Tag: lai ching te

  • Reaksi Pidato Lai Ching-te, China Gelar Latihan Tembak Serentak di 4 Lautan

    Reaksi Pidato Lai Ching-te, China Gelar Latihan Tembak Serentak di 4 Lautan

    Beijing menggelar latihan tembak secara serentak di berbagai zona maritim termasuk Laut Bohai, Laut Kuning, Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan. Ini terjadi setelah pidato Hari Nasional Presiden Taiwan Lai Ching-te pada 10 Oktober.

    Dalam pidatonya Lai menyerukan agar Taiwan menjadi “kota di atas bukit”, sebuah ungkapan dari Alkitab. Ia mengatakan Taiwan harus membangun kota dengan keberanian dan keyakinan atas fondasi pemerintahan demokratis.

    Zona latihan terdekat hanya sekitar 159 mil laut dari Taiwan. Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo berkata Taiwan sedang mempersiapkan diri untuk berbagai skenario dan memantau perkembangannya dengan cermat.

    AS telah berulang kali menyebut tekanan China terhadap Taiwan sebagai hal yang sangat mengganggu stabilitas dan mendesak Beijing untuk menahan diri serta mengupayakan dialog.

  • Jelang KTT Trump-Xi, Taiwan dan Jepang Cermati Langkah Trump di Selat Taiwan

    Jelang KTT Trump-Xi, Taiwan dan Jepang Cermati Langkah Trump di Selat Taiwan

    Saat perdagangan dan AI mendominasi KTT Trump di Washington, Beijing  menegaskan bahwa Taiwan tetap menjadi inti dari garis merah mereka. China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, meskipun belum pernah memerintah pulau tersebut. Kini Taipei dan Tokyo mengamati KTT ini dengan seksama untuk melihat tindakan presiden Trump.

    Pihak berwenang Taiwan menyatakan bahwa mereka tetap menjaga komunikasi yang erat dengan Washington.  Wakil Presiden Taiwan Hsiao Bi-khim dalam wawancara berkata Taiwan tidak akan mengorbankan demokrasi di tengah tekanan yang semakin meningkat dari China. Presiden Lai Ching-te juga terus menyerukan status quo lintas selat sambil memperkuat pertahanan Taiwan.

    Bagi Beijing, Taiwan tetap menjadi isu utama hubungan AS-China, dengan berulang kali menentang penjualan senjata AS ke Taiwan. Pada KTT bulan Mei di Beijing, Xi Jinping menekankan bahwa jika isu Taiwan tidak ditangani dengan benar ini dapat mendorong hubungan AS-China ke arah yang berbahaya.

    AS tetap menyatakan bahwa kebijakan Taiwan-nya tidak berubah, namun menlu Marco Rubio mengatakan AS menentang segala bentuk perubahan paksa terhadap status quo di Selat Taiwan.

    Di Asia, sekutu-sekutu AS mengamati dengan cermat setiap langkah Presiden Trump menjelang pertemuan puncak Trump-Xi.

    Di Jepang, ada kekhawatiran bahwa setiap persepsi tentang konsesi AS terkait Taiwan dapat melemahkan daya pencegah regional dan menimbulkan kekhawatiran keamanan bagi Jepang. Pada hari Selasa, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi diperkirakan akan bertemu dengan Presiden Trump, sehari sebelum Trump dijadwalkan menyambut Xi Jinping di Pangkalan Gabungan Andrews pada hari Rabu.

  • Presiden Lai Ching-te Ajak Komunitas Internasional Lawan “Teror Merah” PKC

    Presiden Lai Ching-te Ajak Komunitas Internasional Lawan “Teror Merah” PKC

    Sekelompok anggota parlemen internasional menentang undang-undang baru China yang menurut mereka mengancam masyarakat di luar perbatasan China. Direktur eksekutif aliansi antarparlemen tentang China atau IPAC (BACA: AIPEK) memberi pernyataan resmi ke presiden Taiwan.

    Pernyataan menegaskan penolakan pada penindasan transnasional dan undang-undang persatuan etnis baru PKC, serta pernyataan dukungan solidaritas ke rakyat Taiwan.

