Site icon NTD Indonesia

Hubungan AS–China : Kerja Sama, Perselisihan dan Isu Taiwan

Pasca pembicaraan telepon antara Trump dan Xi Jinping Rabu lalu, China mempertimbangkan untuk mengimpor lebih banyak kedelai AS, disisi lain konflik keduanya meningkat seputar penjualan senjata senilai 11 miliar dolar ke Taiwan oleh AS.

Trump berkata pembicaraannya dengan Xi Jinping sangat positif dan bahwa China tengah mempertimbangkan rencana pembelian lebih banyak kedelai AS. Langkah ini dicapai saat keduanya berupaya menstabilkan hubungan mereka jelang kunjungan Trump ke Beijing April mendatang.

Trump berkata Xi sedang mempertimbangkan pembelian kedelai menjadi 20 juta metrik ton musim ini. Sebuah lonjakan besar dari sebelumnya, sementara harga kedelai melonjak setelah kabar tersebut. Meski ada itikad baik, ketegangan tetap ada.

China memperingatkan AS atas penjualan senjata terbaru ke Taiwan senilai 11 miliar dolar dan meminta AS untuk mengambil langkah yang tepat. Sementara Taiwan berharap transaksi senjata lebih ditengah konflik berkepanjangan dengan Beijing. China menganggap Taiwan bagian wilayahnya dan tidak mengesampingkan kekuatan untuk merebutnya.

AS secara resmi mengakui Beijing namun menjadi pemasok senjata utama Taiwan. Ketegangan AS-China masih berlanjut dengan perselisihan seputar tarif, teknologi, dan mineral penting.

Selain kedelai, kedua pemimpin juga membahas isu-isu global, termasuk Iran dan Ukraina. Ini adalah bagian dari upaya rekonsiliasi kedua raksasa ekonomi dunia di tengah gencatan perdagangan yang rapuh.

Trump menyebut hubungan keduanya sangat baik, mengatakan kedua belah pihak mengakui pentingnya menjaga ikatan yang kuat. Dalam pernyataan resmi, Xi juga berkata sangat mementingkan hubungan Sino-AS.

Presiden Trump dan pemimpin China Xi Jinping berbicara di telepon hari Rabu. Trump kemudian memposting di Truth Social bahwa Taiwan juga dibahas dalam diskusi. Kemenlu China mengulangi pernyataannya bahwa Taiwan adalah bagian dari China dan mendesak Washington untuk tidak gegabah dalam penjualan senjatanya. Beijing berkata Trump mengakui kekhawatiran China dan setuju untuk tetap berkomunikasi demi menjaga hubungan AS-China yang stabil.

Presiden Lai Ching-te mengatakan pada hari Kamis bahwa hubungannya dengan AS tetap kuat dan tidak berubah. Ia juga menekankan Taiwan bukanlah milik China.

Sementara itu oposisi Taiwan sekali lagi memblokir rencana anggaran pertahanan sekitar 40 miliar dolar selama delapan tahun kedepan. Presiden Lai memperingatkan tindakan itu berisiko. Menlu AS dan anggota parlemen dari kedua partai AS juga mengkritik hal ini.

Anggaran pertahanan sebesar 40 miliar dola mencakup pembelian senjata AS dalam jumlah besar. Salah satu pihak yang memblokirnya, Partai Kuomintang, mengirim wakil ketua mereka bertemu dengan lembaga pemikir resmi China di Beijing minggu ini. Ketua Kuomintang dilaporkan akan berkunjung ke Beijing tahun ini untuk bertemu Xi Jinping.

Beberapa analis berkata anggaran yang diblokir ini menunjukkan perpecahan politik Taiwan. Mereka berkata ini dapat digunakan Beijing untuk memperkuat infiltrasi dan memenangkan peperangan tanpa bertarung.

Direktur Institut Amerika di Taiwan, Raymond Green, menyebut pembelanjaan ini penting untuk pencegahan. Ia mendesak pihak-pihak di Taiwan agar mencapai kesepakatan.

Anggaran pertahanan Taiwan telah tumbuh dengan mantap, sekarang sebesar 2,5% PDB dan ditargetkan sebesar 3,3% pada 2026.