Iran menjadi sorotan seiring berlanjutnya ketegangan dengan AS. Tehran memperingatkan Trump agar tidak mengambil tindakan apapun terhadap pemimpin negara tersebut.
Komentar dari Iran muncul beberapa hari setelah Presiden Trump menyerukan diakhirinya pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei yang hampir 40 tahun. Menlu Iran mengeluarkan ancaman langsung terhadap AS, memperingatkan bahwa jika diserang Iran akan membalas dengan tanda kutip, “semua yang kami miliki”.
Sementara, pasukan AS sedang memposisikan ulang ke arah Timur Tengah, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln.
China mengamati perkembangan situasi di Iran. Beijing telah memainkan peran utama dalam menopang perekonomian Iran, memandangnya sebagai negara penting bagi Inisiatif Belt and Road. China berkomitmen hingga 400 miliar dolar dalam investasi kerjasama 25 tahun.
Iran memasok minyak, yang lebih dari 90% nya dibeli oleh China meskipun ada sanksi AS. Menurut seorang pakar China hal ini mendukung upaya Beijing untuk perdagangan energi berbasis yuan dan de-dolarisasi.
Lembaga pemikir Atlantic Council melaporkan bahwa Iran, Rusia dan China sekarang jual beli minyak sanksi dalam mata uang China. Namun, analis berkata jika Iran beralih ke Barat, China dapat kehilangan pengaruh utama di Timur Tengah.

