Tag: militer china

  • Reaksi Pidato Lai Ching-te, China Gelar Latihan Tembak Serentak di 4 Lautan

    Reaksi Pidato Lai Ching-te, China Gelar Latihan Tembak Serentak di 4 Lautan

    Beijing menggelar latihan tembak secara serentak di berbagai zona maritim termasuk Laut Bohai, Laut Kuning, Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan. Ini terjadi setelah pidato Hari Nasional Presiden Taiwan Lai Ching-te pada 10 Oktober.

    Dalam pidatonya Lai menyerukan agar Taiwan menjadi “kota di atas bukit”, sebuah ungkapan dari Alkitab. Ia mengatakan Taiwan harus membangun kota dengan keberanian dan keyakinan atas fondasi pemerintahan demokratis.

    Zona latihan terdekat hanya sekitar 159 mil laut dari Taiwan. Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo berkata Taiwan sedang mempersiapkan diri untuk berbagai skenario dan memantau perkembangannya dengan cermat.

    AS telah berulang kali menyebut tekanan China terhadap Taiwan sebagai hal yang sangat mengganggu stabilitas dan mendesak Beijing untuk menahan diri serta mengupayakan dialog.

  • Bukan Fiksi Lagi, Militer China Latih Robot Humanoid Dampingi PLA

    Bukan Fiksi Lagi, Militer China Latih Robot Humanoid Dampingi PLA

    China secara agresif memasukkan robot humanoid ke dalam barisan militernya. Didukung dominasi manufakturnya yang sangat besar, Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA mempersiapkan mesin-mesin ini untuk perang perkotaan.

    Upaya ini dimulai secara diam-diam pada 2024 ketika universitas terkemuka PLA menyelenggarakan forum tentang aplikasi militer untuk sistem humanoid. Pada 2025, lembaga-lembaga militer China mempelajari bagaimana robot humanoid dapat bekerja berdampingan dengan pasukan.

    Sebuah tinjauan Reuters terhadap lebih dari 100 dokumen militer China menemukan peningkatan penelitian tentang penggunaan robot humanoid di medan perang. Catatan pengadaan menunjukkan PLA sedang menguji robot dalam hal persepsi, manipulasi, dan kelangsungan hidup di medan perang.

    Kini, industri pertahanan China sedang mengembangkan sistem yang dapat dikendalikan dari jarak jauh oleh operator manusia. Grup Norinco China telah mengembangkan Fuxi, sebuah robot humanoid berukuran penuh yang dirancang untuk tugas penjagaan, pengintaian, patroli cerdas, dan pelaksanaan peran-peran berbahaya.

    Untuk saat ini, teknologi tersebut masih dalam tahap pengembangan. Namun para peneliti China mengatakan jika rintangan teknis utama dapat diatasi, robot humanoid pada akhirnya dapat diturunkan ke medan perang.

  • Jepang Tegas Hadapi China dengan Kekuatan Nasional Penuh

    Jepang Tegas Hadapi China dengan Kekuatan Nasional Penuh

    Dalam laporan tahunan pertahanan terbaru yang dirilis Selasa lalu, Jepang menilai situasi keamanan di kawasan makin tidak menentu sejak 2022. Hal ini dipicu oleh modernisasi militer China, program senjata Korea Utara, serta kedekatan hubungan kedua negara itu dengan Rusia.

    Beijing terus memperluas operasi militernya di sekitar Jepang yang berisiko memicu insiden berbahaya. Laporan tersebut menyoroti manuver kapal induk dan jet tempur China baru-baru ini, serta memperingatkan bahwa salah kalkulasi dapat memicu konflik yang lebih besar.

    Laporan ini juga menyoroti potensi China menggunakan taktik grey zone, termasuk memobilisasi kapal patroli pantai  untuk menekan atau memblokade Taiwan.

    Pemerintah Jepang menegaskan akan terus memperkuat kemitraan dengan para sekutunya di Indo-Pasifik, Mereka juga menegaskan bahwa kekuatan militer Jepang tetap berfokus pada pertahanan dan stabilitas kawasan.

