Fokus

Xi Jinping di Tibet: Kunjungan Mewah Diselimuti Kejanggalan Politik

Pemimpin China, Xi Jinping baru saja melakukan kunjungan keduanya ke Tibet. Penampilan Xi kali ini dianggap yang paling menonjol dalam beberapa bulan terakhir, dengan sambutan mewah dan karpet merah. Namun apakah ini pertunjukkan belaka? Pengamat mengutarakan adanya kejanggalan dalam peristiwa ini. Sinyal melemahnya kekuasaan Xi telah beredar luas, ditandai dengan pembersihan orang-orang kepercayaan Xi serta minimnya pemberitaan media. Tapi tampaknya semua itu berubah dalam sekejap.

Xi tampil memukau publik pada kunjungannya ke Tibet Rabu lalu, Xi tampak melambaikan tangan ke kamera media. Acara itu menandai hari jadi ke-60 pengambilalihan Himalaya oleh Partai Komunis China. Hampir tidak ada media Barat yang diizinkan meliput secara langsung. Media besar seperti BBC dan CNN hanya mengandalkan gambar kiriman Beijing, sementara yang lain menggunakan gambar pemandangan Tibet. Para analis memperhatikan sesuatu yang tidak biasa. Xi terlihat dengan rambut yang tampak memutih

Analis Jiang Feng berkata perubahan ini bisa membawa pesan yang dalam.

[Jiang Feng, Analis Urusan China]:

“Dalam konteks politik PKC, kemunculan seorang pemimpin di publik dengan warna rambut hitam dianggap kultur politik wajib karena melambangkan vitalitas, kesehatan, dan kekuasaan. Namun, kali ini hal itu tidak berlaku.

Xi Jinping juga mengunjungi prajurit militer China di Tibet, namun pemimpin senior, termasuk orang nomor dua di militer China dan komandan wilayah Tibet, tidak hadir dalam acara tersebut.

Dibawah protokol PKC, adalah kewajiban bagi petinggi militer mendampingi kepala negara. Ini adalah kali ketiga pimpinan militer Zhang Youxia, tidak mendampingi Xi dalam kunjungan militer. Zhang Youxia dikenal sebagai lawan utama Xi. Cuplikan dari stasiun TV PKC memperlihatkan Xi hanya ditemani oleh beberapa pejabat berpangkat rendah. Analis senior urusan China, Tan Jingyuan, memberikan pandangannya.

[Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

“Pengaturan ini bukan sekedar kesenjangan dalam standar pangkat, tetapi sama sekali tidak sesuai. Ketika sekelas kepala negara meninjau pasukan, yang wajib mendampingi adalah komandan militer atau pejabat politik senior.”

Terlebih salah seorang kandidat dari faksi anti-Xi, yang sebelumnya hampir tersingkir dari rezim, juga hadir dalam tim delegasi Tibet. Para analis mengatakan hal ini tidak mungkin terjadi jika Xi masih memegang tampuk kekuasaan.