Tidak ada lagi serangan rudal, hanya negosiasi dan upaya mengamankan Selat Hormuz. Iran telah menyetujui gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan. Ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Trump mengeluarkan ultimatum di Truth Social. China dilaporkan sebagai kekuatan senyap yang membawa Iran ke meja perundingan dengan AS. Tetapi semuanya dilakukan dengan sangat hati-hati di balik layar. Jadi apa yang diinginkan Washington, Iran, dan Beijing dari kesepakatan gencatan senjata ini?
Presiden Trump mengancam pada hari Selasa bahwa seluruh peradaban akan mati jika Iran tidak menyetujui gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz. Beberapa jam kemudian, menlu Iran mengeluarkan pernyataan yang menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dan mempertimbangkan membuka kembali Selat Hormuz.
Setelah pernyataan Iran, Presiden Trump mencabut ancamannya untuk menyerang infrastruktur Iran. Kedua pihak kini dijadwalkan merundingkan rencana perdamaian pada hari Sabtu di Islamabad dengan wapres AS JD Vance memimpin delegasi AS.
Dalam pernyataan gencatan senjata Iran, peran mediator China sama sekali tidak disebutkan, tetapi laporan New York Times mengatakan sebaliknya. Times melaporkan tiga pejabat Iran mengatakan bahwa Beijing mendesak Iran untuk menunjukkan fleksibilitas dan meredakan ketegangan.
Sekitar 20% pengiriman minyak global melewati Selat Hormuz. Untuk China, angka itu adalah 40%. Jalur air utama itu telah diblokir selama lebih dari sebulan, menyebabkan kekacauan di pasar minyak global.
Keamanan energi dan ekonomi China juga menghadapi tekanan, setelah laporan mengatakan Iran memblokir kapal-kapal China tertentu untuk melintasi Selat Hormuz. Epoch Times melaporkan bahwa Menlu China Wang Yi berulang kali meminta Tehran memastikan kapal-kapal China agar tidak diserang, tetapi Tehran menolak memberikan jaminan. Iran justru menggunakan situasi itu untuk menekan Beijing agar memberikan dukungan militer, sebuah langkah yang enggan diambil China.
Analis China mengatakan hal itu akan merusak kredibilitas Beijing sebagai mediator netral dan merusak hubungan Beijing dengan pemerintahan Trump. Di sisi lain, Iran menghadapi pilihan terbatas di tengah tekanan Washington dan Beijing untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sekitar 80 hingga 90% ekspor minyak Iran yang dikenai sanksi dijual ke China dengan harga diskon, sebagian besar melalui jaringan armada bayangan. Ini telah berfungsi sebagai jalur kehidupan bagi perekonomian Iran.
Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan pada hari Rabu bahwa pasukan AS siap untuk melanjutkan pertempuran jika diplomasi dengan Iran gagal. Ia menambahkan pasukan Amerika akan tetap berada di wilayah tersebut dan memastikan Iran mematuhi gencatan senjata.
Baik pemerintahan Trump maupun Iran sama-sama mengklaim kemenangan setelah menyetujui gencatan senjata. Iran mengatakan akan menawarkan jalur aman melalui Selat Hormuz dalam koordinasi dengan angkatan bersenjatanya. Namun Angkatan Laut Iran juga memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba berlayar tanpa izin akan menjadi sasaran dan dihancurkan.
Jenderal AS Dan Caine mengatakan AS telah menenggelamkan sekitar 90% armada angkatan laut reguler Iran dan menghancurkan sebagian besar sistem pertahanan udara dan pabrik senjatanya. Namun para ahli mengatakan tujuan strategis yang lebih luas tampaknya belum tercapai karena rezim Iran sebagian besar masih tetap utuh.
Sementara pertempuran masih berkecamuk di seluruh wilayah pada hari Rabu ketika Israel melancarkan serangan terbesarnya hingga saat ini terhadap Lebanon, dan Iran menyerang fasilitas minyak negara-negara tetangga di Teluk.