  • Pentagon Daftar-hitamkan 90 Universitas dan Lembaga China

    Pentagon Daftar-hitamkan 90 Universitas dan Lembaga China

    Pentagon mengambil langkah lebih lanjut demi mencegah dana pembayar pajak AS mengalir ke militer China. Lebih dari 90 universitas dan lembaga penelitian China dimasukkan ke daftar hitam, menghalangi mereka menerima dana penelitian dari Departemen Perang. Daftar mencakup beberapa universitas sipil paling bergengsi di China.

    Sebelumnya, Pentagon telah memasukkan puluhan lembaga lain yang berhubungan erat dengan militer China dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang bermasalah. Komite Khusus DPR Tentang Partai Komunis China menemukan dalam laporan bulan September bahwa Pentagon telah mendanai proyek-proyek penelitian senilai $2,5 miliar yang berkolaborasi dengan lembaga-lembaga China terkait militer.

    China memiliki kebijakan fusi militer-sipil dan UU Keamanan Nasional 2017 yang mewajibkan semua entitas China menyerahkan informasi apapun atas permintaan negara.

    Bulan lalu Pentagon menamai beberapa perusahaan terbesar China di AS sebagai pihak yang terkait militer China, termasuk pengecer daring Alibaba dan produsen mobil BYD. Setelah berita tersebut, sejumlah pelobi AS memutuskan hubungan dengan perusahaan-perusahaan ini demi mempertahankan hubungan bisnis dengan kontraktor militer AS.

    Juga bulan lalu, Badan Sains Nasional AS melarang dana mereka dialokasikan ke entitas mana pun yang tercantum dalam daftar hitam AS. Lembaga lain seperti Departemen Energi dan Institut Kesehatan Nasional menyatakan mereka juga sedang mempertimbangkan hal serupa.

  • China Batasi Ekspor ke 40 Perusahaan Jepang

    China Batasi Ekspor ke 40 Perusahaan Jepang

    China menambah 40 perusahaan Jepang ke daftar pembatasan ekspor terbaru hari Senin. Banyak dari perusahaan tersebut memproduksi teknologi atau peralatan untuk keperluan sipil atau militer.

    Pembatasan dari Beijing ini mencegah perusahaan-perusahaan China untuk menjual barang penggunaan ganda tertentu pada perusahaan Jepang yang dibatasi.

    Jepang mengecam pembatasan baru itu, menyatakan tidak menerimanya. Pembatasan terjadi setelah ketegangan yang terus meningkat selama berbulan-bulan antara kedua negara. Rezim China terus mengkritik penguatan militer Jepang, serta mengecam pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menyarankan Jepang dapat terlibat secara militer jika China menyerang Taiwan.

    Saat ini, Jepang terus memperluas kemampuan pertahanannya, termasuk menempatkan rudal jarak jauh di pulau-pulau terpencil dan menguatkan kerjasama keamanan dengan sekutu AS di kawasan Indo-Pasifik.

    Pembatasan ekspor ini adalah contoh terbaru dari China yang menggunakan tekanan ekonomi pada negara-negara yang kebijakan keamanannya bertentangan dengan kepentingannya.

  • Sidang DPR AS Bongkar Infiltrasi Jahat PKC di AS

    Sidang DPR AS Bongkar Infiltrasi Jahat PKC di AS

    Dari aktivitas spionase, perang informasi, hingga pemanfaatan jaringan pengaruh. Komite Khusus DPR AS urusan Partai Komunis China membahas pengaruh jahat dan infiltrasi China di tanah AS di Capitol Hill pada Kamis .

    [John Moolenaar, Ketua Komite Khusus untuk PKC]:

    “PKC tidak membedakan mana target nasional dan subnasional. Dewan legislatif negara bagian, pemerintah kota, dewan sekolah, universitas negeri, bisnis lokal, dan komunitas semuanya adalah target yang empuk.”

    Menabur perselisihan adalah salah satu elemen utama dari kampanye pengaruh ini. Menurut investigasi oleh Komite DPR AS, para aktor asing yang bekerja untuk Beijing mendanai sejumlah jaringan organisasi nirlaba AS untuk mengadu domba, bahkan memicu kekerasan di AS. Sebagian besar dana diketahui berasal dari miliarder Neville Roy Singham, penganut Marxisme yang kini menetap di Shanghai.

