Lebaran kali ini terasa sangat berbeda.
Mulai dari Sholat Ied di rumah, tidak ada tradisi mudik, dan tidak ada kunjungan ke rumah kerabat dan teman-teman lain. Mungkin pada tahun-tahun sebelumnya, saat ini media televisi sedang menyiarkan suasana lebaran di berbagai kota dan melaporkan siaran langsung kondisi arus mudik bahkan sejak satu minggu menjelang hari raya.
Meski ada sebagian orang yang masih bisa melakukan tradisi seperti biasanya, namun banyak yang memilih untuk tetap berada di rumah. Mungkin terasa menyedihkan karena tahun ini tidak dapat bertemu dengan keluarga besar, terlebih, saat melihat beberapa orang masih bisa melakukan tradisi yang sama. Namun jika menengok kembali perjuangan dari teman atau kerabat lain yang tetap harus bekerja di luar dan bertemu dengan banyak orang dalam kondisi seperti ini maupun mereka yang terpapar oleh virus dan harus berjuang untuk kesehatannya di rumah sakit, tentunya kita menyadari, bahwa tetap berada di rumah sudah merupakan berkah tersendiri bagi kita.
Beberapa orang menyiasati dengan teknologi yang ada untuk memperpendek jarak. Mereka bersilaturahmi dengan keluarga besar, kerabat, dan teman?teman lama dengan bantuan “video conference.” Meski terasa berbeda, namun setidaknya dapat mengobati tradisi silaturahmi yang biasa dilakukan.
Aktivitas-aktivitas diatas adalah bagian kecil dari adaptasi yang kita lakukan di masa pandemi ini. Kita semua tahu, pandemi telah mengubah banyak hal. Namun ada satu hal yang sudah lama ditinggalkan, tumbuh kembali di masa pandemi. Kita menyaksikan sendiri bagaimana kebaikan-kebaikan dan kesadaran berbagi, tumbuh di berbagai kalangan.
Kita dapat menyaksikan seorang perancang busana kebaya kenamaan mengubah rumah produksi kebayanya menjadi produksi APD dengan dana yang didapatkan dari para donatur untuk kemudian disumbangkan ke rumah sakit-rumah sakit di seluruh Indonesia. Kita juga dapat menyaksikan rangkaian konser musik (yang dilakukan dari rumah masing-masing) oleh para artis ternama untuk menggalang dana, membantu penanganan pandemi dan disalurkan pada kelompok yang paling rentan, terutama tenaga medis dan masyarakat kecil yang terpaksa harus terus bekerja di luar rumah.
Di kalangan masyarakat juga tumbuh kesadaran sendiri untuk berbagi masker atau berbagi pesanan makanan untuk abang ojek online yang membelinya, atau berdonasi di grup reuni sekolah, atau bahkan menjadi relawan di gugus tugas.
Kebaikan-kebaikan ini dahulu melekat pada jiwa masyarakat Indonesia dalam wujud budaya gotong royong. Warisan budaya leluhur yang melakukan kebaikan tanpa memandang suku, agama, ras, maupun antar golongan. Budaya yang dewasa ini, terasa menjauh karena tertutup oleh sifat individualisme di tengah globalisme kota-kota besar di Indonesia, bahkan di dunia.
Di saat kondisi yang serba tidak menentu ini, menumbuhkan kebaikan dalam diri masing-masing individu mungkin akan menjadi salah satu cahaya bagi kehidupan bermasyarakat. Mengapa? Karena kebaikan itu ternyata menjalar. Dalam laman randomactsofkindness.org disebutkan bahwa efek positif dari “kebaikan” akan dialami pada otak setiap orang yang menyaksikan tindakan itu. “Kebaikan” memperbaiki suasana hati dan membuat orang yang menyaksikannya lebih mungkin untuk “melakukan hal yang sama di kemudian hari.” Ini berarti satu perbuatan baik di daerah yang ramai dapat menciptakan efek domino dan mengangkat suasana hati serta kehidupan lusinan orang di daerah itu.
Artikel lain dalam laman huffpost menyebutkan penelitian dalam jurnal Biological Psychiatry menemukan bahwa aktivitas di sistem saraf simpatis dan parasimpatis responden memuncak saat melihat aksi heroik, suatu kombinasi respon yang tidak biasa yang menunjukkan respons fight-or-flight (semacam kondisi siaga dan siap untuk menjalankan respon dari otak) sekaligus respons menenangkan diri.
Menurut peneliti, hal ini mungkin karena menyaksikan tindakan yang berbelas kasih mengharuskan responden menyaksikan penderitaan dan kemudian memberlakukan respons stres dan mengaktifkan sistem saraf simpatik. Kemudian, begitu melihat penderitaan diringankan melalui tindakan kebaikan, hati terasa tenang dan sistem saraf parasimpatis diaktifkan.
Maka mulai sekarang, tumbuhkan kebaikan-kebaikan dalam diri kita, baik di saat pandemi ini, di saat kondisi new normal, atau seandainya kondisi kembali normal. Ajarkan kebaikan pada anak-anak kita dan tularkan pada teman, tetangga, serta kerabat kita, karena kebaikan dari satu orang akan menularkan kebaikan pada orang-orang yang melihatnya. Karena sekarang kita tahu, kebaikan itu menjalar. (ntdindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

