Sebagai orang tua, Anda tidak hanya memberi dan mengajarkan anak-anak nilai-nilai utama kehidupan dan pengetahuan, namun Anda juga perlu mengajarkan mereka bagaimana menjadi baik dan berperilaku baik.
Saat membekali anak-anak dengan keterampilan hidup dan pendidikan, seringkali perkembangan kecerdasan emosional terabaikan. Anak-anak secara alami mengembangkan kasih sayang, empati, kebaikan, dan nilai-nilai lainnya saat mereka tumbuh dewasa.
Namun demikian, penelitian menemukan kecerdasan emosional adalah faktor penentu dalam mencapai kesuksesan dalam kualitas hidup, kesehatan, dan sebuah hubungan.
Oleh karena itu, akan lebih bijaksana jika Anda mengambil inisiatif dan mengenalkan si kecil pada kecerdasan emosional dan kesadaran diri, serta membantu mereka belajar menjadi orang baik, tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk dunia yang lebih luas sehingga dapat menjadi tempat yang lebih baik dan lebih ramah di masa depan.
Saat mengasuh, perlu juga memandu imajinasi anak – dengan berbagai cara – agar mereka dapat berbuat baik pada orang di sekitar mereka. Caranya, dengan mencontohkannya tanpa dipaksa.
Belajar menjadi baik dengan memberi contoh
Berikut langkah bertahap yang dapat Anda lakukan untuk membesarkan anak-anak yang mampu menyesuaikan diri secara emosional, sehingga akan tumbuh menjadi generasi manusia yang lebih baik dan lebih sensitif.
Kebaikan adalah kebajikan yang perlu ditumbuhkan pada diri setiap anak dan memerlukan dorongan dari orang tua. Ajarkan pada mereka tentang besarnya kekuatan batin dengan menjadi orang baik. Anak-anak memiliki perasaan alami dalam mengekspresikan emosi mereka dan menunjukkan empati pada orang lain. Sebagai orang tua, Anda harus menunjukkan kepada mereka bahwa ini adalah salah satu nilai yang mutlak harus dimiliki oleh setiap orang.
Kata ramah sederhana, seperti: “Saya bantu ya?” dapat menjadi awal dari tumbuhnya kebaikan dari anak Anda.
Kebaikan dan rasa empati adalah memahami kesulitan atau situasi buruk yang dihadapi orang lain. juga mengetahui hal yang tepat untuk dilakukan, atau tidak dilakukan, sesuai dengan keadaan. Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri Anda pada posisi orang lain. Orang tua harus mengajarkan pada anak bagaimana meminta bantuan dan membantu orang lain.
Saat di sekolah atau di taman bermain, kenalkan pada anak bagaimana memahami emosi dan situasi anak lain, dan dekati mereka untuk menawarkan bantuan. Kalimat sederhana seperti “Saya bantu ya?” dapat menjadi awal dari menumbuhkan kebaikan anak Anda. Bahkan kebaikan ini dapat dilakukan pada adik laki-laki atau perempuan yang selalu merasa tersisih, yang sedang melalui masa-masa sulit, dan mungkin membutuhkan uluran tangan.
Pengenalan sopan santun dasar
Seorang anak yang terbiasa dengan sopan santun sejak usia dini lebih percaya diri dan memiliki harga diri yang lebih tinggi. Seiring berjalannya waktu, seiring anak akan dapat mengembangkan perasaannya mengenai kapan dan bagaimana menyapa orang, dia tidak hanya akan berperilaku baik terhadap orang lain, tetapi juga akan memiliki kebaikan terhadap orang lain dan mudah didekati oleh orang lain.
Anak-anak sangat cepat mencontoh kebiasaan dan ajaran-ajaran dari orang tua mereka. Orang tua harus memberikan contoh yang positif dengan mempraktekkan kata “maaf,” “tolong,” dan “terima kasih” jika diperlukan. Anda bukan teman anak Anda. Anak Anda sangat pintar dan menggemaskan.
Mereka sangat mengenal Anda dan dapat membuat Anda melakukan apapun yang mereka inginkan. Anda sedang mengajari mereka disiplin yang dapat membangun kehidupannya kelak. Anda sedang mengajari anak-anak Anda cara menjadi orang yang selalu siap, kuat, dan sehat dalam rutinitas mereka. Terkadang Anda harus tegas dan berkata: “Tidak!” Ini pada gilirannya akan mengajarkan pada mereka kapan dan bagaimana berkata “tidak”.
