Amerika Serikat memperdalam hubungan militernya dengan Kamboja, rumah bagi pelabuhan penting yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan di Asia. China mengincar pelabuhan itu. Kini sebuah kapal militer AS berlabuh di sana, dengan kepala Komando Indo-Pasifik AS bertemu para pemimpin militer Kamboja.
Laksamana Samuel Paparro, kepala pasukan AS di Indo-Pasifik, bertemu menteri pertahanan Kamboja dan kepala angkatan bersenjata di atas kapal USS Cincinnati pada hari Senin. Kedua negara berjanji untuk bekerja bahu-membahu menegakkan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
USS Cincinnati berlabuh di Pangkalan Angkatan Laut Ream Kamboja sejak Sabtu. Kapal ini telah mengunjungi pelabuhan selama dua dekade terakhir, namun ini pertama kalinya mereka berlabuh sejak renovasi yang didanai China selesai tahun lalu.
Renovasi China memicu kekhawatiran Washington bahwa China, yang adalah sekutu dekat Kamboja, mungkin telah diberikan akses eksklusif ke pangkalan tersebut.
Laporan tentang potensi perjanjian 30 tahun yang memungkinkan penggunaan militer China di lokasi, telah memicu kekhawatiran bahwa pangkalan militer global China mungkin sedang terbentuk. Namun Pemerintah Kamboja telah membantah adanya hak istimewa eksklusif untuk China.
Meski China memiliki lebih banyak kapal perang dari AS, mereka hanya mengoperasikan satu pangkalan militer resmi di luar negeri yang terletak di Afrika. AS memiliki 750 pangkalan di seluruh dunia, hingga Washington dapat memproyeksikan kekuatan di seluruh dunia. Namun, pergeseran sedang terjadi. China sudah mengendalikan dua pelabuhan tambahan, satu di Pakistan dan satu lagi di Sri Lanka.
Sementara, China sedang membangun pelabuhan laut dalam lainnya di Myanmar. Jika Beijing mengubah pelabuhan-pelabuhan ini menjadi pangkalan yang beroperasi penuh, ditambah pelabuhan di Kamboja, China dapat memproyeksikan kekuatan di Samudra Hindia.
Kamboja adalah sekutu dekat China dan telah lama memiliki hubungan tegang dengan AS. Washington kerap mengecam rezim Kamboja atas pelanggaran HAM dan penindasan politik.

