Gedung Putih menyampaikan kekhawatiran baru atas peran raksasa e-commerce China, Alibaba. Berdasarkan catatan yang diperoleh Financial Times bahwa selama ini Alibaba telah menyediakan bantuan bagi teknologi militer China dengan target utama AS. Catatan itu menyebut bahwa Alibaba memberikan akses data pelanggan, seperti alamat IP, detail Wi-Fi, dan riwayat pembayaran kepada pemerintah China.
Alibaba segera membantah semua tuduhan tersebut, namun setelah berita tersebut tersiar, saham Alibaba jatuh 4,5%.
Catatan tertanggal 1 November itu muncul tepat setelah Trump bertemu dengan presiden Xi di Korea Selatan. Gedung Putih tidak berkomentar soal rencana mereka terkait tuduhan tersebut.
Ini bukan pertama kalinya parlemen AS menyuarakan kekhawatiran. Beberapa pihak telah mendesak pemerintah AS untuk mengambil langkah tegas terhadap Alibaba.
