Fokus

Percepatan Perluasan Hulu Ledak Nuklir China Tantang A.S.

Dengan berkecamuknya perang di Ukraina dan Timur Tengah, kekhawatiran muncul mengenai apakah China dan Taiwan bisa menjadi yang berikutnya, dan berapa banyak kekuatan Beijing. China diyakini memiliki sedikitnya 600 hulu ledak nuklir, dan para ahli memperingatkan China dapat segera menyaingin AS dan Rusia dalam rudal jarak jauh.

Itu menurut laporan baru dari Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm yang dirilis hari Senin. Laporan berkata persenjataan nuklir China tumbuh lebih cepat dari negara lain, dengan penambahan sekitar 100 hulu ledak per tahun sejak 2023.

Peningkatan ini mendorong persediaan Beijing menjadi sedikitnya 600 hulu ledak pada awal 2025 dan diperkirakan akan terus bertambah. Secara global, ada sekitar 12.000 hulu ledak nuklir dengan AS dan Rusia mengendalikan sekitar 90% di antaranya.

Percepatan perluasan senjata nuklir China telah menimbulkan kekhawatiran, selain fakta bahwa perjanjian New START antara AS-Rusia akan berakhir di awal 2026. Perjanjian ini ditandatangani pada 2010, membatasi berapa banyak hulu ledak nuklir yang dapat dikerahkan AS dan Rusia. Karena belum ada penggantinya, para ahli khawatir kedua negara dapat meningkatkan kekuatan nuklir mereka setelah kesepakatan berakhir.

Dengan kemajuan AI dan perang siber, perlombaan senjata nuklir bisa jauh lebih berbahaya. Awal tahun ini, Presiden Trump berkata bahwa setiap kesepakatan pengendalian senjata di masa depan harus mencakup persenjataan nuklir China.