    Presiden Taiwan, Lai Ching-te menggemakan pernyataan tersebut, menyerukan komunitas internasional untuk menentang apa yang ia gambarkan sebagai “teror merah” Partai Komunis China.

    Undang-undang persatuan etnis PKC telah menuai kritik keras, memungkinkan Beijing menargetkan warga etnis Tionghoa di luar negeri, termasuk Taiwan.

    IPAC terdiri dari lebih dari 290 anggota parlemen dari puluhan negara demokratis. Aliansi terbentuk pada 2020 sebagai hasil konsensus bahwa PKC semakin otoriter di dalam negeri dan agresif di luar negeri.

  • Trump: “Saya Akan Bicara dengan Pemimpin Taiwan”

    Trump: “Saya Akan Bicara dengan Pemimpin Taiwan”

    Presiden Trump mengakhiri pertemuan dua hari di Beijing dan pulang ke AS. Meski pertemuan difokuskan pada upaya membangun hubungan bilateral yang stabil, kedua belah pihak masih menunjukkan perbedaan yang jelas terkait isu-isu inti, termasuk Taiwan.

    Isu yang paling menarik perhatian yaitu penjualan senjata AS ke Taiwan. Trump berkomentar di pesawat Air Force One pada hari Jumat saat kembali ke Washington.

    “Saya akan mengambil keputusan dalam waktu yang relatif singkat ke depannya. Saya harus berbicara dengan orang yang saat ini… Anda tahu siapa.. yang memimpin Taiwan.”

    Kemenlu Taiwan segera mengeluarkan tanggapan, mengucapkan terima kasih pada Presiden Trump atas dukungan berkelanjutan pada keamanan di Selat Taiwan. Pernyataan menyebutkan bahwa penjualan senjata AS ke Taiwan bukan hanya bagian dari komitmen Washington berdasarkan UU Hubungan Taiwan, tetapi juga pencegahan ancaman regional, dimana ancaman militer China tetap menjadi satu-satunya sumber ketidak-stabilan di kawasan tersebut.

    Menurut pernyataan resmi China, Xi Jinping menggunakan bahasa yang keras terkait masalah Taiwan, memperingatkan bahwa penanganan yang salah dapat memicu konflik antara China dan AS.

    “Presiden Xi mengatakan ada risiko konflik dengan AS terkait Taiwan”

    “Tidak, saya tidak berpikir begitu. Saya pikir kita akan baik-baik saja. Dia tidak ingin melihat… ia tidak ingin melihat perang.”

    “Ia tidak ingin melihat perjuangan untuk kemerdekaan karena itu akan menjadi konfrontasi yang sangat kuat dan saya mendengarkannya. Tidak, saya tidak memberikan komentar tentang itu. Saya mendengarkan.”

    “Apakah AS akan membela Taiwan jika hal itu terjadi?”

    “Saya tidak mau mengatakannya. Hanya ada satu orang yang tahu hal itu. Siapakah itu? Saya. Saya satu-satunya. Pertanyaan itu juga diajukan pada saya hari ini oleh Presiden Xi. Saya bilang saya tidak membicarakan hal-hal itu.”

  • AS dan China Bersaing Pengaruh di Taiwan

    AS dan China Bersaing Pengaruh di Taiwan

    Di Asia, masa depan Taiwan kembali menjadi sorotan. China komunis kembali menggunakan pendekatan iming-iming serta ancaman, berusaha mencaplok pulau itu tanpa melepaskan satu tembakan pun. Jadi, bagaimana informasi terbarunya? Mari kita simak.

    Beberapa perkembangan penting seputar Taiwan baru-baru ini.

    Pertama, untuk mengekang arus keluar teknologi, pemerintah Taiwan mengumumkan hari Senin bahwa mereka sedang menyelidiki 11 perusahaan China atas tuduhan merekrut talenta teknologi tinggi Taiwan tanpa izin. Taiwan mengatakan mereka menggunakan perusahaan cangkang atau kantor yang tidak sah, dengan bisnis meliputi manufaktur elektronik, semikonduktor, dan cetakan papan sirkuit.

    Taipei mencatat operasi China ini meningkat setelah Washington membatasi ekspor chip kelas atas ke China. Lebih dari 90% semikonduktor tercanggih di dunia diproduksi di Taiwan.

