6G bukan hanya berarti kecepatan internet lebih tinggi, namun adalah tulang punggung teknologi generasi berikutnya, mulai dari kecerdasan buatan, mobil otonom, hingga robot dan drone. Ini menghubungkan satelit orbit rendah bumi dengan jaringan berbasis darat menjadi satu sistem cerdas yang dapat mendukung hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari.
Para ahli berpendapat peralihan dari 5G ke 6G adalah model yang sama sekali baru. Jaringan akan mengandalkan perangkat lunak dan AI daripada perangkat keras tetap, sehingga memungkinkan jaringan untuk beradaptasi dan berkembang seiring waktu. Alih-alih menambahkan fitur keamanan di kemudian hari, para insinyur merancangnya ke dalam jaringan sejak awal.
Arielle Roth, Asisten Menteri Perdagangan untuk Komunikasi dan Informasi AS berkata ia ingin jaringan 6G dibangun atas nilai-nilai masyarakat yang bebas dan demokratis.
Strategi ini mencerminkan pelajaran yang dipetik di masa lalu, saat perusahaan-perusahaan China seperti Huawei berhasil menguasai pangsa pasar di banyak negara dengan jaringan 5Gnya, sebelum masalah keamanan memicu pembatasan oleh AS dan sekutunya.
Kali ini Washington berusaha membentuk aturan sebelum teknologi tersebut mencapai pasar. Koalisi 6G AS bersama para sekutu menetapkan tujuan jangka pendek selama tiga, enam, dan 12 bulan ke depan untuk mengkoordinasikan standar teknis dan kerjasama rantai pasokan menjelang negosiasi internasional.
Para analis berkata aliansi ini adalah perlombaan untuk menentukan siapa yang akan menentukan teknologi yang menggerakkan dunia pada dekade mendatang.
