Beralih ke Inggris, kasus mata-mata terkait China menjadi sorotan. Kasus tersebut telah runtuh, menempatkan pemerintah Inggris di bawah tekanan atas masalah keamanan nasional. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan pada hari Rabu bahwa ia akan merilis bukti yang diberikan kepada jaksa oleh seorang pejabat senior.
[Keir Starmer, Perdana Menteri Inggris]:
“Pernyataan akhir dalam kasus diajukan pada Agustus 2025. Tidak ada lagi pengajuan bukti yang mendukung atau menolak setelah diskusi pada bulan September. Ini adalah tuduhan yang menyesatkan dan tidak tahu malu yang dibuat oleh pemimpin oposisi.”
[Kemi Badenoch, Ketua Partai Konservatif Oposisi Inggris]:
“Izinkan saya menjelaskan, Pak Ketua, tentang apa yang terjadi. Kasus serius yang melibatkan keamanan nasional telah runtuh karena pemerintah ini terlalu lemah untuk melawan China. Dan jika perdana menteri tidak dapat melindungi anggota parlemen ini, apa artinya itu bagi kemampuannya melindungi negara ini?”
Dalam sebuah langkah tak terduga bulan lalu, Layanan Penuntutan Independen atau CPS Inggris membatalkan tuntutan terhadap dua orang yang dituduh memberikan informasi sensitif secara politis pada agen intelijen China.
Jaksa penuntut berkata keputusan itu diambil karena bukti yang dibutuhkan tidak diberikan oleh pemerintah setelah berbulan-bulan upaya. Bukti ini akan memperjelas bahwa China adalah ancaman bagi keamanan nasional Inggris.
Starmer mengatakan kesalahan terletak pada pemerintahan Konservatif sebelumnya, yang berkuasa ketika kedua pria tersebut didakwa. Kegagalan persidangan memicu tuduhan dari partai-partai oposisi, yang mengatakan bahwa pemerintah tidak ingin membahayakan hubungan dengan China. Gedung Putih telah memperingatkan Inggris bahwa kegagalan untuk menuntut kedua mata-mata China tersebut dapat membebani hubungan khusus Inggris dengan AS. Para pejabat berkata itu juga dapat membahayakan pembagian intelijen antara kedua negara.

