Ada sebuah kisah dari masa Dinasti Qing oleh seorang cendekiawan tersohor bernama Ji Xiaolan (紀曉嵐). Dia menulis tentang seorang sarjana yang tidak pernah berhasil lulus ujian kekaisaran.
Sarjana itu tidak punya pilihan selain bekerja sebagai guru di sekolah swasta dan tetap miskin sepanjang hidupnya. Di satu titik, cendekiawan itu menderita penyakit fatal. Suatu malam, dalam mimpinya, dia mendapati dirinya berada di alam baka.
“Akankah saya mati karena penyakit ini?” tanyanya pada seorang pejabat di sana, yang ternyata adalah teman lamanya. “Hidupmu belum berakhir, tetapi kau sudah tidak memiliki buah kebajikan. Saya khawatir anda akan segera dipindah ke neraka”, jawab temannya. Si cendekiawan bingung, “Saya tidak melakukan kejahatan apa pun. Saya hanya menghidupi keluarga saya melalui mengajar. Mengapa saya kehabisan buah kebajikan?” tanyanya.
Temannya menghela nafas panjang, “Anda telah mengambil uang sekolah dari siswa anda, tetapi belum pernah mendidik mereka dengan serius. Anda tidak bertanggung jawab dan belum membimbing mereka dengan baik, baik secara akademis maupun moral”.
“Alam baka telah menyimpulkan bahwa anda telah melakukan pemborosan dan belum memenuhi peran anda sebagai seorang guru, jadi buah kebajikan anda diambil sebagai kompensasi terhadap perilaku anda. Ini yang menyebabkan anda kehabisan buah kebajikan sebelum takdir hidup anda berakhir”, jawabnya.
“Ada yang disebut ‘tiga penghargaan besar’, mengacu pada posisi ‘royalti’, ‘orang tua’, dan ‘guru’. Sebagai seorang guru, profesi anda memiliki tanggung jawab dan kehormatan besar, sehingga jika anda tidak melakukan pekerjaan dengan baik akan mendapatkan salah satu hukuman terberat; yang lebih serius dibanding mereka yang berada di profesi lain. Setiap bagian kompensasi dihitung dengan cermat dan buah kebajikan diambil sesuai dengannya”, jelas temannya.

“Sebagai contoh, seseorang pegawai negeri yang tidak melakukan tugasnya dengan baik akan kehilangan kesempatan untuk selamanya. Hal ini dihitung dengan sangat akurat.
Orang-orang mungkin melihatnya sebagai seorang cendekiawan berbakat dan pandai yang merasa nasibnya nestapa ketika miskin atau mati muda. Orang-orang seperti itu mengeluh tentang ketidakadilan dunia. Tetapi apa yang tidak mereka sadari adalah bahwa penderitaan seperti itu disebabkan oleh orang itu sendiri; dia tidak melakukan pekerjaannya dengan baik dan penuh tanggung jawab, tidak hanya mengejar peruntungan materi”, lanjut temannya.
Sarjana itu terbangun dari mimpinya dengan hati yang berat. Dia meninggal tidak lama kemudian akibat penyakitnya, tetapi sebelum meninggal, dia menceritakan mimpinya dengan keluarga dan teman-temannya dan memperingatkan mereka untuk tidak mengikuti jejaknya. Dia meminta mereka untuk mengabdikan diri pada peran mereka di dunia dan berusaha untuk menjadi orang baik.
Sebagai orang yang baik, kita harus merenungkan perilaku kita sendiri dan bagaimana kita dapat berdampak dan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita. Kebenaran dan moralitas adalah buah kebajikan, dan kurangnya kebajikan dapat membawa kemalangan bagi diri kita sendiri. Berbudi luhur adalah sumber kebahagiaan sejati! (visiontimes/judy-yang/bud/eva)
