Budi Pekerti

Tingkatkan Penampilan Anda Secara Alami dengan Mengubah Pikiran Anda

Wanita tua
Wanita tua. @Pexels

Sebelum usia 40 tahun, sebagian besar penampilan seseorang ditentukan oleh genetika. Namun setelah usia 40 tahun, pengalaman dan kondisi pikiran seseorang berdampak besar pada penampilan dan kepribadiannya. Karena temperamen seseorang tercermin dalam penampilan dan perilakunya, anda dapat mengubah bagaimana anda dipersepsikan oleh orang lain dengan mengubah temperamen anda, dan meningkatkan penampilan anda secara alami.

Orang yang cerewet sering cemberut dan terlihat tegang. Orang yang tidak sabar cenderung memiliki mata yang panik dan kurang tenang. Orang yang memperlakukan orang lain dengan baik akan menampilkan senyum alami, membuat orang lain merasa nyaman. Seseorang yang ramah akan terlihat lembut dan hangat secara alami.

Tetapi kecantikan fisik dari wajah yang menarik dan kecantikan dari dalam dari pikiran yang tenang dan hati yang baik bisa dibedakan seiring berjalannya proses waktu.

Orang yang tampan tanpa kepribadian yang baik atau kehalusan budaya pasti memiliki daya tarik yang terbatas; penampilannya akan menurun seiring bertambahnya usia. Orang yang berpenampilan biasa, yang memperlakukan orang lain dengan baik dengan murah hati dan senyuman, menyenangkan mata dan menikmati kecantikan yang abadi.

Sebuah legenda Tiongkok kuno menunjukkan konsep ini.

Legenda Menunjukkan Bagaimana Anda Dapat Meningkatkan Penampilan Anda Secara Alami

Pernah hidup seorang pematung terampil yang suka membuat setan dan monster. Ciptaannya sangat hidup dan nyata.

Suatu hari, dia melewati sebuah danau. Danau itu indah dan permukaannya seperti cermin. Ketika dia melihat kedalamnya, dia tiba-tiba menyadari bahwa dia terlihat jauh lebih jelek daripada dua tahun yang lalu. Raut wajahnya tampak sedikit berubah, tetapi kulitnya tampak pucat dengan rona putih kehijauan seolah-olah sedang sakit dan lelah; dan matanya mengancam, tidak menentu, dan tercela.

Pematung menjadi panik dan menjadi gelisah, tertekan dan curiga. Dia kehilangan nafsu makan, melayang dan terombang-ambing di malam hari, dan menderita mimpi buruk, takut dia akan segera mati.

Sejak dia magang, dia mendengar dari orang-orang di desanya bahwa ada seorang biksu senior di sebuah kuil di pegunungan terdekat yang dapat menyembuhkan semua penyakit dan meringankan semua makhluk hidup dari masalah mereka. Karena dia tidak pernah percaya pada agama Buddha dan secara fisik kuat dan sehat sebagai seorang anak, dia tidak pernah pergi kesana. Mengingat hal tersebut sekarang, dia buru-buru pergi ke kuil untuk mencari pengobatan dari sang biksu.

Biksu tua itu memang memiliki penampilan yang serba tahu dan hebat. Dia juga terlihat baik hati. Kecemasan pria itu berkurang setengahnya setelah melihatnya. Dia memberi tahu biksu tua itu semua tentang penyakitnya. Biksu tua itu mendengarkan dengan tenang. Pria itu kehabisan napas setelah selesai berbicara. Biksu itu menepuk pundaknya dan berkata, “Jangan khawatir, Tuan. Saya bisa membantu anda. Tapi ada satu syarat sebelum perawatan. Anda harus terlebih dahulu membuat seratus patung Buddha untuk saya”, dan dia mengarahkan jarinya ke sebuah patung Buddha didekatnya.

Keesokan harinya, pria itu bergegas mendaki gunung ke kuil dipagi hari dan mulai bekerja. Setelah memilih batu, ia mulai mengamati dan mempelajari penampakan dan rupa Sang Buddha, disertai dengan suara lonceng dan genta serta pembacaan kitab suci oleh para biksu. Setiap dua atau tiga jam, biksu tua itu akan meminta biksu muda untuk membawakan kepada pria itu semangkuk bubur beras merah, yang dengan hormat ia ambil dan minum, dan menganggapnya sangat lezat.

Sedikit kemajuan dibuat pada hari itu. Setelah hanya dua atau tiga pahat pada batu yang dipilih, hari sudah gelap. Karena lelah, dia pulang dari gunung dan langsung tidur. Keesokan paginya, dia mendaki gunung dan melanjutkan pekerjaannya, mengamati patung Buddha dan memahat.

Hari demi hari, pengrajin menjadi lebih terampil, dan karyanya menjadi lebih indah. Dia mengukir lebih banyak patung dan menyelesaikannya lebih cepat dan lebih sempurna. Dekat dan jauh, pria dan wanita beriman yang baik datang untuk mengagumi patung dan pemujaan Buddha. Pejabat negara bagian dan kabupaten terdekat dan bangsawan pergi ke kuil untuk mengundang patung Buddha ke rumah untuk berdoa dan beribadah. Pengrajin itu sangat gembira dan bekerja lebih rajin dari sebelumnya.

Setiap hari saat pria itu masuk dan keluar dari kota, mendaki dan menuruni lereng di sepanjang jalan pegunungan dan bebatuan; dia menemukan pepohonan dan rerumputan, bunga dan burung, serangga dan binatang, matahari, bulan dan awan menjadi semakin akrab dan sayang.

Selama sepuluh tahun terakhir, pria itu selalu sibuk dengan pekerjaan dan jarang meninggalkan bengkelnya. Tapi sekarang dia secara bertahap berkenalan dengan keluarga, pedagang dan penjual di kota-kota dan desa-desa yang dia lewati. Dia sering membantu orang dalam perjalanan untuk menyampaikan pesan, membawa sesuatu atau membantu orang tua yang sibuk.

Banyak musim telah berlalu ketika dia akhirnya selesai memahat 100 patung Buddha. Patung itu begitu nyata dan hidup sehingga patung itu membuat orang melupakan kekhawatiran mereka dan hati mereka menjadi damai. Sang pengrajin kemudian mengunjungi sang biksu tua itu dan memintanya untuk menepati janjinya untuk menyembuhkan penyakitnya.

Biksu tua itu tersenyum, menepuk pundaknya, dan berkata, “Penyakitmu telah sembuh”. Sambil berkata demikian, dia menyerahkan cermin padanya.

Pria itu mengambil cermin dan memeriksa wajahnya. Sungguh luar biasa: fitur wajahnya tampaknya telah berubah sedikit, tetapi kulitnya cerah, wajahnya bermartabat, matanya damai dan tatapannya jernih. Dia menyadari bahwa memang sejak hari pertama dia mulai mengukir, nafsu makannya meningkat, dia makan dengan baik, dan setiap malam ketika dia pulang dari gunung, dia langsung tertidur dan tidak pernah mengalami mimpi buruk lagi. Namun selama ini ia hanya fokus pada ukiran 100 patung Buddha, tanpa memperhatikan perubahan tersebut.

Dia memegang cermin dengan gembira, dan kemudian melihatnya lagi dan lagi. Dia mendapati dirinya, selain rambut dan pakaiannya, terlihat sangat mirip dengan biksu tua bermata baik itu. (visiontimes)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.



VIDEO REKOMENDASI