Budi Pekerti

Zaman Ketika Belum Ada Cermin

Bercermin (Screenshot @Storyblocks)
Bercermin (Screenshot @Storyblocks)

Pada zaman ketika belum ada cermin, dunia sangat indah, manusia dengan penuh perhatian membantu orang-orang disekitarnya untuk menyisir rambut dan merapikan diri, dan orang yang dibantu sangat percaya kepada orang yang membantunya, semua orang hidup dengan gembira dan percaya diri.

Karena percaya kepada orang lain yang membantunya, sehingga tidak ada orang yang ingin melihat penampilan mereka sendiri- karena itu benar-benar tidak perlu, di era yang penuh perhatian dan kehangatan, tidak menghasilkan konsep cantik ataupun buruk.

Kemudian manusia menciptakan cermin, dan diproduksi massal. Sejak itu, orang mulai dapat melihat penampilan mereka sendiri, mulai dengan cermin mengubah penampilan mereka sendiri. 

Perlahan-lahan, hari demi hari, orang-orang mulai tidak membantu satu sama lain (karena sudah sibuk mempercantik diri), orang secara bertahap di hati mulai timbul konsep cantik dan jelek, timbul perbandingan dia cantik, saya jelek atau sebaliknya, mulai timbul rasa tidak puas, persaingan dan iri hati.

Orang yang lebih tua sering berpikir pada saat belum ada cermin, wajah semua orang selalu tersenyum dengan murni dan sempurna, karena saling percaya dan saling membantu, bahkan orang yang wajahnya jelek juga dapat tersenyum dengan cemerlang, pancaran hati yang ceria dan murni membuat setiap orang terlihat sangat indah dan dapat menyentuh hati orang lain, menyebabkan orang melupakan penampilan luar yang mungkin tidak menarik.

Sebenarnya terlahir rupawan ataupun tidak bukan keinginan orang yang bersangkutan, jadi kita jangan menilai orang dari wajahnya, harus menilai orang dengan baik dan tulus kepada siapapun seperti saat dunia belum ada cermin. (minghui school)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI