Jika anda tidak dapat mengendalikan situasi yang sulit, bagaimana anda mengatasinya? Mengatasi hal sulit melibatkan penerapan energi mental dan emosional anda untuk mengelola ketegangan yang terkait dengan tantangan yang dihadapi.
Psikolog telah mengidentifikasi tiga strategi penanggulangan yang biasanya diandalkan:
- Kita memotivasi diri melalui berpikir dalam upaya mencapai kinerja terbaik kita.
- Pikiran ini menciptakan energi emosional yang kita butuhkan untuk bergerak maju dan tetap berada dijalur.
- Kita mengambil tindakan sebagai tanggapan atas perasaan kita dan ulangi langkah 1 dan 2 seperlunya.
Masalah muncul saat anda tidak mengikuti aturan diatas; ketika anda bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu atau membiarkan emosi negatif menghalangi anda. Apa pun kasusnya, anda nantinya akan menyesal karena tidak berpikir terlebih dahulu.
Dan emosi itu tidak perlu berupa hasrat yang kuat. Hati yang tenang dan jernih bisa menjadi titik awal yang paling kuat untuk setiap tindakan yang berarti.
Mengatasi Masalah dengan Berfokus pada Makna
Ini adalah strategi yang paling andal. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa pikiran, bukan keadaan, yang menciptakan emosi. Apapun yang terjadi pada anda tidak ada artinya sampai anda bereaksi. Ilmuwan (dan orang bijak kuno) percaya anda mungkin tidak pernah membutuhkan strategi kedua atau ketiga jika anda memanfaatkan pikiran anda dengan sebaik-baiknya.
Ketika sesuatu terjadi, Anda mengatasinya dengan berpikir terlebih dahulu untuk bereaksi pada keadaan anda. Dengan berpikir, maka akan membantu anda mengatasinya dengan baik. Dalam banyak budaya, ini berarti memperluas pikiran anda untuk mempertimbangkan implikasi yang lebih luas dari suatu peristiwa, atau menyelaraskan pemikiran anda tentang hal itu dengan nilai-nilai yang lebih dalam, seperti kebaikan dan keyakinan.
Psikolog Abraham Maslow menyebut ini sebagai meta-motivasi untuk meninjau keadaan. Anda bangkit diatas keadaan anda.
- Kenali apa yang paling penting dan kemudian berikan makna yang lebih baik pada situasinya.
- Hindari menghakimi. Berpikirlah dengan cara yang tidak negatif (realistis + optimis).
- Carilah jalan tengah yang cocok antara apa yang mungkin dan apa yang ideal.
Orang yang menggunakan strategi ini mungkin tampak dari luar seolah-olah mereka menyendiri atau tidak terpengaruh oleh tantangan. Namun didalam hati, mereka menjaga diri sendiri dengan mengandalkan emosi positif, optimisme, antusiasme, syukur, percaya diri, dan kepuasan. Kita mengagumi orang-orang ini karena ketangguhannya yang tenang.
Mengatasi dengan Berfokus pada Emosi
Orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang penanganan yang berfokus pada makna seperti yang dijelaskan sebelumnya, menangani masalah dengan berfokus pada emosi. Ini mengabaikan perasaan anda ketika situasi sulit terjadi. Ini seperti membuat diri anda mati rasa terhadap dunia yang berada disekitar anda.
Orang salah mengira bahwa emosi yang tidak diinginkan disebabkan oleh keadaan yang terjadi pada mereka. Hal ini menyebabkan cara mengatasi yang sebagian besar tidak efektif, seperti penyangkalan (mengabaikan situasi atau menghindari kenyataan), menunda-nunda, pengalihan (TV, obat-obatan, dll), dan berkhayal (misalnya berpikir waktu bisa diputar kembali, dll)..
Setelah mengatasi dengan cara ini, seiring berjalannya waktu, beberapa orang perlahan-lahan bisa menerima keadaan mereka dan mulai menghadapinya. Tetapi pada saat ini terjadi, masalahnya mungkin sudah semakin parah. Ini bukan cara yang ideal untuk mengatasi masalah, tetapi cara ini bekerja ketika tidak ada cara lain yang mungkin.
Orang yang mengatasi dengan cara ini merasa nyaman dengan mengabaikan atau meminimalkan keseriusan masalah mereka. Mereka mungkin tampak terpukul atau putus asa dan tidak menyadari bahwa tindakan mereka secara tidak sengaja dimotivasi oleh rasa takut, khawatir, iri, ragu, dan marah. Kita terkadang merasa kasihan pada orang-orang ini.
Mengatasi dengan Berfokus pada Masalah
Mirip dengan strategi sebelumnya, yang satu ini didasarkan pada pemikiran yang salah bahwa keadaan anda menyebabkan emosi. Mengatasi melibatkan mengambil tindakan terlebih dahulu untuk menyelesaikan masalah sebelum emosi yang tidak diinginkan terjadi.
Strategi ini bisa saja berhasil. Tetapi jika anda tidak dapat menyelesaikan masalah, anda akan menjadi kecil hati dan menyerah terlalu cepat. Anda kekurangan motivasi untuk bertahan karena anda tidak melakukan hal pertama untuk menciptakan emosi yang paling tepat untuk membantu anda.
Pendekatan ini adalah tentang adanya tindakan dan biasanya melibatkan beberapa langkah yang tampaknya rasional:
- Rencanakan bagaimana anda akan menangani situasi tersebut.
- Pemecahan masalah untuk mengidentifikasi pendekatan terbaik.
- Mintalah bantuan dari orang lain yang memiliki pengalaman dalam menangani situasi seperti yang anda alami.
- Tegaskan pendapat anda tentang apa yang ingin Anda lihat dalam situasi ini.
- Tetapkan batasan agar situasi yang sama tidak terjadi lagi.
Ketika anda mengambil tindakan sebagai langkah pertama, anda mungkin berakhir dengan solusi yang salah, menyelesaikan masalah dengan cara yang salah, atau membuang-buang energi emosional anda untuk hal-hal yang mungkin anda sesali dikemudian hari. Ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan anda, anda menjadi tidak sabar dan frustrasi.
Kesimpulannya, strategi mengatasi yang paling efisien adalah yang berfokus pada makna. Pikirkan terlebih dahulu untuk memberi energi pada motivasi anda untuk mengatasi dengan emosi yang paling membantu. Hal ini tidak hanya meningkatkan perasaan anda, tetapi juga meningkatkan kemampuan pemecahan masalah anda.
Seperti kutipan Keanu Reeves ini. “Anda tidak bergumul dengan depresi, Anda bergumul dengan kenyataan yang kita jalani”. Makna yang kita berikan menciptakan apa yang kita anggap nyata dan itulah cara kita menghindari depresi. Dengan terlebih dahulu mengubah cara berpikir kita. (visiontimes/bud/ch)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
