Hal-Hal yang Perlu Dipersiapkan Orang Tua
Pada artikel sebelumnya, telah dibahas mengapa perlu menetapkan batasan usia untuk mendapatkan ijin mengemudi. Banyak riset yang menuliskan betapa berbahayanya seorang anak di bawah umur saat mengemudi. Baik berbahaya bagi dirinya sendiri, penumpang (jika ada), maupun pengguna jalan raya lainnya (pengendara lain atau pejalan kaki). Salah satu riset psikologis yang dipimpin oleh Michael Posner menyampaikan, ini karena belum matangnya kemampuan kognitif dan motorik, termasuk memori kerja, perhatian visual-spasial, dan kecepatan pemrosesan pada remaja. Ditambah lagi dengan mudahnya terjadi gangguan pada perhatiannya dan kurangnya pengalaman, menurut riset lain dari C. Raymond Bingham, Ph.
Namun demikian, tak jarang kita bertemu dengan pengemudi belia di jalan raya. Tentu saja, dalam hal ini orang tua berperan besar. Menurut Ayoe Sutomo, seorang psikolog anak dan keluarga dalam artikel di laman BBC Indonesia, 8 April 2018, “Anak-anak di bawah umur masih berada di bawah tanggung jawab orang tua. Semua tindakan mereka dengan kendaraan bermotor tak lepas dari pengasuhan orang tua.” Lantas, sebagai orang tua, apa saja yang perlu dipersiapkan seandainya suatu saat sang buah hati ?yang belum cukup umur- mengutarakan keinginannya untuk berkendara sendiri? Berikut beberapa hal yang patut dicermati oleh para orang tua.
Diskusi
Sebelum mengajak anak berdiskusi, ada baiknya kedua orang tua sudah saling menyepakati aturan batasan usia mengemudi bagi anak. Jika salah satu orang tua masih merasa diuntungkan dengan anak yang dapat mengemudi sejak belia, adalah tugas pasangannya untuk meyakinkan sebaliknya.
Ketika kedua orang tua sudah menyepakatinya, mulailah mengajak anak berdiskusi. Meski tampaknya tidak mudah, namun sebenarnya anak-anak sudah dapat diajak berdiskusi jika dilakukan dengan cara yang tepat. Melbourne Child Psychology & School Psychology Services dalam artikel berjudul How To Talk With Your Teenager Effectively, memberikan 5 tips yang dapat membantu orang tua berbicara pada anak-anak. Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, dalam artikel yang sama di laman BBC Indonesia, 8 April 2018, berpendapat, “Anak-anak sudah bisa diajak berdiskusi tentang baik-buruk, asal disampaikan dengan cara diskusi, bukan mengatur atau memerintahkan. Sebab jika dilarang dengan keras tanpa alasan, anak bisa sakit hati dan justru melanggar aturan tersebut.”
Saat berdiskusi sampaikan alasan-alasan mengapa anak baru diperbolehkan mengemudi sendiri setelah mendapatkan SIM dan mengapa pemerintah perlu mengatur batas usia minimal untuk mendapat ijin mengemudi. Anda juga dapat mengemukakan dari sudut pandang lain. Misalnya, jika terjadi sesuatu pada dirinya, bagaimana dia harus menjalani kehidupan selanjtnya. Atau jika terjadi sesuatu pada penumpang atau pada pengguna jalan lainnya, betapa dia harus menanggung dosa dan rasa bersalah seumur hidupnya.
Ketegasan
Perlu diingat, sebagai orang tua, Anda harus tegas dan konsisten dalam hal batasan usia. Karena ketegasan dan konsistensi orang tua, menjadi hal yang krusial dalam mencegah anak-anak mengemudikan kendaraan bermotor. Namun, melarang anak berkendara mungkin tidak semudah berbicara. Terlebih ketika anak Anda melihat teman seusianya sudah diperbolehkan mengemudi kendaraan sendiri oleh orang tuanya.
Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, dalam artikel yang sama di laman BBC Indonesia, 8 April 2018, berpendapat, pengemudi belia di jalan raya dapat ditemui karena ketidaktegasan orang tua dalam mencegahnya, “Kadang orang tua justru menganjurkan karena anak jadi bisa disuruh-suruh.” Namun percayalah, dengan bersabar menunda sedikit waktu untuk meminta tolong anak Anda, akan mendapatkan hasil yang jauh berbeda, baik bagi anak maupun bagi orang tua.
