Krisis tengah melanda bursa saham China. Investor asing terdampak dan China berupaya menutup celah bagi investor asing agar mereka sulit mengambil keputusan tepat.
Dilansir jurnal ekonomi, The Accounting Review bahwa perusahaan-perusahaan China sengaja membuat 2 versi laporan tahunan mereka ke dalam bahasa Inggris dan Mandarin sesuai dengan target pembacanya.
Laporan versi Mandarin memuat detail operasional di Xinjiang serta hubungan perusahaan dengan Partai Komunis China. Sebaliknya, versi Inggris sengaja menghapus informasi tersebut guna menghindari kekhawatiran para investor asing ditengah gencarnya negara-negara Barat menyoroti perusahaan-perusahaan yang terlibat dengan Xinjiang, kerja paksa, serta Partai Komunis China.
Penemuan juga mengungkap bahwa perusahaan China enggan menanggapi investor asing dan membatasi informasi bagi komentator berbahasa Mandarin yang bekerja di perusahaan asing. Hal ini menyebabkan analisa kinerja finansial dari pengamat asing menjadi kurang akurat dibandingkan pengamat dalam negeri China.
Ekonomi China sangat bergantung pada modal asing untuk bertahan. Itulah mengapa China gencar mempromosikan diri sebagai negara yang ramah investasi. Di saat bersamaan, China menutup rapat arus informasi. Beijing bahkan melarang pemeriksaan rantai pasok dan berhak mencekal warga asing pergi ke luar negeri atas dalih keamanan nasional.
Singkat kata, mengungkap kerja paksa di Xinjiang. Di bawah hukum China, Beijing berhak menerapkan larangan keluar China bagi warga asing dengan alasan keamanan nasional.
