Mengapa ada batasan usia mengemudi
Adalah normal bagi para orang tua untuk menitikkan keringat dingin saat mendengar sang buah hati -yang masih remaja- menyampaikan keinginannya untuk berkendara sendiri. Namun tidak dapat dipungkiri, momen ini cepat atau lambat mungkin dapat terjadi dalam keluarga Anda. Bagi remaja, dapat mengemudi di usia muda mungkin suatu kebanggaan tersendiri. Namun demikian, mengemudi di jalan raya tentu tidak semudah berbicara.
Di Indonesia dan di banyak negara lain, salah satu prasyarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan surat ijin mengemudi adalah batasan usia minimal 17 tahun untuk sim A, sim C, dan sim D. Persyaratan ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Meski batasan usia cakap hukum dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia berbeda-beda, namun alasan yang disampaikan mengenai pembatasan usia ini, untuk menerapkan dan melaksanakan peraturan (dasar hukum) serta melakukan tindakan hukum terhadap setiap pelanggaran /penyimpangan oleh subjek hukum. Ini artinya di usia tersebut, pengemudi dianggap telah memahami peraturan lalu lintas yang telah ditetapkan.
Lantas mengapa otoritas terkait perlu menetapkan batasan usia untuk mengemudi? Meski jika dilihat, banyak anak remaja yang memiliki kemahiran yang setara dari para seniornya.
Menurut data yang dikeluarkan Korps Lalu Lintas pada 2013, korban kecelakaan lalu-lintas dengan tingkat pendidikan sekolah lanjutan atas (SLA) menempati prosentasi tertinggi yakni 58 persen. Prosentase terbanyak kedua adalah lulusan sekolah lanjutan pertama (SLP), sebesar 17 persen. Kemudian disusul lulusan sekolah dasar (SD) sebanyak 12 persen.
Data dari Korlantas tersebut tidak jauh berbeda dari negara lainnya. Centers for Disease Control and Prevention, National Center for Injury Prevention and Control USA menyebutkan, tabrakan kendaraan bermotor adalah penyebab utama kematian pada remaja dan merupakan kontributor utama cedera nonfatal.
Sebuah artikel yang ditulis C. Raymond Bingham, Ph.D., University of Michigan Transportation Research Institute Ann Arbor, Michigan dalam Journal of Adolescent Health, menuliskan ada beberapa kontributor untuk morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan kecelakaan pada remaja, antara lain kurang pengalaman dan kurangnya keterampilan, tingkat kematangan, dan gangguan pada perhatian. Gangguan pada pengemudi merupakan ancaman penting bagi kesehatan dan keselamatan pengemudi remaja itu sendiri, penumpang mereka, dan sesama pengguna jalan lainnya.
Riset yang dipimpin oleh Daniel Romer, Ph.D. dengan judul Adolescence, Attention Allocation, and Driving Safety, dalam Journal of Adolescent Health, kemudian melanjutkan riset yang difokuskan pada kegagalan perhatian tersebut. Dalam tulisannya disebutkan ada dua penjelasan utama atas kegagalan perhatian ini.
Pertama belum matangnya kemampuan kognitif dan motorik, termasuk memori kerja, perhatian visual-spasial, dan kecepatan pemrosesan. Kedua, karena remaja juga merupakan pengemudi pemula, maka kegagalan perhatian ini juga berkaitan dengan kurangnya pengalaman dalam berkendara, dalam hal ini berkaitan dengan kewaspadaan dan bahaya di jalan raya.
Penelitian psikologis yang dipimpin oleh Michael Posner, Attention in a social world, yang dimuat New York: Oxford University Press telah mengidentifikasi tiga jenis perhatian yang diatur oleh sirkuit otak yang berbeda: peringatan, orientasi, dan kontrol eksekutif, yang masing-masing berfungsi utama dalam pengembangan kesadaran situasi. Riset ini menjelaskan bagaimana perkembangan otak manusia merupakan hal yang sangat penting saat mengemudi di jalan raya. Belum matangnya perkembangan otak ini diketahui memainkan peranan penting dalam mengambil kebijakan “darurat” saat berkendara.
Salah satu analisis kecelakaan remaja yang disebutkan Bingham dalam risetnya diambil dari U.S. National Motor Vehicle Crash Causation Survey (NMVCCS). Hampir setengah dari kecelakaan serius (46%) disebabkan oleh apa yang mungkin dikategorikan Posner sebagai gagal perhatian atau gangguan. Ini termasuk kegagalan pengamatan serta gangguan perhatian dan pikiran bercabang kemana-mana atau tidak fokus.
Kategori terbesar kedua (40%) kesalahan keputusan pengemudi, seperti mengemudi terlalu cepat untuk kondisi tertentu, kesalahan menilai kecepatan atau jarak mobil lainnya, dan kesalahan karena mengemudi agresif. Tercatat bahwa mengemudi secara agresif “hanya” menyumbang kurang dari 3% dari kecelakaan. Data ini menunjukkan bahwa mengemudi secara sembrono merupakan sumber kecelakaan yang jauh lebih sedikit daripada kurang pengalaman.
Namun demikian, meskipun tingkat kecelakaan menurun seiring bertambahnya pengalaman, namun angka kecelakaan pada pengemudi remaja pemula (16-19 tahun) lebih tinggi daripada pengemudi dewasa pemula (20 tahun +). Inilah mengapa otoritas terkait menetapkan batasan usia untuk ijin mengemudi. Karena ternyata, selain alasan penegakan hukum (dalam undang-undang di Indonesia), juga berkaitan dengan perkembangan otak manusia.
Untuk membaca Bagian 2, silahkan klik di sini.
Lebih banyak artikel keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
