Satu kejanggalan terjadi di Beijing minggu ini. 10 orang jenderal absen dalam pertemuan besar badan antikorupsi PKC, memicu spekulasi kemungkinan mereka dilengserkan. Berkaca dari pengalaman, para pejabat PKC kerap menghilang dari kegiatan penting beberapa waktu sebelum dilengserkan. Apa arti ketidakhadiran mereka bagi cengkeraman kekuasaan Xi Jinping? Mungkinkah hal itu berdampak pada lini masa Beijing mengambil alih Taiwan?
Pertikaian internal Partai Komunis China semakin memanas. 10 perwira tinggi, termasuk letnan dan mayor jenderal, tidak hadir dalam pertemuan besar badan antikorupsi Partai Komunis China minggu ini. Analis urusan China, Heng He mengatakan pada NTD bahwa hal itu merupakan indikasi mereka akan segera dilengserkan.
[Heng He, Analis urusan China]:
“Ketidakhadiran para jenderal ini menunjukkan ketidakstabilan nyata dalam internal Partai Komunis China. Pembersihan dalam skala ini hanya terjadi ketika pertarungan antar faksi telah mencapai tingkat yang sangat intens. Umumnya, pembersihan sejatinya jarang terjadi, bukan sesuatu yang bisa terjadi kapan saja.”
Pembersihan skala besar terjadi tepat 3 bulan lalu ketika sembilan orang perwira jenderal digulingkan. Berlanjut, 10 orang jenderal secara mengejutkan menghilang minggu ini. Tampak jelas, semuanya berasal dari faksi Xi Jinping. Pengamat masalah China, Tang Jingyuan berkata kedua insiden tersebut menunjukkan bahwa ini bukan sekadar masalah internal, Xi mungkin telah kehilangan kendali atas militer.
[Heng He, Analis Urusan China] :
“Pembersihan seperti ini artinya hanya satu. Faksi anti-Xi Jinping kini telah mengambil alih kendali militer. Begitulah cara mereka melakukan pembersihan skala besar terhadap orang-orang dari faksi Xi Jinping. Salah satu karakteristik mencolok dari struktur kekuasaan rezim ini yakni dimana kekuasaan pemimpin didasarkan pada kendali mutlak atas militer dan senjata.”
Tang mengatakan faksi oposisi termasuk Zhang Youxia, komandan nomor dua Badan pengambil keputusan militer tertinggi China. Juga ada Hu Jintao, mantan pemimpin China, dan Wen Jiabao, mantan perdana menteri China. Jadi, bagaimana perombakan kekuasaan di tingkat atas akan berdampak pada lini masa Beijing untuk mengambil Taiwan?
[Tang Jingyuan, Pengamat masalah China] :
“Saya tidak berpikir rezim China mampu menginvasi Taiwan dalam waktu dekat. Ketidaksetujuan faksi oposisi dengan Xi Jinping mengenai Taiwan berakar pada masalah ini: Jika militer Amerika dan Jepang turut tangan dalam invasi China ke Taiwan, faksi oposisi percaya rezim tidak akan mampu melawan kedua rival mereka baik secara militer maupun ekonomi.
Dengan digulingkannya para jenderal ini telah melemahkan kemampuan tempur militer China.
[Tang Jingyuan, Pengamat masalah China] :
“Jika Xi Jinping ingin mengambil alih Taiwan, ia sangat bergantung pada komando tempur angkatan laut, dan pasukan roket wilayah Timur.”
Pasukan roket China bertanggung jawab atas rudal nuklir dan konvensional berbasis darat milik rezim. Namun sekarang, sejumlah besar pemimpin dan pejabat tinggi di ketiga divisi tersebut telah digulingkan.
