Otak anda merespons secara berbeda ketika anda berbicara dengan seseorang dari kelompok sosial ekonomi yang berbeda dibandingkan dengan percakapan dengan seseorang dari latar belakang yang sama, hal ini ditunjukkan oleh sebuah penelitian baru tentang pencitraan.
Dalam setiap percobaan, kedua subjek dihubungkan ke sistem pencitraan saraf baru yang disebut “functional near-infrared spectroscopy” (fNIRS), yang melacak aktivitas otak kedua subjek.
Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience, mengungkapkan neurobiologi yang berbeda dari percakapan antara dua orang dengan latar belakang berbeda.
Penulis senior Joy Hirsch, seorang profesor psikiatri Elizabeth Mears dan House Jameson yang juga profesor kedokteran komparatif dan ilmu saraf, mengatakan:
“Ketika seorang profesor Yale berbicara dengan seorang tunawisma, lobus frontalnya mengaktifkan jaringan saraf yang berbeda dibandingkan dengan jika mereka mengobrol dengan sesama kolega lain. Otak kita rupanya telah merancang sistem lobus frontal yang membantu kita menghadapi keragaman kita”.
Penelitian ini berasal dari gagasan dari lulusan Yale baru-baru ini Olivia Descorbeth, yang pertama kali mengajukan ide penelitian tersebut sebagai siswa sekolah menengah atas. Hirsch dan Descorbeth ingin tahu apakah otak seseorang merespons secara berbeda saat berbicara dengan individu dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda.
Mereka meminta 78 individu dengan penghasilan keluarga dan tingkat pendidikan yang berbeda dari daerah New Haven, Connecticut dan secara selektif memasangkan setiap subjek penelitian dengan banyak pasangan untuk meminimalkan dampak ras dan jenis kelamin pada hasil penelitian.
Dalam setiap percobaan, kedua subjek dihubungkan ke sistem pencitraan saraf baru yang disebut “functional near-infrared spectroscopy” (fNIRS), yang melacak aktivitas otak dari kedua subjek. Kemudian mereka diinstruksikan untuk melakukan percakapan santai.
Para peneliti menemukan bahwa pada kedua subjek, aktivitas di korteks prefrontal dorsolateral kiri, yang terlibat dalam kontrol proses kognitif, jauh lebih tinggi ketika mereka berbicara dengan seseorang dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda dibandingkan dengan seseorang dengan status serupa.
Descorbeth mengatakan penelitian pencitraan berpasangan juga dapat digunakan untuk mempelajari dampak ras dan jenis kelamin pada aktivitas otak, dan menambahkan:
Hirsch menyimpulkan dengan mengatakan:
“Ada neurobiologi sosial, dan neurobiologi memungkinkan kita untuk memodulasi respons kita terhadap keragaman. Kita ingin menjadi inklusif, kita ingin kesetaraan, dan secara teoritis, ilmu saraf dapat mengatakan sesuatu tentang bagaimana kita dapat mencapainya”. (visiontimes/bud)
Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
