Siapa yang mondar mandir di atas jalanan tua pada saat matahari senja? Adalah Liu Yong (penyair Dinasti Song Utara): “Di jalanan tua kota Chang’An derap kuda merambat, pohon willow yang tinggi desis tonggeret bersahut-sahutan.” Atau Gao Guan’guo (penyair Dinasti Song Selatan): “Pintu lawas merana, jalanan tua yang menyedihkan, hujan berkabut menambah suasana galau!” Atau sastrawan Li Bai (penyair Dinasti Tang): “Jalanan tua di Xian’yang tiada lagi kabar beritanya, benar tiada kabar berita, angin barat berhembus memilukan.”
Adakah yang pernah merasakan kepedihan di jalanan tua? Seperti syair Ma Zhiyuan (penulis opera, komposer prosa, penulis esai Dinasti Yuan): “Saat senja, segerombolan burung gagak hinggap di pohon tua yang dirambati rotan layu, dan asap dari masakan rumah di samping jembatan kecil itu, di jalan tua kuda ceking melawan angin barat, pada senja temaram, hanya seorang musafir kesepian mengembara hingga di ujung cakrawala!”
Seorang pelajar SMA berusia 17 tahun, bimbang dengan jurusan yang akan dipilih di perguruan tinggi, apakah filsafat? Atau arsitektur? Orang tua yang menginginkan putranya meraih bintang di langit, menariknya dari tepi jurang kebimbangan, semua itu demi masa depan putranya.
Akhirnya diputuskan, jurusan arsitektur masa depan cerah. Perintah orang tua sulit ditentang, angin timur mengalahkan angin barat, angin barat (angin musim gugur) merontokkan daun pepohonan! Putra berbakat itu naik sendirian ke menara tinggi, menatap jauh jalanan menuju ujung dunia! Setelah lulus dari jurusan arsitektur, ia juga berhasil lolos seleksi jabatan di pemerintahan, orang tuanya bergembira bahwa masa depan sang putra sudah mapan, tiada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Siapa sangka gejolak ilmu filsafat yang berdurasi selama 7 tahun, masih bergolak dan meronta di dalam sanubari sang putra. Di usia yang penuh dengan gelora bergairah, belum memudar hasratnya. Manusia benar-benar tidak bisa menjadi dewasa, hanya bisa menjadi tua. Putra berbakat sering kali merasa kesepian, dan menyendiri, bahkan bersedih! Apa yang akan terjadi dalam hidupnya? Setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya, putra berbakat itu akhirnya memutuskan menempuh studi lanjutan di jurusan ilmu filsafat, pekerjaan pegawai negeri yang diperebutkan banyak orang itu pun dilepaskannya. Tekadnya sudah bulat, dan tidak akan kembali lagi!
Putra berbakat menempuh studi dengan riang gembira, tak lama kemudian ia menyadari, di usia yang belum mencapai 40 tahun, pandangan matanya kabur, dan rambutnya memutih! Ilmu filsafat ternyata begitu penuh pahit getir, tidak seperti ilmu kehidupan yang selama ini ada dalam bayangannya! Jangan-jangan dirinya bodoh dan naif, terlalu berangan-angan, setelah satu tahun belajar, belum juga melihat ruang lingkupnya, apalagi melihat masa depan!
Yang lebih tragis lagi adalah, mata kirinya mendadak muncul guratan nyamuk terbang (Myodesopsia, red.), kadang seperti sarang laba-laba (Floaters, red.), seperti bercak-bercak, dan menghalangi sebagian pandangannya, melihat sesuatu seperti terdistorsi berubah bentuk, corak warna berubah, dan diiringi gejala mata silinder (Astigmatisme, red.). Sangat mengejutkan! Ada apakah ini sebenarnya? Ia segera memeriksakannya ke rumah sakit besar, dokter mendiagnosa sebagai: ablasi retina.
Putra berbakat kembali berada di jalanan tua, di tengah terpaan angin musim gugur, ketakutan dan kebingungan! Mungkin tidak bisa lulus. Dokter mata mengatakan jika tidak segera dioperasi, dikhawatirkan akan kehilangan penglihatan. Putra berbakat mencari informasi terkait di internet, melihat banyak efek samping pasca operasi, benar-benar membuatnya bimbang! Apakah ada cara lain untuk menyelamatkan dirinya? Masa indah begitu cepat berlalu, waktu melesat begitu saja, kondisi matanya persis seperti yang dikatakan dokter, kian lama kian buram, lalu menjadi gelap.
Maka putra berbakat itu pun mencari data Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) di perpustakaan, mencoba mencari secercah harapan. Dalam kondisi yang paling terpuruk itulah, ia membaca sebuah buku PTT yang berjudul “Menguak Tabir Tubuh Manusia — Misteri Titik Akupunktur”, terhanyut dengan pendekatan dokter PTT penulis buku yang menyentuh hati tersebut, setelah membaca beberapa lama, dia pun tidak sabar hendak menemui si penulis buku, dan sekaligus hendak mengobati masalah pandangan matanya, walaupun perjalanan sangat jauh, ia bertekad hendak mencobanya.
Dimana Sebenarnya Letak Retina? Apakah Fungsinya?
