Keluarga

Pasangan Amerika Menyelamatkan 4.000 Anak Yatim Piatu di Tiongkok (Bagian 2)

Shepherd’s Field Children’s Village di Tiongkok, yang telah menyelamatkan 4.000 anak yatim piatu
Shepherd’s Field Children’s Village di Tiongkok, yang telah menyelamatkan 4.000 anak yatim piatu. (Screenshot NTDTV)

Tim Baker, yang dipanggil “Papa Tim” dengan penuh kasih sayang oleh anak-anak, mengadopsi seorang anak lain bernama Philip. Dia menemukan Philip yang sedang sekarat, di salah satu panti asuhan di sekitarnya. Dia menderita bibir sumbing sejak lahir. Dia membawa Philip ke Shepherd’s Field Children’s Village dan menggunakan alat suntik untuk memberinya susu karena tidak dapat minum dari botol bayi.

Beberapa hari kemudian, Philip berangsur-angsur memperoleh kekuatannya. Dia tertawa, bergerak, dan mengoceh. Enam bulan kemudian, Philip menjalani operasi pada bibir atasnya dan berhasil disembuhkan. Dia menjadi anak ketujuh dari pasangan Baker.

Tak lama kemudian, jumlah anak yatim piatu di Children’s Village mencapai lebih dari 80 anak. Lebih dari 95 persen dari anak-anak tersebut menderita berbagai tingkat kecacatan fisik. Mereka tidak hanya membutuhkan perawatan yang teliti, tetapi juga membutuhkan operasi berkala, pengobatan rutin, atau bahkan keduanya. Kebutuhan biaya yang sangat besar ini menjadi fokus upaya penggalangan dana tahunan Baker. Terlepas dari semua tantangan, sikap Baker tetap teguh: “Tidak menolak” dan “Tidak menyerah.”

Ada seorang anak berusia 6 tahun bernama Yang Yang yang menderita hidrosefalus, suatu kondisi dimana ada penumpukan cairan serebrospinal yang berbahaya di dalam otak. Ketika Yang Yang pertama kali masuk Children’s Village, dia hanya terbaring di tempat tidur dan tidak bisa makan. Setelah operasi dan dibawah pengasuhan semua orang di Children’s Village, Yang Yang mulai belajar bangun, memanjat, makan, dan bahkan tertawa dan bercanda. Setiap kali Baker berkata kepada Yang Yang “aku mencintaimu,” dia akan memutar matanya, memiringkan kepalanya, dan berkata: “Papa Tim, aku mencintaimu.” Kemudian keduanya tertawa bersama.

Di Children’s Village, kamar tidur anak-anak bersih dan rapi serta setiap kamar dilengkapi dengan pemanas dan AC. Para asisten, semua adalah wanita lanjut usia atau dipanggil “bibi,” yang secara khusus dilatih untuk merawat anak-anak. Anak-anak memandang bibi sebagai “ibu” mereka. Secara keseluruhan, ada 67 bibi yang merawat lebih dari 80 anak. Beberapa anak masih kecil atau tidak bisa bergerak, sehingga para bibi menjaga mereka sepanjang waktu.

Para asisten dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok bekerja “shift siang” dan lainnya “shift malam”. Mereka menyuapi dan merawat anak-anak di siang hari, memandikan, dan mencuci pakaian mereka menjelang malam, bahkan mencatat waktu tidur anak-anak di malam hari. Seiring berjalannya waktu, ikatan antara para bibi dan anak-anak semakin erat dan setiap kali seorang anak meninggalkan Children’s Village bersama orang tua angkatnya, para asisten merasa sedih dan menangis, meskipun mereka juga bahagia mengetahui itu demi kebaikan anak tersebut.

Children’s Village melatih anak-anak menjadi mandiri dan memberikan mereka kemampuan untuk masuk dalam lingkungan masyarakat. Children’s Village telah memberikan rumah yang hangat kepada anak-anak yang terlantar, tetapi Baker masih merasa bahwa ini tidak cukup dan ingin berbuat lebih banyak untuk mereka.

