Ada orang yang berkata mengemudikan mobil bila tidak pernah mendapatkan surat tilang, maka orang tersebut masih belum terhitung sering berkendara. Tapi saya pernah punya pengalaman unik yang berhubungan dengan surat tilang.
Kisahnya berikut ini….. pada suatu hari ketika saya hendak pergi menjenguk seorang teman yang sedang sakit, sepanjang perjalanan saya terus berpikir harus bagaimana menghibur teman saya itu, harus bagaimana berdoa bersama dia, sehingga di dalam hati saya penuh dengan “hati berbelas kasih”.
Tepat pada saat itu, saya melihat sebuah mobil polisi sedang berada tepat di belakang mobil saya, dengan membuka lampu dan membunyikan sirine, ketika itu saya baru sadar di dalam ketidaksengajaan saya telah melampaui batas kecepatan.
Saya memberhentikan mobil di pinggir jalan, dari kaca spion saya melihat seorang polisi berjalan menuju ke mobil saya. Hati saya langsung deg-deg-an.
Saya menurunkan kaca mobil, polisi itu berkata kepada saya, “Bolehkah saya melihat SIM dan STNK mobil Anda?”
Saat itu saya hendak pergi menjenguk teman saya, dalam hati saya penuh dengan kasih dan lembut, maka dari itu saya langsung merespon dengan nada lembut, “Ya, pak polisi.”
Ketika saya sodorkan surat-surat itu sembari bertanya kesalahan saya, raut wajah polisi itu segera menjadi tenang dan dia berkata, “Anda telah melampaui batas kecepatan.”
Saya berkata, “Maafkan, saya telah berbuat kesalahan.” Di luar dugaan, polisi itu berkata kepada saya, “Semua orang bisa melakukan kesalahan yang sama.”
Dia berjalan kembali ke mobil dinasnya dia menulis sesuatu lalu mengembalikan SIM dan STNK serta berkata kepada saya, “Ini adalah sebuah surat teguran, jangan melampaui batas kecepatan lagi”.
Saya mengucapkan maaf dan kemudian berterima kasih kepada pak polisi.
Saya sangat beruntung telah lolos dari “bencana surat tilang”, setelah kejadian, saya kembali mengingat-ingat jalannya peristiwa…
Saya rasa mengapa polisi itu hanya memberikan teguran dan bukan surat tilang, letak persoalannya ada pada kalimat pertama yang saya ucapkan, “Ya, pak polisi.”
Kedua kata tersebut mewakili “hormat dan patuh” kepada polisi, maka ketika polisi itu mendengarkan kata-kata tersebut, raut wajah dari polisi yang semula sangat serius itu segera berubah menjadi lembut.
Pekerjaan sebagai seorang polisi sangat menjengkelkan, setiap hari harus berurusan dengan setumpuk persoalan yang tidak menyenangkan hati, bahkan terkadang masih harus berdebat dengan orang yang melanggar peraturan. “Beruntung” bertemu dengan seseorang yang bisa menghormati dan patuh kepada mereka, tentunya mereka bisa mendapat perasaan yang berbeda, maka dari itu juga bisa muncul reaksi yang berbeda pula. Oleh sebab itu surat tilang berubah menjadi surat peringatan.
Masalah “surat tilang berubah menjadi teguran”. Inspirasi yang telah diberikan oleh masalah ini kepada saya bukanlah “bagaimana mengubah surat tilang menjadi teguran” itu sendiri, tetapi adalah sebuah prinsip menjadi manusia yakni “bagaimana kita bisa menghormati orang lain”.
Jika kita bisa menghormati orangtua, suami, isteri dan anak-anak, maka kita bisa hidup gembira bersama dengan mereka. Jika kita bisa menghormati teman, sejawat, atasan dan anak buah, maka kita akan bergaul sangat cocok dengan mereka.
Karena asalkan di dalam hati kita ada rasa menghormati, dengan sendirinya kita bisa membatasi diri sendiri, tidak mengajak debat orang lain, tidak mudah dengan semaunya melanggar hak dan kepentingan orang lain, sebaliknya, bisa menyadari kesulitan dari orang lain, serta bisa mengeluarkan niat kebaikan diri sendiri.
Maka setelah Anda membaca artikel ini, yang terpenting bukanlah memikirkan “bagaimana mengubah surat tilang menjadi surat peringatan”, melainkan harus berpikir “bagaimana menghormati orang lain”, agar supaya kehidupan kita menjadi lebih lancar dan lebih berbahagia. (The Epoch Times/lin)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