    [Jason Smith, Ketua Komite DPR Urusan Cara dan Sarana]:

    “Seorang pakar bersaksi tentang bagaimana jaringan Singham memobilisasi, melatih, dan memprovokasi pengunjuk rasa untuk merusak properti, membakar bendera AS, menyerang aparat, menutup bandara dan jembatan di kota besar seperti New York dan Los Angeles. Singham ini punya hubungan dengan Departemen Front Persatuan Kerja PKC, sebuah badan yang bertugas untuk menyebar pengaruh PKC ke seluruh dunia. Ada juga kasus di mana warga negara China membeli lahan pertanian yang dekat fasilitas militer dan infrastruktur krusial AS. Ada juga kasus di sektor pendidikan, bahwa penghasilan pajak AS disalahgunakan untuk mendukung pengembangan militer China.”

    Pakar berkata bahwa untuk memahami rezim komunis PKC harus diawali dengan melihat sifat aslinya secara jernih.

    [Michael Lucci, Pendiri dan CEO State Armor]:

    “Kita perlu menyadari bahwa rezim yang melakukan genosida di daerah mereka sendiri dan sengaja meracuni anak-anak muda kita dengan fentanil adalah aktor yang sama di balik berbagai aktivitas keji lainnya,  bahkan yang sekilas tampak tidak berbahaya.”

  • Eropa Sebut China Latih Tentara Rusia untuk Perang Lawan Ukraina

    Eropa Sebut China Latih Tentara Rusia untuk Perang Lawan Ukraina

    Uni Eropa menyatakan bahwa China memainkan peran dalam perang Rusia melawan Ukraina.

    [Kaja Kallas, Wakil Presiden Komisi Eropa]:

    “Beijing terbukti menjadi penyokong utama perang Rusia melawan Ukraina. Dengan ini, kami menjatuhkan sanksi kepada sejumlah entitas China. Kami juga telah menerima laporan bahwa militer China telah melatih tentara Rusia untuk berperang di Ukraina. Kami sedang mengkaji dampak serius dari tindakan tersebut..”

    Pernyataan tersebut disampaikan Ketua kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kalla, pada Senin setelah pertemuan dengan para menteri luar negeri di Luksemburg. Para pejabat telah menyetujui seperangkat sanksi terbaru yang menargetkan Rusia dan pendukungnya. Sanksi tersebut mencakup dua perusahaan China yang dituduh memasok peralatan kepada industri militer Rusia.

    Pernyataan Kallas merujuk pada investigasi Reuters bulan lalu. Berdasarkan dokumen dan data intelijen Eropa, investigasi itu mengungkap adanya program pelatihan militer rahasia bagi tentara Rusia di China.

    Menurut laporan Reuters, sekitar 200 tentara Rusia dilatih di berbagai fasilitas militer China, termasuk di kota Beijing dan Nanjing, dengan fokus utama pada pengoperasian drone dan taktik tempur. China dengan tegas membantah tuduhan ini, sementara Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Kallas.

  • Pentagon Masukkan Alibaba, BYD, dan Baidu ke Daftar Hitam Perusahaan Militer China

    Pentagon Masukkan Alibaba, BYD, dan Baidu ke Daftar Hitam Perusahaan Militer China

    Pentagon menargetkan beberapa perusahaan terbesar di China, menambahkan lebih dari selusin perusahaan China, termasuk Alibaba, BYD, dan Baidu ke dalam daftar perusahaan militer China yang beroperasi di AS. Para pejabat menyatakan perusahaan-perusahaan ini mendukung kebijakan “militer-sipil terpadu” Partai Komunis China, yang memanfaatkan teknologi sektor swasta untuk meningkatkan kemampuan militer Beijing.

    Penargetan tidak melarang perusahaan AS untuk berbisnis dengan mereka, tetapi melarang kontrak dengan Pentagon. Para analis telah lama memperingatkan taktik spionase China melalui sektor sipilnya.

    Langkah ini terjadi saat Beijing meningkatkan tekanan di wilayah Indo-Pasifik. Selama akhir pekan, China mengerahkan kapal patroli maritim terbesar di sebelah timur Taiwan, yang direspon Taiwan dengan mengerahkan kapal-kapalnya sendiri.

    Hal ini terjadi saat Partai Komunis China kesal dengan kerja sama militer baru-baru ini antara Jepang dan Filipina, yang mendefinisikan batas maritim mereka di perairan yang mungkin diklaim China sebagai miliknya.