Children’s Village mengelola sekolahnya sendiri dan para guru menyesuaikan isi pelajaran sesuai dengan situasi dan kemampuan anak. Mereka mengajarkan aksara Mandarin, Bahasa Inggris, Matematika, dan juga mengajarkan mereka cara memasak, cara naik bus, cara berbelanja di supermarket, dan banyak lagi.

Ketika seorang anak mampu mengurus diri sendiri, mereka dilatih untuk melakukan pekerjaan sehari-harinya secara mandiri, kecuali bagi anak-anak dengan kondisi fisik yang buruk. Di kafetaria, setelah makan, setiap anak dilatih untuk mencuci piring mereka sendiri dan memasukkannya kembali sendiri ke dalam lemari yang sudah didesinfeksi.

Setelah semua hal baik yang telah dia lakukan, Baker masih merasa belum cukup. Dia mulai berpikir ke depan untuk anak-anak yatim piatu tersebut. Kali ini, dia berencana mendirikan pusat pendidikan vokasi di Children’s Village untuk membina kemampuan anak-anak supaya bisa bekerja mandiri dan bisa masuk ke masyarakat di kemudian hari.

Berdasarkan hukum di Tiongkok, anak yatim piatu yang telah berusia 14 tahun tidak dapat lagi diadopsi oleh panti asuhan. Dalam kondisi normal, anak-anak yang sehat akan masuk ke lingkungan masyarakat dengan bantuan panti asuhan, sedangkan anak-anak disabilitas hanya dapat menghabiskan sisa hidupnya di panti sosial. Baker ingin memberi anak-anak ini kesempatan ? mengajarkan mereka keterampilan bertahan hidup dan cara merawat diri sendiri.

Di taman Children’s Village, ada dinding yang penuh dengan cetakan tangan. Mereka menyebutnya “Tangan Harapan”. Ini semacam monumen yang mencatat nama dan sidik jari setiap anak yang diadopsi dan mencatat kehidupan baru mereka bersama keluarga angkat mereka. Foto-foto yang dikirim oleh keluarga angkat mereka juga ditempel di dinding satu persatu, membentuk “dinding foto” spesial. Setiap anak di foto itu terlihat sedang tersenyum cerah.

Menurut Baker: “Saya ingin anak-anak ini mengingat dari mana mereka berasal bahkan meski mereka pergi dan tinggal di luar negeri bersama keluarga angkat mereka serta berbicara dalam bahasa yang berbeda.”

Sejak 1996 hingga sekarang, Children’s Village telah mengatur dan berkontribusi atas operasi pada lebih dari 3.000 anak disabilitas dan menemukan keluarga angkat bagi lebih dari 900 anak.

Hal ini membuat Baker, yang kini mendekati usia 60 tahun, sangat bangga. Dia berkata dia ingin menetap di Tiongkok dan tinggal bersama anak-anak sampai akhir hayatnya. Seseorang pernah bertanya kepadanya: “Mengapa mengadopsi anak itu sangat baik?” Baker berkata bahwa dia mencintai anak-anak angkat itu lebih dari anak-anaknya sendiri karena mereka hadir dalam hidupnya dengan cara yang istimewa.

Baker berkata: “Anak-anak ini memberi saya lebih dari yang saya berikan kepada mereka. Merekalah yang mengubah saya, membuka hati saya, dan membiarkan saya melihat kesedihan dan rasa sakit di dunia ini. Setiap anak yang datang ke Children’s Village memiliki masa lalu menyedihkan yang berbeda, namun disini, senyuman mereka sama. Mereka sama-sama terlihat cerah, dan masa depan mereka secerah senyum mereka. Masalahnya bukan pada anak-anak ini, tetapi pada orang tua dan kerabat yang telah menelantarkan mereka tanpa kasihan.

Mari kita berharap kebaikan dan cinta Baker dapat membantu anak-anak mengatasi tantangan fisik mereka dan di sisi lain, mengubah ketidakpedulian dan prasangka orang terhadap anak-anak ini dan menginspirasi lebih banyak rasa belas kasih dalam masyarakat Tiongkok. (visiontimes/sia/feb)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor

situs slot gacor