    Ini salah satu alasan mengapa Taiwan sangat penting bagi Washington dan sekutunya, yang juga termasuk Jepang. Pada hari Senin, China menjatuhkan sanksi kepada anggota parlemen Jepang Keiji Furuya yang baru-baru ini mengunjungi Taiwan dan bertemu presiden Lai Ching-te. Beijing menuduh Furuya berpihak pada mereka yang mendukung kemerdekaan Taiwan. Furuya juga adalah sekutu dekat Perdana Menteri Sanae Takaichi.

    Takaichi telah menyatakan bahwa Jepang dapat mengirim pasukan untuk membela Taiwan jika terjadi invasi China. Ia berpendapat skenario seperti itu akan menimbulkan ancaman bagi Jepang, karena jalur Taiwan adalah jalur air utama yang membentuk Jepang.

    Sementara itu, pemimpin rezim China Xi Jinping mengundang pemimpin oposisi Taiwan Cheng Li-wun untuk berkunjung, dan ia menerimanya. Kunjungan diperkirakan akan berlangsung menjelang kunjungan Presiden Trump ke China di bulan Mei. Hubungan Cheng dengan Beijing menuai beragam reaksi di dalam negeri. Para kritikus mengatakan hubungan dekatnya dengan PKT dapat merusak hubungan AS dengan Taiwan.

    Sementara Beijing mendekati politisi Taiwan, delgasi AS dari kedua partai tiba di Taiwan Senin pagi, menandakan komitmen Washington terhadap pulau tersebut. Senator AS juga mendesak legislatif Taiwan untuk mengesahkan proposal anggaran pertahanan tambahan sebesar 40 miliar dolar.

  • Hubungan AS–China : Kerja Sama, Perselisihan dan Isu Taiwan

    Hubungan AS–China : Kerja Sama, Perselisihan dan Isu Taiwan

    Pasca pembicaraan telepon antara Trump dan Xi Jinping Rabu lalu, China mempertimbangkan untuk mengimpor lebih banyak kedelai AS, disisi lain konflik keduanya meningkat seputar penjualan senjata senilai 11 miliar dolar ke Taiwan oleh AS.

    Trump berkata pembicaraannya dengan Xi Jinping sangat positif dan bahwa China tengah mempertimbangkan rencana pembelian lebih banyak kedelai AS. Langkah ini dicapai saat keduanya berupaya menstabilkan hubungan mereka jelang kunjungan Trump ke Beijing April mendatang.

    Trump berkata Xi sedang mempertimbangkan pembelian kedelai menjadi 20 juta metrik ton musim ini. Sebuah lonjakan besar dari sebelumnya, sementara harga kedelai melonjak setelah kabar tersebut. Meski ada itikad baik, ketegangan tetap ada.

    China memperingatkan AS atas penjualan senjata terbaru ke Taiwan senilai 11 miliar dolar dan meminta AS untuk mengambil langkah yang tepat. Sementara Taiwan berharap transaksi senjata lebih ditengah konflik berkepanjangan dengan Beijing. China menganggap Taiwan bagian wilayahnya dan tidak mengesampingkan kekuatan untuk merebutnya.

    AS secara resmi mengakui Beijing namun menjadi pemasok senjata utama Taiwan. Ketegangan AS-China masih berlanjut dengan perselisihan seputar tarif, teknologi, dan mineral penting.

    Selain kedelai, kedua pemimpin juga membahas isu-isu global, termasuk Iran dan Ukraina. Ini adalah bagian dari upaya rekonsiliasi kedua raksasa ekonomi dunia di tengah gencatan perdagangan yang rapuh.

    Trump menyebut hubungan keduanya sangat baik, mengatakan kedua belah pihak mengakui pentingnya menjaga ikatan yang kuat. Dalam pernyataan resmi, Xi juga berkata sangat mementingkan hubungan Sino-AS.

    Presiden Trump dan pemimpin China Xi Jinping berbicara di telepon hari Rabu. Trump kemudian memposting di Truth Social bahwa Taiwan juga dibahas dalam diskusi. Kemenlu China mengulangi pernyataannya bahwa Taiwan adalah bagian dari China dan mendesak Washington untuk tidak gegabah dalam penjualan senjatanya. Beijing berkata Trump mengakui kekhawatiran China dan setuju untuk tetap berkomunikasi demi menjaga hubungan AS-China yang stabil.

