Berita bahwa Presiden Trump akan mengenakan biaya $100.000 untuk visa H1B menggemparkan AS. Kebijakan ini, yang mulai berlaku pada 21 September, telah memicu beragam reaksi baik di dalam maupun luar negeri. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana aturan ini akan memengaruhi masa depan teknologi Amerika dan apa artinya bagi persaingan teknologi AS China? Dua analis urusan China di AS menguraikannya sebagai berikut.
[Dr. Jason Ma, Komentator Urusan China NTD]:
“Kini, peraturan baru ini jelas adalah kabar baik bagi mahasiswa asing yang telah belajar di universitas AS atau bagi orang asing yang baru saja mendapat pekerjaan di AS, karena manfaatnya jelas lebih besar dari kerugiannya.”
Ma adalah salah satu dari banyak pendukung biaya visa baru ini. Pekan lalu, Presiden Trump mengatakan bahwa program visa non-imigran, juga disebut H-1B, telah disalahgunakan oleh banyak perusahaan outsourcing. Mereka mendatangkan sejumlah besar pekerja asing dengan keterampilan dan upah yang lebih rendah ke AS. Banyak yang dipekerjakan untuk proyek sementara, alih-alih kontrak jangka panjang. Laporan itu menyebut penyalahgunaan ini sebagai ancaman keamanan nasional dan menuduh perusahaan melakukan penipuan visa. Kini, biaya H-1B yang lebih tinggi dimaksudkan untuk menyaring pekerja berketerampilan rendah.
Ma berkata ini dapat mempermudah mahasiswa internasional berketerampilan tinggi di AS untuk mendapatkan visa H-1B.
[Dr. Jason Ma, Komentator Urusan China NTD]:
“Banyak perusahaan outsourcing IT dalam pengumuman presiden, dikenal memanipulasi sistem H1B. Ini adalah fakta yang diketahui semua orang. Perusahaan-perusahaan ini berspesialisasi melakukan itu, dan seluruh model bisnis mereka dibangun berdasarkan eksploitasi sistem H1B.”
Pemohon dari India akan merasakan dampak terbesar dari biaya H1B yang baru dibandingkan dengan warga negara asing lainnya. Laporan terbaru dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menunjukkan pada tahun fiskal 2024, 71% visa H-1B yang disetujui diberikan kepada pemohon India. China berada di posisi kedua, dengan hampir 12% persetujuan. Namun, beberapa pakar berkata, ada gambaran yang lebih besar bagi China, seiring AS menaikkan biaya visa H-1B.
[Jiang Feng, Komentator Urusan China NTD]:
“Yang kami khawatirkan adalah pertempuran di masa depan dengan China. Lihatlah China, Kanada, dan bahkan negara-negara di seluruh Eropa. Mereka membuka tangan lebar-lebar, meluncurkan kebijakan insentif yang sangat menarik, dan secara agresif memilih talenta di seluruh dunia. Ini seperti memanen daun teh yang paling segar. Mereka menginginkan yang paling harum. Para ilmuwan, insinyur, dan pengusaha telah dikucilkan oleh Amerika.”
Pada hari Senin, juru bicara Kemenlu China berkata China tidak berkomentar mengenai kebijakan visa AS. Ia menambahkan bahwa China menyambut bakat dari seluruh dunia untuk datang ke China dan membangun karier mereka di China. Namun, pilihan itu mungkin tidak semenarik kedengarannya. China terus menghadapi kritik atas penangkapan sewenang-wenang dan larangan keluar bagi warga negara asing. Namun, banyak pakar AS memperingatkan bahwa kebijakan visa baru ini dapat merugikan daya saing Amerika di sektor teknologi.
