China berperan besar dalam memanasnya konflik Iran Israel. Selain membeli minyak, China diduga menyalurkan senjata dan bahan bakar rudal ke Iran. Sejauh ini, Israel menghindari menyerang pusat ekspor minyak Iran.
Jika ini berubah, Beijing berisiko kehilangan sumber energi minyak murah. Terkait perkembangan ini, Jubir Gedung Putih Karoline Leavitt berkata ia tidak percaya ada sinyal China terlibat mendukung Iran secara militer, namun kekhawatiran akan hubungan China dan Iran kian meningkat.
Laporan minggu ini menyebut Iran mengekspor sekitar 1,7 juta barel minyak per hari, lebih dari 90% nya menuju China. Ini terjadi setelah Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir dan kembali memberlakukan sanksi pada Iran selama masa jabatan pertamanya, demi menghambat ambisi nuklir Iran dan memutus pendanaan proxi.
Sejak itu, China menjadi pembeli setia minyak Iran, kerap membayar dengan mata uang sendiri hingga memaksa Iran membelanjakannya untuk impor China. Pendapatan minyak itu kini menjadi sumber dana bagi perang Iran melawan Israel. Namun, hubungan China-Iran tidak sekedar pada sektor energi. Laporan menyebut Beijing juga mendukung program rudal dan nuklir Iran, termasuk pengiriman bahan bakar rudal.
Sejak Januari, China diketahui memasok bahan bakar rudal ke Iran. Jumat lalu, setelah Israel menyerang Tehran, sebuah pesawat kargo China terbang menuju Iran dan menghilang dari radar. Dalam beberapa hari berikutnya, menyusul dua pesawat serupa melewati rute yang sama. Ketiga pesawat itu merupakan jenis kargo Boeing 747 yang biasa dipakai untuk mengangkut peralatan militer berat.
Tanpa inspeksi lanjut, tidak diketahui isi muatan pesawat-pesawat tersebut.
Beberapa laporan menyebut China memiliki riwayat memasok material rudal ke Iran kendati mendapat kritik internasional. Seorang pengamat China – Timur Tengah berkata, meski peluang dukungan militer terbuka dari China kecil, kemungkinan itu tetap ada.