Penting juga diingat agar orang tua tetap bersabar dengan adaptasi kecepatan dan waktu mereka menumbuhkan kebiasaan ini. Sesekali memuji atau mengapresiasi perbuatan baik saat anak-anak menunjukkannya. Siapa yang tidak suka pujian?
Ajari mereka cara meminta bantuan jika diperlukan dan menerima kritikan
Belajar dari kritik membangun adalah cara anak Anda dapat mengembangkan pemahaman tentang beberapa pelajaran hidup yang paling penting. Namun, itu tidak semudah kedengarannya. Anak-anak tidak mungkin bisa menghadapi kritik dengan baik dan oleh karena itu, tergantung pada orang tua untuk membantu anak mereka lebih mudah memproses umpan balik negatif dan mendapatkan pelajaran darinya.
Apalagi dengan platform media sosial, anak Anda sangat rentan terhadap kritik dari teman sebayanya. Saya yakin, penting mengajarkan pada anak bahwa pendapat orang lain tentang mereka tidak ada hubungannya dia. Apa yang orang lain pikirkan tentang anak Anda adalah urusan mereka atau – dalam beberapa hal – adalah masalah mereka. Ada sajak anak yang cocok dengan hal ini: “Tongkat dan batu bisa mematahkan tulangku tapi kata-kata tidak akan pernah menyakitiku.”
Umumnya, umpan balik yang paling mungkin terjadi, dimulai dari lingkungan sekolah. Langkah pertama adalah mendorong anak Anda agar cukup nyaman mengungkapkan perasaan dan pendapatnya di depan Anda.
Sesuai dengan ekspresi mereka, Anda dapat berempati dengan perasaan malu atau rasa bersalahnya. Pastikan Anda memulai dengan pengakuan akan emosi mereka, dengan cara yang paling mungkin akan mereka tanggapi.
Anda dapat memulai dengan sesuatu seperti “Saya tahu, kamu kesal” dan secara bertahap melanjutkan untuk membuat mereka mengidentifikasi apa yang salah dalam masalah tersebut. Kemampuan anak Anda untuk mendapatkan pemahaman tentang kritik yang membangun dan mengambil pelajaran darinya berkembang secara bertahap. Pastikan Anda bersikap penuh kasih dan pengertian terhadap mereka.
Belajar menghormati dan harga diri
Menghormati seseorang berarti memberikan cinta dan perhatian yang cukup pada orang itu. Pengasuhan positif berarti orang tua mencontohkan pada anak-anak bagaimana bersikap hormat – tidak kasar atau tidak sopan – dalam perilaku mereka terhadap anak-anaknya.
Menghadapi tanda-tanda sikap tidak sopan pada anak harus dilakukan sejak dini, tanpa mengeluh betapa “tidak sopannya” anak Anda. Ingatlah bahwa anak-anak mencerminkan perilaku Anda di rumah dan oleh karena itu, sebagai orang tua, Anda semestinya tidak menunjukkan perilaku yang tidak pantas dan tidak patut ditolerir.
Belajar menjadi orang baik merupakan proses yang berkelanjutan. Sebagai orang tua yang bangga terhadap si kecil, Anda harus menjaga pikiran dan membantu anak Anda memandu emosinya saat mereka berkembang menjadi manusia yang lebih ramah dan lebih berempati serta membangun kepercayaan diri dan harga diri.
Perlu diperhatikan bahwa terkadang ada anak – yang seperti orang dewasa – sangat mandiri dan percaya diri. Mereka ingin memecahkan masalahnya sendiri. Jika anak Anda termasuk tipe ini, saya sarankan, hormati karakternya namun pada saat yang sama, sebagai orang tua yang bijak, Anda tetap perlu mengawasi dan mengamati kebahagiaan dan ketenteramannya. Anda tahu bahwa anak remaja – khususnya – sudah cukup dewasa untuk mengetahui segala hal. Ini berkaitan dengan menemukan keseimbangan. (Emmalu/visiontimes/sia/feb)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
