AS menyetujui dua penjualan senjata ke Taiwan dalam satu minggu meskipun ada peringatan dari China. Dua kesepakatan tersebut bernilai total 1 miliar dolar. Penjualan terbaru ke Taiwan yang dikonfirmasi hari Senin bernilai 700 juta dolar dan mencakup sistem rudal canggih. Ini terjadi hanya beberapa hari setelah penjualan senjata pertama ke Taiwan sejak Presiden Trump menjabat.
Penjualan juga terjadi hanya beberapa minggu setelah perundingan dagang AS-China. Beijing telah mengancam mengenai penjualan senjata sebelumnya, berkata Taiwan adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar dalam hubungan AS-China. Lima hari setelah protes China, pemerintahan Trump menyetujui penjualan kedua.
Sistem rudal canggih itu akan memperkuat kemampuan pertahanan udara Taiwan. Ukraina juga mengerahkan senjata yang sama untuk mempertahankan diri dari invasi Rusia. Senjata-senjata ini diperkirakan akan selesai tahun 2031. Sejauh ini di Indo Pasifik, AS baru menjualnya ke Australia dan Indonesia.
Taiwan sedang mempersiapkan warganya menghadapi potensi invasi China, termasuk buku panduan pertahanan sipil untuk warga di seluruh pulau. Duta besar AS untuk Taiwan berkata komitmen Amerika sangat kuat, menekankan dukungan bagi Taiwan untuk mencapai perdamaian melalui kekuatan.
Partai Komunis China menganggap Taiwan sebagai bagian dari China dan berjanji merebutnya dengan paksa jika perlu. Berdasarkan hukum AS, Amerika diwajibkan menjual senjata ke Taiwan untuk mempertahankan diri.
