Budi Pekerti

Yang Mana Angsamu?

@freepik

Suatu hari, seorang petani desa pergi ke kota dan membawa serta angsanya. Petani itu menginap di sebuah penginapan di kota dan minta tolong penjaga penginapan yang juga memiliki kandang angsa peliharaan untuk menitipkan angsa miliknya sementara dia pergi untuk bertemu rekan bisnisnya. Sekembalinya, petani pergi ke kandang angsa di belakang penginapan untuk mengambil angsanya kembali, dan saat itu terperangah akan sikap penjaga penginapan yang mendadak berubah menjadi tidak ramah.

Penjaga penginapan itu menjawab: “Anda menitipkan angsa? Saya tidak tahu apa-apa tentang itu. Semua angsa itu milikku”.

 “Hanya jika anda dapat membuktikan bahwa salah satu dari mereka adalah milik anda, anda dapat memilikinya; jika tidak, anda tidak dapat membawa angsa saya”.

Petani itu, kehilangan kata-kata, melaporkan kesulitannya kepada gubernur, Qian. Setelah mendengarkan cerita petani, gubernur memerintahkan anak buahnya untuk mengambil keempat angsa, dan mengamankan mereka di empat lokasi berbeda di belakang kantornya. Dia selanjutnya menginstruksikan anak buahnya untuk meninggalkan kuas, tempat tinta, dan selembar kertas pada setiap angsa yang berbunyi:

“Biarkan angsa angsa mengakui pemilik sah mereka”.

Berita ini dengan cepat menyebar, dan orang-orang berbondong-bondong ke kantor gubernur untuk melihat angsa-angsa itu. Ketika orang-orang menunggu, Qian bekerja dengan sabar di kantornya. Dia akhirnya keluar setelah beberapa jam, dan pergi mengunjungi setiap angsa.

Setelah mengunjungi satu persatu, gubernur menyatakan kepada orang-orang yang berkumpul di luar kantornya: “Angsa telah mengaku”. Dia menunjuk ke salah satu angsa dan memberi tahu petani yang berdiri di depan orang banyak:

“Yang itu milikmu; kamu bisa membawanya bersamamu”.

Kerumunan orang tersebut tercengang, dan mereka bertanya kepada gubernur bagaimana dia tahu angsa mana yang menjadi milik petani itu. Qian menjelaskan: “Kotoran angsa yang dibesarkan di kota ini berbeda dari yang dibesarkan di pertanian. Kotoran angsa yang dibesarkan di kota kekuningan, karena mereka diberi makan gandum, sedangkan kotoran angsa pertanian berwarna kehijauan, karena mereka biasanya memakan daun gulma”.

Setelah mendengar pernyataan ini, penjaga penginapan itu tiba-tiba menjadi pucat dan berlutut di hadapan Gubernur Qian, meminta pengampunan, dan orang-orang bertepuk tangan memuji kecerdasan gubernur Qian.

Catatan: Qian adalah gubernur kota tingkat Linjiang saat Dinasti Ming. Dia adalah pemimpin yang rajin dan jujur yang sangat memperhatikan rakyat di bawah tanggung jawabnya. (visiontimes/bud/ch)