Presiden Trump mengatakan ada kemungkinan AS akan mencapai kesepakatan damai dengan Iran sebelum kunjungannya ke China. Hal ini disampaikan setelah China mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz pasca pembicaraan dengan menlu Iran di Beijing.
Trump menyatakan bahwa dirinya optimis ada peluang perang akan berakhir, namun mengancam akan kembali membom Iran apabila kesepakatan gagal dicapai.
Sebelumnya Trump telah memperingatkan bahwa AS akan melanjutkan pengeboman dengan skala yang jauh lebih besar dan intensif jika Iran tidak menyetujui kesepakatan.
Sementara itu di Beijing, delegasi China dan Iran bertemu untuk pertama kalinya sejak perang dimulai. Delegasi China, Wang Yi menyerukan dibukanya kembali Selat Hormuz serta menyampaikan keprihatinannya atas perang dan menyarankan gencatan senjata komprehensif.
Pemerintah AS meminta China membujuk Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, mengingat jalur tersebut merupakan jalur vital bagi 1/5 pasokan minyak dan gas dunia.
[Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS]:
“Ini demi kepentingan China agar Iran berhenti menutup selat tersebut. Hal itu tentu merugikan China. Ekonomi China sangat bergantung pada ekspor. Artinya mereka bergantung pada negara lain untuk membeli barang mereka. Nah, Anda tidak bisa membeli dari mereka jika pengiriman terhambat. Anda tidak bisa membeli dari mereka jika ekonomi Anda sedang hancur.”
Menlu Iran juga memberi tahu Wang mengenai perkembangan dalam negosiasi dengan AS dan rencana Iran untuk mengakhiri konflik.
Perlu dicatat, kunjungan menlu Iran ini adalah atas undangan Beijing hanya seminggu sebelum pertemuan Trump dan Xi.
Seorang peneliti Taiwan mengatakan kepada The Epoch Times bahwa kedua diplomat tersebut kemungkinan membahas strategi untuk menghadapi AS. Ia menilai pernyataan resmi mereka hanya sekadar retorika dan menduga Trump bakal menyoroti dukungan Beijing bagi Tehran. Menurutnya, Beijing punya kepentingan agar Iran mendapatkan kembali kekuatannya demi mengalihkan fokus AS dari wilayah Indo-Pasifik dan melawan China.
Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, mengatakan pembelian minyak Iran oleh China akan menjadi bagian dalam pembicaraan antara Presiden Trump dan pemimpin Partai Komunis China, Xi Jinping.
[Jamieson Greer, Perwakilan Dagang AS]:
“Kami tidak ingin ini menjadi sesuatu yang bisa merusak hubungan atau kesepakatan apa pun yang mungkin dihasilkan dari pertemuan kali ini, namun ini tentu merupakan poin yang akan kami angkat.”
Iran menjual mayoritas minyaknya ke China. AS menjatuhkan sanksi kepada lima perusahaan kilang minyak China guna memutus pendapatan Iran namun Beijing menginstruksikan perusahaan itu untuk mengabaikannya.
Menlu AS Marco Rubio mengatakan pelanggaran HAM oleh China tetap menjadi perhatian utama bagi pemerintahan Trump. Rubio mengatakan topik itu termasuk dalam agenda kunjungan Trump ke Beijing.
[Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS]:
“Kami selalu mengangkat isu tersebut karena bagi kami itu juga penting di antara isu lainnya, namun isu tersebut tetap menjadi prioritas dalam pandangan dan pembahasan kami. Dan kami akan terus mengangkatnya di forum-forum yang tepat.”
Pada 2024, saat menjabat sebagai senator AS, Rubio memperkenalkan RUU yang bertujuan untuk menghentikan praktik pengambilan organ terhadap praktisi Falun Gong oleh rezim China. Maret lalu, RUU itu diajukan kembali oleh Senator Ted Cruz dan Jeff Merkley. RUU ini berupaya menjatuhkan sanksi kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penyalahgunaan tersebut. Sementara soal Taiwan, Rubio mengatakan yakin hal itu akan menjadi topik pembahasan.