    Presiden Lai Ching-te mengatakan pada hari Kamis bahwa hubungannya dengan AS tetap kuat dan tidak berubah. Ia juga menekankan Taiwan bukanlah milik China.

    Sementara itu oposisi Taiwan sekali lagi memblokir rencana anggaran pertahanan sekitar 40 miliar dolar selama delapan tahun kedepan. Presiden Lai memperingatkan tindakan itu berisiko. Menlu AS dan anggota parlemen dari kedua partai AS juga mengkritik hal ini.

    Anggaran pertahanan sebesar 40 miliar dola mencakup pembelian senjata AS dalam jumlah besar. Salah satu pihak yang memblokirnya, Partai Kuomintang, mengirim wakil ketua mereka bertemu dengan lembaga pemikir resmi China di Beijing minggu ini. Ketua Kuomintang dilaporkan akan berkunjung ke Beijing tahun ini untuk bertemu Xi Jinping.

    Beberapa analis berkata anggaran yang diblokir ini menunjukkan perpecahan politik Taiwan. Mereka berkata ini dapat digunakan Beijing untuk memperkuat infiltrasi dan memenangkan peperangan tanpa bertarung.

    Direktur Institut Amerika di Taiwan, Raymond Green, menyebut pembelanjaan ini penting untuk pencegahan. Ia mendesak pihak-pihak di Taiwan agar mencapai kesepakatan.

    Anggaran pertahanan Taiwan telah tumbuh dengan mantap, sekarang sebesar 2,5% PDB dan ditargetkan sebesar 3,3% pada 2026.

  • China Latihan Militer Besar-besaran Kepung Taiwan

    China Latihan Militer Besar-besaran Kepung Taiwan

    Semua mata tertuju pada Taiwan. Pada hari Senin, Beijing mengerahkan militernya dan melakukan latihan tembak langsung. Militer China berkata latihan akan berlanjut hari Selasa. Taiwan mengutuk hal ini dan berkata mereka memantau situasi dengan ketat. Berikut pernyataan jubir kantor kepresidenan Taiwan.

    [Juru Bicara Kantor Kepresidenan Taiwan]:

    “Negara kami menyatakan kecaman keras terhadap otoritas China, yang mengabaikan norma internasional dan menggunakan aktivitas dan cara militer untuk mengancam negara-negara tetangga.”

    [Presiden Trump]:

    “Saya memiliki hubungan baik dengan Presiden Xi dan dia belum memberi tahu saya apa pun tentang hal itu. Saya tentu telah melihatnya, tapi ia tidak memberitahu apapun. Saya tidak percaya dia akan melakukannya. Tidak ada yang membuat saya khawatir, tidak ada.”

    Latihan melibatkan angkatan darat, laut, udara, dan roket China. Pasukan roket adalah militer yang mengoperasikan rudal nuklir berbasis darat China untuk pencegahan dan serangan jarak jauh. Tujuannya untuk memblokade pulau dari udara dan laut, serta mengepung pulau Taiwan.  

    China juga melakukan simulasi serangan target darat dan laut, yang terjadi hanya 11 hari setelah Washington mengumumkan penjualan senjata senilai 11,1 miliar dolar AS ke Taiwan. Itu adalah kesepakatan senjata terbesar antara AS dan Taiwan.

    Ini juga terjadi setelah perdana menteri Jepang Sanae Takaichi memperingatkan bahwa serangan China ke Taiwan dapat memicu respon militer dari Tokyo, yang dikatakannya November lalu.

    Meskipun latihan menganggu penerbangan Taiwan, pemerintah berkata masyarakat tidak perlu khawatir. Kementrian Pertahanan Taiwan berjanji akan mempertahankan kedaulatan dan demokrasi pulau tersebut.

    [Sun Li-Fang, Jubir Kementrian Pertahanan Taiwan]:

    “Karena kita harus mengambil langkah-langkah yang tepat dengan premis untuk memastikan keamanan dan kedaulatan nasional kita karena konfrontasi terus meningkat. Risiko konflik antara kedua pihak hanya akan terus meningkat dan tidak akan membantu menyelesaikan perbedaan atau perselisihan.”

