Budi Pekerti

Tetaplah Rajin Belajar Saat Fajar dan Senja

©unsplash

Tiga Karakter Klasik adalah bacaan anak-anak yang ditulis oleh Wang Yinglin pada abad ke-13. Setiap baris buku terdiri dari tiga karakter, dan setiap empat kalimat membentuk sebuah kelompok. Anak-anak suka membaca syairnya. Buku ini juga sangat menarik untuk dibaca dan sangat mendidik. Buku ini menjadi teks pengajaran populer selama ratusan tahun. Versi Tiga Karakter Klasik saat ini hanya memiliki total 1.500 karakter, namun mencakup berbagai mata pelajaran termasuk etika, astronomi, geografi, sejarah dan pendidikan.

Sebagai contoh, buku Tiga Karakter Klasik mendidik anak-anak untuk rajin belajar. Disebutkan perumpamaan: “Anjing setia berjaga di malam hari dan senantiasa mengawasi rumah dari tamu tak dikenal, ayam jantan setia bertugas membangunkan di pagi hari dengan tekun, dan hewan peliharaan semuanya bersungguh-sungguh menjalankan tugas mereka. Jika kita sebagai manusia, gagal belajar dengan tekun dan membuat kemajuan, tetapi sebaliknya, hanya belajar asal-asalan, bukankah kita lebih buruk daripada hewan?

Mengenai cara belajar, dalam buku tertulis:

Penting untuk membaca dengan mulut tetapi berpikir dengan hati. Seseorang harus belajar di pagi hari, dan juga di malam hari. Seseorang harus gigih melakukan hal ini.

Di buku juga tertulis,“ Zhao Pu, seorang perdana menteri di era dinasti Song, masih membaca ‘Analis Konfusianisme’ dengan rajin setiap hari bahkan ketika dia sudah sangat tua. Dia masih tetap belajar meski sudah menjadi pejabat penting. “

“Tetaplah rajin saat fajar dan senja” digunakan untuk menggambarkan bagaimana orang harus rajin belajar dengan tekun. (clearharmony/eva)