Fokus

Mengungkap Akar Historis Bias di The New York Times

Gedung New York Times di Kota New York pada 31 Agustus 2021.
Gedung New York Times di Kota New York pada 31 Agustus 2021. (Samira Bouaou/The Epoch Times)

Artikel komentar – oleh Luo Ya

Sejak Agustus 2024, The New York Times telah menerbitkan sembilan artikel dalam waktu kurang dari lima bulan, yang menyerang Shen Yun Performing Arts, dan mengecilkan latihan spiritual Falun Gong. Artikel-artikel tersebut secara terang-terangan memutarbalikkan fakta-fakta penting, khususnya dengan mengabaikan kejahatan yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap para praktisi Falun Gong dan orang-orang Tiongkok. Feng Chongyi, seorang sarjana Australia yang telah mengikuti isu ini dengan saksama, berpendapat bahwa bias surat kabar tersebut, mencerminkan sikap pro-PKT dan prasangka historisnya yang sudah berlangsung lama.

Menyerang Falun Gong Merusak Prinsip Kebebasan Beragama

Feng Chongyi, profesor madya Studi Tiongkok di Universitas Teknologi di Sydney, mengatakan kepada The Epoch Times edisi bahasa Mandarin pada 11 Januari, bahwa meskipun kebebasan berbicara dan pers merupakan hal yang penting bagi masyarakat demokratis, kebebasan tersebut harus diseimbangkan dengan penghormatan terhadap kebebasan beragama dan spiritual.

Menanggapi artikel-artikel negatif di The New York Times, dia menekankan bahwa menghormati keyakinan agama orang lain merupakan prinsip dasar yang memperkuat nilai-nilai demokrasi.

The New York Times mendasarkan tuduhannya yang luas pada klaim sekelompok kecil individu yang tidak puas, tanpa memberikan bukti atau mengungkapkan konflik kepentingan yang jelas di antara mereka. Surat kabar tersebut menggambarkan Shen Yun Performing Arts sebagai organisasi yang kejam, keberhasilannya sebagai eksploitatif, serta pengikut Falun Gong sebagai pihak yang tertipu. Sebagai tanggapan, The Epoch Times telah menerbitkan serangkaian artikel, dan Pusat Informasi Falun Dafa merilis sebuah artikel berjudul “12 Hal yang Perlu Diketahui Tentang ‘Investigasi’ The New York Times terhadap Shen Yun dan Falun Gong.”

Feng berpendapat bahwa The New York Times mengabaikan prinsip-prinsip jurnalisme fundamental, dan mengandalkan generalisasi yang luas dalam artikel-artikel terbarunya.

“The New York Times telah melewati batas dengan serangannya terhadap praktisi Falun Gong. Serangan itu merusak prinsip-prinsip kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ini tidak dapat diterima dan merupakan pelanggaran etika profesional,” katanya.

Feng Chongyi, pakar Tiongkok dan profesor madya di Universitas Teknologi Sydney, berbicara dalam sebuah wawancara dengan NTD di sebuah demonstrasi Hari Hak Asasi Manusia Internasional di Sydney, pada 10 Desember 2022. (Wang Nan/NTD)

Dampak dan Pertumbuhan Falun Gong

Diperkenalkan pada tahun 1992, Falun Gong dengan cepat mendapatkan pengikut di seluruh Tiongkok, dengan para praktisinya yang berusaha untuk meningkatkan karakter moral dan kesehatan mereka, dengan berasimilasi sesuai prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Jutaan orang di Tiongkok dan seluruh dunia telah mulai berlatih Falun Gong selama beberapa tahun terakhir, dan Falun Gong merupakan organisasi spiritual yang diakui secara hukum di Amerika Serikat serta negara-negara lain. Akan tetapi, The New York Times gagal mengakui manfaat yang diperoleh para praktisi itu dari latihan mereka.

Feng menyoroti pentingnya pertumbuhan dan dampak Falun Gong pada masyarakat.

“Pentingnya Falun Gong sangat mendalam. Falun Gong telah berkembang menjadi gerakan global, menyebar ke seluruh dunia. Dari perspektif sosiologi agama, sistem kepercayaan dapat dipahami dalam dua tingkatan: teologis dan moral. Misalnya, agama Kristen membahas asal-usul kehidupan dan alam semesta, sementara agama Buddha menjelaskan konsep-konsep seperti reinkarnasi—keduanya termasuk dalam sistem kepercayaan teologis.”

