Site icon NTD Indonesia

Tiga Kisah Kebaikan Hati

Kebaikan

Ilustrasi

Menurut ajaran Konfusius, pentingnya keluarga berpengaruh pada kesejahteraan negara. Dalam kitab “Zhou Yi” yang  juga dikenal sebagai “Classic of Changes”, dikatakan: “Ketika keluarga stabil, negara stabil.” Dan kitab “Classic of Rites” menyatakan, “Keluarga yang tertata ( dikelola dengan baik dan teratur) mewujudkan negara dengan pengelolaan yang baik.”

Banyak cerita klasik yang turun-temurun menjadi contoh akan pandangan orang-orang Tiongkok kuno tentang pentingnya keluarga dan kehidupan keluarga yang harmonis bagi masyarakat. Berikut ini beberapa di antaranya.

Memperlakukan Satu Sama Lain Dengan Rasa Hormat Laiknya Seorang Tamu

Cerita pertama mengisahkan tentang rasa saling menghormati dan penghormatan yang luar biasa seorang pria bernama Xi Que dan istrinya yang saling memperlakukan satu sama lain dengan penuh hormat.

Selama Periode Musim Semi dan Musim Gugur (770-476 SM), raja negara Jin mengirim salah seorang menterinya untuk mengunjungi daerah-daerah. Dalam perjalanan pulang, sang menteri melihat seorang petani sedang bekerja di ladang dan seorang wanita muda membawakan si petani bekal untuk makan siang.

Meskipun makanannya sederhana, wanita muda, yang tampaknya adalah istri si petani, menawarkan makanan  kepada si petani sambil kedua tangannya memegang bekal dengan cara yang sangat hormat.

Dengan perlakuan yang sama, si petani menerima bekalnya dengan sangat hormat. Dan sementara si petani makan, istrinya berdiri di samping menunggu dengan sopan.

Menteri sangat tersentuh dengan apa yang dilihatnya, dan dia berjalan ke arah pasangan tersebut untuk berbincang-bincang dengan mereka.

Nama si petani adalah Xi Que. Setelah sang menteri kembali ke Jin, dia minta bertemu dengan raja dan menceritakan raja tentang Xi Que dan istrinya.

“Menteri Anda mengamati Xi Que dan istrinya memperlakukan satu sama lain dengan penuh hormat, seolah-olah mereka adalah tamu satu sama lain,” katanya kepada raja.

“Yang Mulia, menteri Anda percaya bahwa saling menghormati seperti itu adalah manifestasi utama dari kebajikan, dan mereka yang berbudi luhur adalah kandidat terbaik untuk mengelola urusan negara.”

Dia sangat merekomendasikan Xi Que kepada raja, dan raja mengikuti sarannya dan menunjuk Xi Que untuk menduduki posisi penting di negara bagian Jin.

Xi Que melayani Jin dengan keberanian, kebijaksanaan, dan penghargaan besar. Dia kemudian dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi berturut-turut.

Kebaikan Seorang Menantu Perempuan Menyelamatkan Keluarganya

Kisah kedua terjadi pada era Dinasti Qing (1616-1911M) dan menceritakan seorang pria bernama Gu Cheng dan menantu perempuannya yang baik.

Gu Cheng memiliki seorang putra yang menikahi seorang wanita muda bermarga Qian.

Suatu ketika, ketika menantu Gu Cheng pergi mengunjungi orang tuanya, penyakit menular akut tiba-tiba menyebar ke kota tempat tinggal Gu Cheng. Epidemi menyebar dengan luas dan cepat, dan banyak orang meninggal.

Semua orang ketakutan, dan bahkan kerabat dekat tidak berani mengunjungi satu sama lain karena takut terinfeksi.

Sedihnya, Gu Cheng dan istrinya juga terinfeksi, yang diikuti oleh keenam putra dan putri mereka.

Ketika menantu Gu Cheng mengetahui berita ini, dia segera bersiap untuk kembali ke rumah suaminya demi mengurus keluarganya.

Namun, orangtuanya sendiri (karena sayang kepada putri mereka) mendesaknya untuk tidak pergi. “Kami khawatir kamu juga akan terinfeksi,” ujar mereka.

Putri mereka menjawab: “Ketika aku menikah dengan suamiku, maka sudah menjadi tugasku untuk melayani dan membantu ibu dan ayah suamiku dan keluarganya. Mereka sekarang dalam bahaya besar. Jika aku tidak kembali merawat mereka, bukankah itu adalah perilaku yang egois dan tidak manusiawi? ”

Menantu perempuan Gu Cheng akhirnya berhasil meredakan kekhawatiran orangtuanya, dan langsung kembali ke kampung halaman suaminya.

Segera setelah dia kembali, secara ajaib, kedelapan anggota keluarga Gu Cheng tiba-tiba pulih dari penyakit.

Orang-orang setempat percaya bahwa kebaikan si putri mertua dan sifat berbaktinya menggerakkan para dewa sehingga mereka melimpahkan berkat ini kepada seluruh keluarganya.

Pertemuan Dua Bersaudara dengan Bandit

Cerita lain yang mengisahkan tentang cinta dan pengabdian luar biasa di antara saudara kandung terjadi di era Dinasti Han (206 SM ? 220M).

Kisahnya tentang seorang pria bernama Zhao Xiao dan adik laki-lakinya, Zhao Li, saudara kandung yang sangat baik dan setia satu sama lain.

Pada suatu tahun, kelaparan melanda kota asal mereka dan sekelompok bandit kanibal menculik Zhao Li dari rumahnya dan membawanya ke tempat persembunyian mereka di pegunungan, berencana untuk memakannya.

Zhao Xiao mengejar para bandit ke tempat persembunyian mereka dan berkata kepada mereka: “Saudaraku tidak sehat, dia juga kecil dan kurus. Jadi tidak enak dimakan. Aku sehat dan kuat, dan aku bersedia menggantikannya untuk dimakan.”

Namun, Zhao Li tidak setuju dengan saudaranya.

“Akulah yang ditangkap oleh mereka. Ini adalah takdirku. Tidak ada alasan bagimu untuk menggantikanku, saudaraku,” ujar Zhao Li.

Sesaat kedua saudara lelaki itu saling berpelukan, keduanya menangis.

Melihat perlakuan mulia kedua bersaudara itu, para perampok sangat tersentuh sehingga mereka melepaskan keduanya.

Kaisar kemudian mengetahui tentang kejadian ini dan mengeluarkan dekrit untuk menunjuk Zhao Xiao dan Zhao Li untuk mengisi posisi pemerintah di istananya. (epochtimes/eva)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

https://youtu.be/sCfUpq6hDVA