Presiden Prancis Emmanuel Macron tiba di China Rabu lalu. Kunjungannya dimaksudkan untuk menarik lebih banyak investasi dari China serta mendapatkan peluang pasar untuk ekspor Prancis. Prancis dan Uni Eropa mengalami defisit perdagangan hingga ratusan miliar dolar dengan China.
Sementara presiden komisi Uni Eropa, Ursula Von der Leyen, tidak tampak hadir bersama Macron. Ketidakhadirannya menandai sesuatu yang janggal. Di hari pertama perjalanan Macron, Komisi Eropa bahkan merilis rencana untuk memperkuat blok tersebut dari ancaman China seperti pembatasan ekspor tanah jarang.
Macron datang bersama 6 menteri dan 35 eksekutif bisnis termasuk Airbus. Kesepakatan yang diharapkan tercapai mencakup bidang energi, pangan dan penerbangan.
Perhatian juga tertuju pada perang Rusia-Ukraina. Menlu Prancis berkata Prancis mengandalkan China untuk membujuk Rusia mengakhiri perang. Senin lalu, Macron baru saja bertemu Presiden Ukraina Zelenskyy guna membahas rincian gencatan senjata.
Sebaliknya China meminta dukungan Prancis dalam pertikaiannya dengan Jepang seputar Taiwan. Pekan lalu, diplomat China Wang Yi, mendesak penasihat diplomatik Macron untuk mengecam pernyataan perdana mentri Jepang yang dianggapnya provokatif. Pada kunjungan sebelumnya ke China tahun 2023, Macron menghimbau negara-negara Eropa agar tidak gegabah mengikuti kebijakan AS untuk mendukung Taiwan. Pernyataannya menuai banyak kontroversi saat itu.
Macron akan bertemu Xi Jinping di Beijing pada Kamis. Keduanya akan mengunjungi kota Chengdu, barat daya China. Sementara Perdana menteri Inggris dan kanselir Jerman dijadwalkan akan mengunjungi China tahun depan.