“Pada tingkat moral, agama Buddha memiliki aturan dan ajaran, dan agama Kristen memiliki Sepuluh Perintah, yang keduanya merupakan bagian dari etika agama,” katanya. “Dalam hal ini, saya melihat prinsip-prinsip inti Falun Gong—Sejati, Baik, Sabar—terutama sebagai kerangka moral.”

“Jajak pendapat jalanan akan menunjukkan dukungan yang luar biasa, karena praktisi Falun Gong dikenal luas atas kebaikan serta komitmen mereka untuk berbuat baik,” katanya. “Dalam menghadapi rezim Tiongkok yang korup dan otoriter, prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar menawarkan bimbingan moral yang penting, serta menumbuhkan pertumbuhan moral pribadi.”

Praktisi Falun Gong di National Mall di Washington pada tanggal 20 Juli 2023. (Samira Bouaou/The Epoch Times)

Mengingat dampak positif Falun Gong pada masyarakat, mengapa PKT menyimpan rasa takut dan permusuhan terhadap latihan tersebut? Rezim komunis telah menganiaya Falun Gong sejak tahun 1999, memperluas upayanya bahkan melampaui batas negara Tiongkok. Feng mengaitkan hal ini dengan sifat totalitarianisme komunis. Sepanjang kekuasaan dan pemerintahannya yang berkelanjutan, PKT telah mempertahankan kendali dengan menyingkirkan pesaing politik serta menekan perbedaan pendapat ideologis.

“Rezim totaliter PKT berusaha untuk mengendalikan secara absolut semua aspek kekuasaan—politik, ekonomi, dan ideologis,” katanya. “Kekuasaannya dibangun atas dasar penghapusan oposisi, baik politik maupun ideologis, dan menekan keyakinan apa pun yang ada di luar kerangka kerjanya. Inilah sebabnya PKT menargetkan Falun Gong. Sifat totalitarianisme memaksanya untuk membasmi sistem ideologis, moral, atau organisasi yang independen.”

Feng mengamati bahwa, dari perspektif politik dan sosiologis, Falun Gong telah muncul sebagai oposisi terbesar dan paling tangguh terhadap PKT. Akibatnya, rezim tersebut, yang didorong oleh sifat intrinsiknya, bertekad untuk memberantas Falun Gong dengan segala cara, terlepas dari fokus kelompok tersebut pada perilaku moral dan latihan spiritual.

(Kiri) Dua polisi Tiongkok menangkap seorang praktisi Falun Gong di Lapangan Tiananmen di Beijing pada 10 Januari 2000. (Kanan) Polisi Tiongkok menahan seorang praktisi Falun Gong di Lapangan Tiananmen di Beijing, dalam foto arsip ini. (Chien-Min Chung/Foto AP, Minghui)

Bias Sejarah The New York Times

Setelah serangan The New York Times terhadap Shen Yun, sejarah pelaporannya yang pro-komunis dan pro-PKT kembali mendapat sorotan.

Pada tahun 1930-an, selama Holodomor Soviet di Ukraina, jurnalis The New York Times, Walter Duranty mengklaim bahwa laporan tentang kelaparan itu sebagian besar dibesar-besarkan, dan menganggap kematian jutaan orang sebagai rekayasa. Duranty juga membela kebijakan Stalin.

Pada bulan Januari 2001, ketika PKT menggelar insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen Beijing, dan bersikeras bahwa orang-orang yang terlibat adalah praktisi Falun Gong, The New York Times—tidak seperti The Washington Post, yang mengirim wartawan untuk menyelidiki klaim tersebut—secara tidak kritis menerima narasi PKT sebagai fakta. Insiden itu terungkap sebagai peristiwa bendera palsu yang dikoreografi oleh PKT, untuk membuat orang-orang di Tiongkok menentang Falun Gong.

