modal kerja. Akhirnya tiba dimana Shoiciro Honda menyelesaikan ring piston itu dan membawanya ke Toyota.
Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual.
Tak lama, Honda juga mengalami kecelakaan dan sakit cukup serius. Setelah sembuh, ia kembali memikirkan ring pistonnya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah, karena terlalu sibuk bekerja. Kepada rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah, melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.
Berkat kerja kerasnya, desain ring Piston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, namun untuk memenuhi kontrak produksi itu, Honda harus mendirikan produksi. Malangnya, niatan itu kandas. Ia tidak mendapatkan modal dari bank karena saat itu Jepang sedang dilanda perang. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik.
Lagi-lagi musibah datang. Di tengah perang, pabriknya dibom dua kali oleh musuh Jepang yaitu Amerika dan terbakar habis.
Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Pabrikpun berdiri kembali.
Tanpa diduga, gempa bumi menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik ring Pistonnya ke Toyota.
Akhirnya, tahun 1945, setelah perang Jepang berakhir, kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Bensin sangat langka, sehingga mobil Toyota tidak laku. Kemana-mana orang Jepang saat itu hanya bisa berjalan kaki atau naik sepeda.
Honda melihat ini sebagai sebuah peluang, ia bermimpi… bagaimana untuk menambah tenaga pada sepeda agar dapat menempuh perjalanan jauh ?
Ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” itu diminati oleh para tetangga. Toko sepeda juga tahu, mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Ingin mendirikan pabrik untuk memenuhi pesanan, tapi ia tidak punya uang lagi.
Akhirnya ia menulis kepada 18.000 toko sepeda untuk meminta mereka membayar di muka setiap pesanan, agar ia dapat mempunyai modal untuk mendirikan pabrik. Akhirnya ia dapat mendirikan pabrik motor pertama.

Kemudian pabriknya juga mulai memproduksi mobil. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia.
Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. Ia berujar:
Sukses mewakili 1% dari pekerjaan yang merupakan hasil dari 99% kegagalan.
Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu bangunlah mimpi, mulailah bangkit, dan bangkit lagi.
Inilah yang menjadi tagline logo perusahaan Honda sekarang: “Power of Dreams”, Sukses adalah dibangun dari mimpi, dan tentunya kerja keras dan semangat pantang menyerah. (©globalhonda/chr)