    Latihan terbaru ini adalah peningkatan dari latihan sebelumnya di bulan April. Ini menandai putaran latihan perang besar keenam China sejak 2022, saat ketua DPR AS saat itu, Nancy Pelosi, mengunjungi Taiwan.

    Rezim China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya meskipun tidak pernah memerintah pulau tersebut. Taiwan menolak klaim itu, berkata hanya rakyat Taiwan yang dapat menentukan masa depan mereka.

  • Taiwan Tingkatkan Anggaran Pertahanan Tambahan Sebesar $40 M

    Taiwan Tingkatkan Anggaran Pertahanan Tambahan Sebesar $40 M

    Perdamaian melalui kekuatan. Taiwan memperkenalkan anggaran pertahanan tambahan sebesar 40 miliar dolar demi melawan meningkatnya agresi China.

    Pada hari Rabu, presiden Taiwan Lai Ching-te mengatakan sejarah telah membuktikan mencoba berkompromi dalam agresi tidak menghasilkan apa-apa selain perbudakan. Ini terjadi saat China meningkatkan tekanan militernya.

    [Presiden Lai Ching-te, Presiden Taiwan]:

    “Ancaman China pada Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik semakin meningkat. Baru-baru ini, berbagai jenis intrusi militer, zona abu-abu maritim, dan kampanye disinformasi telah terjadi di Jepang, Filipina, dan di sekitar Selat Taiwan. Taiwan, sebagai bagian terpenting dan paling kritis dari rantai Pulau Pertama, harus menunjukkan tekad dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam membela diri.”

    Anggaran akan berlaku dari 2026 hingga 2033 dan mencakup peralatan, termasuk rudal, drone, serta serta sistem pertahanan udara T-dome yang baru. Agustus lalu, Lai berkata ia berharap dapat meningkatkan anggaran pertahanan Taiwan menjadi 5% dari PDB pada tahun 2030. Presiden Trump telah menyerukan peningkatan anggaran tersebut hingga 10%.

  • Konflik Dagang AS-China di Tengah Spekulasi Kesehatan Xi Jinping

    Konflik Dagang AS-China di Tengah Spekulasi Kesehatan Xi Jinping

    Menyusul peringatan Presiden Trump untuk melawan langkah Beijing baru-baru ini, China merespon baik di media sosial maupun media publik. Pesan-pesan yang disetujui Beijing beredar di media pemerintah, memperingatkan bahwa ekonomi AS masih sangat bergantung pada rantai pasokan China, sehingga ‘decoupling’ hampir mustahil. Mereka juga berkata pembatasan ini bukanlah hal baru, melainkan alat tawar-menawar untuk mendorong Trump kembali ke meja perundingan.

    Menyusul komentar terbaru Trump tentang China, pasar bereaksi. Dow Jones turun signifikan 600 poin pada hari Jumat. S&P 500 mengalami penurunan terdalam sejak April, mengikuti kinerja 500 saham utama AS.

    Presiden Trump memicu spekulasi dengan komentar mengejutkan di unggahan media sosialnya pada hari Jumat, berkata ‘beberapa hal yang sangat aneh sedang terjadi di China’

    Kami akan membedah konteks dan peristiwa di baliknya beredarnya laporan yang belum diverifikasi dari berbagai sumber, yang menyatakan bahwa pemimpin komunis China, Xi Jinping, mungkin tiba-tiba menderita stroke.  Kini dalam segmen Wawasan China in Focus, kita tinjau bersama hal tersebut.

    Selama dua hari terakhir, pesan dari berbagai sumber telah menyuarakan klaim serupa, yang menunjukkan bahwa pemimpin China Xi Jinping mungkin berada dalam kondisi serius, kemungkinan karena stroke mendadak.

    Diantaranya adalah Du Wen, mantan pejabat PKC, dan Tang Baiqiao, seorang aktivis pro-demokrasi. Presiden AS Donald Trump memicu spekulasi tentang kemungkinan masalah kesehatan Xi, dengan menyatakan ‘beberapa hal yang sangat aneh sedang terjadi di China’.