Pada tahun 2017, The New York Times juga menerbitkan artikel dengan judul seperti “Masa Depan Sosialisme Mungkin Sudah Berlalu” dan “Bagaimana Partai Komunis Membimbing Tiongkok Menuju Keberhasilan.” Artikel pertama menyatakan bahwa “Kita mungkin menolak versi [komunisme] Lenin dan Bolshevik sebagai setan gila,” sementara judul artikel kedua sangat mirip dengan artikel yang diterbitkan oleh media negara rezim komunis, “Mengapa Partai Komunis Mampu Berhasil.”

Seorang pakar rezim komunis, Feng mengatakan kepada The Epoch Times bahwa bias media Barat dapat ditelusuri kembali ke era Soviet, ketika banyak jurnalis mengabaikan kebrutalan Stalin dan bahkan membela tindakannya. Demikian pula, jurnalis sayap kiri seperti Edgar Snow, penulis “Red Star Over China,” dan Agnes Smedley, yang menulis biografi jenderal komunis Tiongkok, Zhu De, menggambarkan PKT sebagai kekuatan moral yang memperjuangkan kepentingan rakyat, saat melaporkan dari Yan’an selama Perang Saudara Tiongkok. Ini ironis, karena para jurnalis ini mendukung rezim yang secara langsung bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi serta kemanusiaan yang mereka akui untuk dijunjung tinggi.

Feng menyatakan bahwa media pro-komunis, yang memiliki landasan ideologis Marxisme-Leninisme yang sama dengan Partai Komunis, memiliki rasa solidaritas yang mendalam dengan rezim-rezim pembunuh tersebut. Ideologi bersama ini membuat mereka menutupi kelompok-kelompok kriminal yang menginjak-injak moralitas dasar manusia, menggambarkan seluruh revolusi komunis sebagai gerakan untuk demokrasi dan kebebasan. Ini benar-benar mengkhawatirkan.

“Sejarah ini membentang dari Perang Dunia II hingga saat ini, dengan dampak buruknya yang masih terasa hingga saat ini,” kata Feng. “Sejarah ini telah menyesatkan seluruh dunia bebas, secara langsung membentuk diplomasi AS, strategi militer, dan kebijakan pemerintah. Hal ini pada akhirnya menyebabkan ditinggalkannya Partai Nasionalis Chiang Kai-shek demi mendukung PKT atau mengadopsi kebijakan yang menenangkannya.”

Feng menunjukkan bahwa sifat jahat Partai Komunis Tiongkok terungkap setelah runtuhnya Uni Soviet dan rezim komunis Eropa Timur. Namun, media seperti The New York Times, dan khususnya beberapa jurnalis sayap kirinya, masih berpegang pada bias ideologis mereka, bersimpati dengan PKT dan mendukung rezim otoriternya. Bias ini membuat mereka menerima kebohongan Partai secara membabi buta.

“Terkadang ketika Anda membaca opini tertentu di The New York Times, opini tersebut hampir terdengar seperti tajuk rencana dari People’s Daily,” corong PKT.

“Cukup mengganggu, tapi tidak sepenuhnya mengejutkan—ada konteks historisnya,” kata Feng. “Mereka telah mengadopsi narasi yang diberikan PKT kepada mereka, dan penghujatan terhadap Falun Gong adalah contoh utama. Ketika perspektif Anda salah, pemahaman Anda menjadi terdistorsi, dan tindakan Anda mengikutinya dengan cara yang aneh.”

Feng mengakui bahwa tidak semua orang di The New York Times pro-PKT, tapi bias surat kabar tersebut sering kali membuatnya bergantung pada sumber PKT ketika meliput Falun Gong dan Tiongkok, sambil mengabaikan media independen serta kebenaran yang mereka sampaikan. Hal ini, katanya, sangat disesalkan.

“The New York Times, surat kabar global yang disegani, sayangnya menjadi corong rezim komunis,” katanya.

Dukungan Buta Memajukan Agenda PKT

The New York Times juga telah menerbitkan artikel yang menyerang The Epoch Times, menyoroti rincian yang menyesatkan untuk menggambarkan tempat kerjanya sebagai disfungsional.

Situs web propaganda PKT dengan cepat memanfaatkan dan memperkuat laporan The New York Times yang menyerang The Epoch Times.