Sikap tegas juga perlu ditunjukkan ketika anak berkendara di luar pengetahuan orang tua. Baik saat anak mengemudikan sendiri, maupun saat dia menjadi penumpang temannya yang juga masih belia. Dari sini anak akan belajar bahwa ada konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukannya, meskipun petugas lalu lintas tidak melihatnya.
Mendampingi
Saat anak telah berhasil lulus tes mengemudi secara resmi, mereka akan menerima SIM dan dapat mengemudi secara legal. Anda harus merasa yakin dengan ketrampilan menyetir anak Anda sebelum mengizinkannya mengemudi secara mandiri. Bila perlu, Anda dapat mendampinginya sampai merasa nyaman dengan caranya mengemudi.
Profesor psikologi dari University of Illinois, Eva Telzer menyampaikan temuan dari studi yang dilakukan Laurence Steinberg, seorang profesor psikologi di Temple University. Studi tersebut mengembangkan riset pada tindakan mengemudi dan mengevaluasi bagaimana kehadiran teman sebaya mempengaruhi pengambilan risiko remaja. “Steinberg menemukan bahwa teman sebaya secara signifikan meningkatkan pengambilan risiko di antara remaja,” kata Telzer.
Telzer kemudian melakukan studi lain yang berpijak pada temuan itu, dengan mengembangkan riset pada remaja usia 14 tahun dan ibunya. Studi yang dilaporkan dalam jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience tersebut fokus pada bagaimana otak remaja menegosiasikan risiko – dan faktor-faktor yang memodulasi pengambilan risiko mereka di belakang kemudi.
Penelitian ini mendapatkan, ibu dapat mengurangi sifat pengambilan risiko (yang menguntungkan remaja) dan meningkatkan aktivasi korteks prafrontal (selama remaja tersebut berperilaku aman). Kedua mekanisme ini membantu remaja berpikir dua kali sebelum menjalankan kendaraan di persimpangan. Dari hasil riset tersebut dapat disimpulkan bahwa, “Kehadiran orangtua sebenarnya mengubah cara remaja bertindak dan berpikir tentang risiko – dan ini meningkatkan perilaku aman mereka,” tegas Telzer.
Selain mendampingi, Anda perlu menyampaikan faktor-faktor yang berisiko mengganggu saat mengemudi (bahkan pada pengemudi yang sudah berpengalaman), seperti musik yang terlalu keras (sehingga tidak mendengar klakson atau suara di lingkungan sekitar), penumpang (saat mengajak berbicara terlalu intens), mengonsumsi makanan, dan menggunakan ponsel, seperti disebutkan oleh The American Academy of Child and Adolescent Psychiatry dalam artikel Driving and Teenn, No. 76.
Faktor lain yang perlu Anda tanamkan, adalah pentingnya mengendalikan emosi saat mengemudi (misalnya, perilaku agresif di jalanan, balap motor atau mobil, dll). Ajarkan anak Anda tentang pentingnya mengemudi defensif. Pengemudi yang kurang berpengalaman sering berkonsentrasi pada mengemudi dengan benar, yang pada akhirnya gagal mengantisipasi tindakan dan melakukan kesalahan sendiri maupun kesalahan dari pengemudi lain. Jika anak memiliki riwayat penyakit medis, Anda harus memeriksakan apakah ada efek yang mungkin terjadi pada kemampuan mengemudi remaja setelah mengonsumsi obat tertentu.
Riset mobil
Dengan pengemudi pemula sebagai pemakai kendaraan, ada baiknya Anda melihat terutama pada fitur keselamatan. Pertimbangkan mobil baru atau bekas yang dapat melindungi anak Anda jika terjadi kondisi darurat. Dalam pemakaian sehari-hari, pastikan kendaraan dalam kondisi aman (rem, ban, dll.) dan berfungsi dengan baik. Kendaraan juga harus memiliki peralatan darurat penting (dongkrak, senter, kabel jumper, kotak P3K, segitiga, dll), dan ajarkan pada anak bagaimana cara menggunakannya. Faktor lain yang berpengaruh mungkin perawatan kendaraan dan pemilihan kendaraan yang hemat bahan bakar.
Untuk membaca Bagian 1, silahkan klik di sini.
Lebih banyak artikel keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