    Ia menambahkan, “Ini bukan hanya kejutan nyata bagi saya, tetapi bagi semua pemimpin dunia bebas” dan “hal-hal yang dulunya rutin, kini tidak lagi rutin”.

    Cai Shenkun, seorang komentator ternama urusan China mengatakan dalam postingan di X, berbunyi, “rangkaian tindakan terbaru PKC telah menyebabkan hubungan China-AS terus memburuk, membuat Trump tidak yakin siapa yang bertanggung jawab di China dan siapa yang sebenarnya dapat berunding. Pertemuan antara Trump dan Xi yang sedianya akan berlangsung akhir bulan ini diharapkan dapat membuat terobosan perundingan dagang besar antar kedua negara, menurut Menteri Keuangan Scott Bessent.

    Sementara itu tindakan Beijing baru-baru ini telah menunjukkan sikap yang sangat bermusuhan. China telah mengumumkan pembatasan baru pada ekspor tanah jarang dan material penting lainnya. Pada hari Jumat, Beijing mengumumkan bahwa kapal-kapal AS akan dikenakan biaya untuk berlabuh di pelabuhan China mulai Selasa depan. Para pejabat China juga telah membuka penyelidikan anti-trust terhadap Qualcomm, perusahaan lisensi paten dan desain chip terkemuka AS. Apa ini hanya taktik negosiasi dari Beijing?

    Sementara itu, Presiden Taiwan Lai Ching-te baru-baru ini mendesak Trump untuk membantu melawan agresi militer Beijing terhadap Taiwan, menyinggung Hadiah Nobel Perdamaian bagi Trump.  Pada hari nasionalnya, Taiwan juga meluncurkan sistem pertahanan udara T-dome baru di tengah meningkatnya ancaman dari China. Sebelumnya, presiden berjanji bahwa pengeluaran pertahanan Taiwan akan mencapai 5% dari PDB pada tahun 2030.

    Sementara, China dilaporkan menghukum para jurnalis karena menerbitkan laporan yang membocorkan detail tentang senjata baru. Lembaga penyiaran negara CCTV mengumumkan bahwa Xi diharapkan akan hadir di KTT Perempuan Global minggu depan. Xinhua yang dikelola pemerintah China juga melaporkan bahwa pada 10 Oktober Xi Jinping menelepon Kim Jong Un dalam peringatan 80 tahun partai Korea Utara berkuasa.

    Apakah media pemerintah bergerak untuk membungkam rumor tentang kesehatan Xi dan kemungkinan gejolak politik di China? Para analis berpendapat bahwa dengan meningkatnya perebutan kekuasaan internal, PKC dapat menggunakan berbagai cara untuk menyelesaikan tantangan domestiknya.

  • Kemarahan Beijing Setelah Presiden Taiwan Minta Dukungan Trump

    Kemarahan Beijing Setelah Presiden Taiwan Minta Dukungan Trump

    Beijing mengungkapkan kemarahannya atas interaksi baru-baru ini antara Taiwan dan AS. Presiden Lai Ching-te mendesak Presiden Trump untuk mempertahankan dukungannya, atas meningkatnya ancaman militer dari China. Ia menyampaikan komentar tersebut dalam sebuah wawancara media AS yang disiarkan hari Senin.

    Lai berkata keamanan Taiwan terkait erat dengan keamanan nasional AS. Ia menambahkan bahwa Presiden Trump pantas mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian jika ia dapat, dalam kata-katanya sendiri, menghentikan China menginvasi Taiwan.

    Keesokannya, Kantor Urusan Taiwan China membalas dengan pernyataan keras yang mengkritik pernyataan Lai. Seorang pejabat China juga mengulangi ambizi rezim untuk membawa Taiwan di bawah kendalinya.

    China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya meskipun tidak pernah memerintahnya. AS dan Taiwan sama-sama menolak klaim tersebut.

    Pekan lalu, Duta Besar AS untuk China, David Purdue, mengatakan kebijakan Trump terkait Taiwan tidak berubah, dan AS berharap kedua belah pihak dapat menyelesaikan perbedaan mereka secara damai.