Feng mencatat bahwa outlet media seperti The Epoch Times dan NTD, yang didirikan oleh praktisi Falun Gong di Amerika Serikat, telah menghabiskan lebih dari dua dekade mengungkap tirani PKT, termasuk kejahatannya dalam pengambilan organ yang disponsori negara. Pekerjaan mereka telah berperan penting dalam meningkatkan kesadaran global, termasuk di Tiongkok. Sementara The New York Times mungkin menunjukkan kekurangan dalam laporan tertentu, mengabaikan seluruh outlet dan menjelek-jelekkan upayanya adalah tidak adil, dan berfungsi untuk mengecilkan kontribusi signifikan yang telah dibuat media ini dalam mengungkap pelanggaran PKT.

“Mereka mencoreng media dan kelompok yang menentang PKT,” kata Feng. “Itu tidak hanya tidak etis tapi, yang terburuk, itu adalah kolusi kriminal dengan rezim, menyerang pengunjuk rasa yang tidak bersalah dan media independen. Ini tidak dapat dimaafkan.”

Feng percaya bahwa sementara beberapa staf di media Barat mungkin telah dibeli oleh PKT, yang lain dibutakan oleh bias politik. Mereka percaya bahwa mereka benar, tapi di mata rezim komunis, mereka adalah apa yang dikenal sebagai “idiot yang berguna.” Pada kenyataannya, mereka membantu rezim komunis, dan bertindak sebagai kaki tangannya.

Istilah “idiot yang berguna” dikatakan telah diciptakan oleh Lenin, dan mengacu pada non-komunis yang mudah dipengaruhi dan dimanipulasi oleh propaganda komunis.

Penindasan Lintas Batas PKT Pasti Akan Gagal

Baru-baru ini, sumber-sumber di dalam PKT telah mengungkap lebih jauh rencana rahasia rezim tersebut, dengan mengungkapkan bahwa kampanye internasionalnya melawan Falun Gong adalah bagian dari strategi yang lebih luas, yang menargetkan Amerika Serikat. PKT telah merekrut orang-orang yang mengenal Falun Gong, yang sering disebut sebagai “troll internet” atau “propagandis bayaran,” untuk menyebarkan rumor dan informasi yang salah, dengan mengklaim bahwa Falun Gong melanggar hukum AS, atau mengabaikan kebijakan pemerintah AS. Kampanye ini bertujuan untuk menghasilkan tekanan publik terhadap pemerintah AS agar menarik pengakuannya terhadap kebebasan beragama Falun Gong, dengan tujuan akhir melarang kelompok tersebut di Amerika Serikat.

Feng menegaskan bahwa upaya penindasan lintas batas PKT untuk melenyapkan Falun Gong ditakdirkan untuk gagal.

“Sifat totalitarianisme mendikte aturan untuk kelangsungan hidupnya, yang melibatkan pemusnahan kekuatan yang berlawanan, pembangkang, dan kritikus, baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” katanya. “Namun, ketika Anda membandingkan dengan kekuatan yang berperan saat ini, mereka yang memperjuangkan kebenaran, hak asasi manusia, dan demokrasi, jauh lebih besar daripada kekuatan PKT. Di situlah letak keyakinan kita.”

Feng percaya bahwa ketika media seperti The Epoch Times terus mengungkap tirani PKT, semakin banyak orang yang menyadari sifat aslinya. Namun, banyak yang masih belum menyadarinya, dan media harus terus berusaha menjangkau serta menyadarkan lebih banyak orang.

“PKT berada pada tahap akhir, menghadapi keruntuhan yang tak terelakkan. Semakin banyak orang yang menyadari sifat sejatinya. Dalam masyarakat demokratis, banyak yang berkomitmen untuk memenangkan Perang Dingin kedua, seperti yang kita lakukan pada Perang Dingin pertama dengan mengalahkan Uni Soviet. Sekarang, fokusnya adalah membongkar rezim PKT yang menindas. Tren yang lebih luas menunjukkan kejatuhannya pada akhirnya. Kami yakin akan masa depan, dan tetap optimis saat kami melanjutkan pekerjaan penting kami,” katanya. (ntd)

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini merupakan pendapat penulis dan belum tentu mencerminkan pandangan NTD.com.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor

situs slot gacor