    Taiwan mengatakan Beijing menggunakan hal itu sebagai dalih untuk mengerahkan kapal ke wilayah Taiwan.

  • Xi Jinping: Membentuk Keseimbangan Strategis Baru dengan Korut & Rusia

    Xi Jinping: Membentuk Keseimbangan Strategis Baru dengan Korut & Rusia

    Pemimpin China Xi Jinping berada di Pyongyang untuk kunjungan kenegaraan dua hari, yang pertama dalam tujuh tahun. Dibandingkan dengan kunjungan terakhirnya tahun 2019, Korea Utara menyambut Xi dengan lebih agresif. Hanya sehari sebelum kedatangannya, saudari Kim Jong-un mengumumkan program senjata nuklir Korut sama sekali tidak terbuka untuk negosiasi.

    Korut menambahkan program senjata nuklir dalam konstitusinya tahun 2023, dan Kim Jong-un menyatakan status nuklir negara itu tidak dapat dirubah.

    Hari Senin, presiden Korsel secara terbuka menyatakan mereka tetap teguh pada denuklirisasi total, sementara Jepang berkata mereka mengamati pembicaraan antara Xi dan Kim, termasuk soal nuklir.

    Walau Beijing menegaskan keinginannya pada Semenanjung Korea yang bebas nuklir, Xi tetap menekankan dukungan pada Kim yang tidak berubah. Ini membuat para ahli mempertanyakan apakah Xi telah menerima Korut sebagai negara bersenjata nuklir. Di hari kedatangannya, Xi menerbitkan artikel di media negara Korut yang menyerukan kerjasama strategis untuk kebangkitan militer dan hegemoni.

    Malam harinya, Xi dan Kim bertemu, dimana Xi mengusulkan pertukaran militer dan kontak masyarakat yang lebih luas setelah pembukaan lintas perbatasan. Pembicaraan ini terjadi saat Korut semakin dekat dengan Rusia, dimana kedua negara telah menandatangani klausul pertahanan bersama.

    Kim bahkan telah mengirim pasukan untuk membantu perang Rusia di Ukraina, bersama pengiriman senjata dalam jumlah besar. Sebagai balasannya, Vladimir Putin menyediakan teknologi militer canggih bagi Korea Utara.

    Pertanyaan yang menjadi sorotan dalam kunjungan Xi ke Korut ini adalah apakah China sedang berusaha mendekati kemitraan Rusia-Korut. Bulan lalu, Xi menjamu Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing, mempromosikan visinya tentang tatanan dunia multipolar.

    Beberapa analis berpendapat bahwa kunjungannya adalah tanda jelas dinamika perang dingin baru di Asia Timur Laut. Dengan Rusia dan Korut yang memperkuat hubungan mereka, kunjungan dipandan sebagai upaya memberi jaminan ekonomi dan keamanan pada Korut, sekaligus membentuk keseimbangan strategis baru yang berpusat di Beijing.

  • Sejumlah Universitas Militer China Incar Chip AI Nvidia

    Sejumlah Universitas Militer China Incar Chip AI Nvidia

    Laporan Bloomberg mengungkapkan sedikitnya tujuh universitas asal China yang terkoneksi dengan proyek pertahanan dan militer tengah berupaya mendapatkan chip H200 buatan Nvidia. Dua di antaranya merupakan bagian dari China’s Seven Sons of National Defense”, sebuah kelompok yang dikenal menunjang riset dan pengembangan militer dan telah masuk dalam daftar hitam AS.

    Selain itu, lebih dari 25 universitas dan lab riset militer China dilaporkan telah menggunakan atau sedang mencari chip AI Nvidia model lama, beberapa di antaranya menggunakan jasa perantara pihak ketiga.

    Temuan ini membuktikan tingginya ketergantungan China pada chip Nvidia, meski mereka sedang gencar mengembangkan semikonduktor lokal. Kasus ini sekaligus menjadi tantangan besar bagi pemerintah AS dalam melindungi teknologi AI mutakhir agar tidak jatuh ke tangan militer Beijing. Penemuan ini sekaligus memicu pertanyaan apakah sanksi AS saat ini cukup ketat.