Selama lebih dari dua dekade, upaya internasional untuk menghentikan praktik pengambilan organ paksa berskala industri yang diduga melibatkan rezim komunis Tiongkok masih terbatas. Para ahli menilai, hal ini bukan hanya karena kompleksitas kasusnya, tetapi juga karena kenyataannya terlalu sulit untuk dipercaya—serta bukti-bukti yang tersebar dan tidak mudah disatukan.
“Saat pertama kali mendengarnya, saya tidak ingin mempercayainya. Saya benar-benar merasa jijik,” ujar Jan Jekielek dalam acara American Thought Leaders di EpochTV.
Buku Jan Jekielek, “Killed to Order: China’s Organ Harvesting Industry and the True Nature of America’s Biggest Adversary” telah diliris pada 17 Maret 2026. Buku ini mengumpulkan bukti-bukti paling meyakinkan yang telah dikumpulkan selama 20 tahun terakhir untuk mengungkap kejahatan rezim komunis yang terus berlanjut.
Apa yang awalnya disebut sebagai proyek untuk memperpanjang usia para elite Partai Komunis Tiongkok (PKT), menurut berbagai laporan, kemudian berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap. Situasi ini memburuk setelah pemimpin saat itu, Jiang Zemin, memerintahkan “pemusnahan” terhadap sebuah latihan meditasi damai yang dipraktikkan oleh satu dari setiap 13 orang di Tiongkok.
Dalam sekejap, rezim tanpa batas moral—yang telah lama dituduh mendanai eksperimen medis tidak etis—tiba-tiba memiliki jutaan orang tak bersalah yang dipenjara hanya karena keyakinan mereka—sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Peningkatan Tajam Transplantasi di Tiongkok
Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah latihan meditasi yang berprinsip pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Dalam bukunya, Jan Jekielek menguraikan bagaimana latihan olah jiwa dan raga ini berkembang pesat di Tiongkok, akhirnya mengalami penindasan, di mana para praktisinya secara tiba-tiba dilabeli sebagai musuh negara dalam semalam.
Pada awal tahun 2000-an, laporan muncul dari para praktisi Falun Gong yang menyatakan bahwa mereka telah menerima suntikan yang tidak diketahui dan menjalani tes darah saat ditangkap dan dijebloskan ke penjara, dan dijadikan stok organ hidup.
Baru pada tahun 2006 seorang pelapor mengungkapkan bahwa mantan suaminya, seorang ahli bedah, telah mengakui telah melakukan transplantasi sekitar 2.000 kornea dari tahanan yang dipenjara karena keyakinannya, yang mengarahkan para penyelidik independen ke sumber lonjakan transplantasi organ di Tiongkok: para praktisi Falun Gong.
“Pada tahun 2005, di Komisi Hak Asasi Manusia PBB, ada pelapor khusus tentang penyiksaan. Namanya Manfred Nowak. Dia memperkirakan bahwa setengah dari semua orang di seluruh sistem [yang dipenjara di Tiongkok] adalah praktisi Falun Gong,” kata Jekielek.
“Mereka membangun industri transplantasi ini di atas penderitaan para praktisi Falun Gong, dimulai pada tahun 2000. Seluruh industri transplantasi di Tiongkok tumbuh secara pesat, melonjak berlipat ganda dari tahun 2000 hingga 2005.”
Menjelang akhir 2000-an, jumlah transplantasi diperkirakan mencapai antara 60.000 hingga 90.000 per tahun. Namun angka pasti sulit diverifikasi. “Ini adalah rahasia negara. Tidak ada statistik resmi. Mereka berpura-pura seolah hal ini tidak pernah terjadi,” katanya.
Seiring berkembangnya industri dan keahlian transplantasi tersebut, muncul indikasi bahwa semakin banyak orang tak bersalah—yang dipenjara karena keyakinan mereka—dijadikan target sebagai sumber organ tanpa persetujuan.
Salah satu contohnya adalah masyarakat Uyghur di Xinjiang—yang oleh Amerika Serikat telah dinyatakan mengalami genosida—di mana sistem Partai Komunis Tiongkok (PKT) secara sistematis berupaya menghapus budaya mereka.
Saya bahkan tidak ingin mengatakannya… tetapi kenyataannya, memang ada pasar global untuk apa yang mereka sebut ‘organ halal,’” kata Jekielek.
Sistem Skala Industri
Para pengamat juga menyoroti bahwa praktik ini tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan sistem yang luas. “Ini bukan hanya soal dokter bedah transplantasi—ini melibatkan seluruh sistem,” ujarnya. “Begitu banyak pihak yang harus terlibat agar praktik ini bisa terjadi.
Schneider dan Jekielek membandingkan sistem pengambilan organ oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) dengan Holocaust. Mereka menegaskan: bahkan sebelum seorang dokter menyentuh pisau bedah, ribuan orang sudah terlibat—membuat kejahatan ini terus berlangsung dalam skala nasional.
Schneider mengungkapkan keheranannya—bahwa program ini bisa terus berlangsung hingga hari ini.
Menurutnya, mengungkap kebenaran adalah satu-satunya cara untuk menghentikannya.
“Ini adalah satu-satunya kesempatan kita untuk menyelamatkan masyarakat Uyghur dan para praktisi Falun Gong dari pengambilan organ paksa yang terus terjadi, serta pembunuhan dalam jumlah yang sangat besar,” ujarnya. “Saya percaya ini adalah salah satu kejahatan terbesar dalam sejarah.”
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa secara moral, praktik tersebut melanggar batas paling mendasar dalam dunia kedokteran.
“Membunuh orang demi organnya agar orang lain bisa hidup—bagi saya, itu adalah hal paling bejat yang pernah ada dalam dunia medis.”
“Kejahatan ini—membunuh sesuai permintaan, membunuh berdasarkan pesanan—adalah sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia.”
Klik disini untuk melihat interview Schneider dengan penulis buku “Killed to Order” (Jan Jekielek)

