Fokus

China Terpukul oleh Blokade Selat Hormuz AS

Blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz secara resmi dimulai, menargetkan kapal-kapal yang berinteraksi dengan Iran. Ini membuat pembeli minyak terbesar Iran, China, waspada. Hari Senin Beijing menuduh tindakan Washington sebagai tidak bertanggung jawab dan berbahaya.

Tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hermuz dalam 24 jam pertama blokade AS. Blokade menargetkan kapal apapun yang keluar masuk pelabuhan Iran, serta kapal-kapal yang membayar bea masuk ke Iran. Blokade ini telah menghentikan jalur ekonomi vital Iran akibat pengiriman minyak yang sebagian besar menuju China terhenti.

Analis urusan China Wen Zhao menjelaskan bagaimana China terpukul oleh langkah ini.

[Wen Zhao, Analis Urusan China]:

“Selama blokade, PKC tidak dapat membeli minyak Iran. Bahkan minyak mentah dari UEA atau Arab Saudi pun akan terputus. Kapal apa pun yang membayar biaya transit ke Iran saat melewati selat dapat dihentikan oleh pasukan AS di ujung lainnya, sehingga impor minyak China dari Teluk Persia akan benar-benar terhenti.”

China menanggapi hari Senin dengan menentang blokade AS dan menyerukan deeskalasi. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menyumbang hampir setengah dari total impor China. Harga bensin di China telah melonjak sekitar 11% sejak perang dimulai, dan berdampak pada puluhan juta pekerjaan di industri kimia dan terkait di China.

[Wen Zhao, Analis Urusan China]:

“Sektor kimia dan penyulingan China mempekerjakan sekitar 7 hingga 10 juta orang, termasuk rantai pasokan yang lebih luas, logistik, penjualan, dan pengolahan. Ini meningkat hingga 20-30 juta lapangan kerja, membuatnya lebih besar dari sektor properti. Meningkatnya biaya energi memukul perekonomian China secara menyeluruh termasuk ekspor kimianya.”

Wen berkata mengalihkan pasokan minyak juga tidaklah mudah. Bahkan meningkatkan pembelian minyak dari Rusia juga menantang karena keterbatasan jalur pipa.

Di saat yang sama, hubungan AS-China menghadapi rintangan saat Presiden Trump memperingatkan China dapat menghadapi konsekuensi berat termasuk tarif 50% jika ketahuan memasok senjata ke Iran.

Para analis mengatakan blokade AS ini dapat mengurangi pengaruh Iran terhadap selat Hormuz dan akan mendorong Iran kembali ke meja negosiasi dengan AS. Laporan media menyebutkan AS dan Iran mungkin akan kembali bernegosiasi paling cepat minggu ini.