Retina adalah lapisan jaringan fotoreseptor yang terbentuk dari sel fotoreseptor dan serat saraf sensorik yang tipis dan transparan, menempel pada dinding belakang sisi dalam bola mata, ibarat negatif film pada kamera, merupakan saraf pusat pada mata. Ketika cahaya menembus melalui kristal lensa, terfokus pada retina, terlebih dulu dipotret oleh sel fotoreseptor, lalu dikirimkan ke otak melalui saraf, untuk mengenali gambar. Di bawah retina terdapat juga selaput koroid, yang berfungsi untuk memasok oksigen dan gizi bagi retina.
Mengapa Retina Dapat Terkelupas?
Ablasi retina, atau terkelupasnya retina dari selaput koroid, ibarat tali pusar janin terlepas dari tubuh ibunya, semakin lama terpisah, maka akan semakin parah pula sel saraf kekurangan gizi, pada akhirnya dapat mengakibatkan matinya sel saraf. Jika kekurangan gizi belum menyebar ke bagian makula yang merupakan pusat penglihatan, maka penyembuhan daya penglihatan akan lebih baik. Ketika lensa koloid di dalam rongga vitreus bola mata mengalami pencairan atau likuefaksi, akan menyebabkan vitreus menjadi longgar, atau bergeser, maka akan muncul gejala seperti bercak-bercak, selaput rambut, atau nyamuk terbang. Ketika cairan kental seperti putih telur di dalam vitreus merembes masuk ke dalam retina melalui celah retakan, maka dapat mengakibatkan retina mengelupas.
Apa Yang Terjadi Setelah Retina Mengelupas?
Ablasi retina atau pengelupasan retina merupakan penyakit nomor satu di dalam ilmu kedokteran penyakit mata, sangat sulit dioperasi. Ablasi retina yang telah menahun, sel sarafnya telah mati, retina perlahan mulai digantikan oleh jaringan serat, walaupun dioperasi, sangat kecil kemungkinan penglihatan dapat pulih. Di Taiwan disebut juga sebagai “kerajaan rabun jauh”, tingkat rabun jauh atau Myopia di atas 600, penderita ablasi retina mencapai 1%. Rasio pasien penderita ablasi retina di Taiwan adalah 16,4 orang dari setiap 10.000 orang penduduk Taiwan, menduduki posisi teratas di seluruh dunia.
Putra berbakat itu walaupun masih muda, tapi berekspresi serius, pandangan mata kirinya lebih gelap, saat datang berobat sudah hampir mendekati buta, hanya bisa mendeteksi cahaya, tidak bisa melihat benda. Dalam ilmu PTT disebut juga “nyaris buta”, merupakan penyakit serius, dan harus segera diterapi tusuk jarum.
Penanganan Akupunktur:
Mata merupakan celah menuju liver yang menyimpan jiwa, jika jiwa tidak tenang mata tidak akan jernih, semua aspek jiwa diposisikan kembali, dari titik Shenting menembus ke Shangxing, dari Shangxing menembus ke Qianding, dari Qianding menembus ke titik Baihui, tiga jarum sambung menyambung; masalah mata akut, tusuk sisi yang menderita sakit, dari Linqi menembus ke Muchuang, dari Zhengying menembus ke Muchuang, dua jarum saling berhadapan.
Retina yang mengelupas karena di dalam kulit di luar selaput ada lendir, limpa harus disehatkan untuk menetralisir lendir, penyakit akut harus menggunakan titik Yuan dan Luo, Dabai pada titik Yuan saraf limpa, Gongsun pada titik Luo, dan titik Gongsun menembus meridian Chong, meridian Chong merupakan muara darah, “Qi (dibaca: chi = energi vital) dari meridian Chong meresap ke segala unsur Yang, darah memenuhi seluruh saripati, merupakan saripati dari saripati kelima organ tubuh.” Guna memelihara retina.
Memperlancar peredaran darah di sekitar mata, tusuk titik Zanzhu, Jingming, Chengqi, Tongziliao, Sizhukong, dan Fengchi secara bergiliran; mata merupakan curahan darah dari liver, memelihara darah liver, tusuk di titik Sanyinjiao, dan Zusanli; merawat cairan ginjal dan mata, tusuk titik Taixi pada Yuan meridian ginjal; menguatkan Qi yang merosot, tusuk titik Qihai, Guanyuan, dan Zhongwan; menyelaraskan saraf utama pandangan mata, tusuk kulit kepala dan zona penglihatan, di kiri kanan titik Qiangjian sekitar 1 inci, dari atas ke arah bawah dengan menempel pada tulang, sebanyak 2 jarum.
Pantangan Khusus:
Tidak boleh mengangkat barang berat dengan menundukkan atau menengadahkan kepala, jangan mendaki gunung atau bukit. Dilarang mengkonsumsi es dan makanan pedas. Sebelum pukul 11 malam harus tidur. Kurangi bermain ponsel, saat berbicara menggunakan ponsel kacamata harus dilepas, jika tidak, gelombang elektromagnetik dapat meradiasi mata lewat bingkai kacamata, menyebabkan suhu di dalam bola mata meningkat, dan tekanan pada mata meningkat, akan memperburuk kondisi.
Memperbaiki kerusakan mata adalah sebuah perjalanan yang amat panjang. Setelah satu bulan tusuk jarum, penulis cukup terkejut penglihatannya perlahan mulai pulih, putra berbakat itu datang berobat seminggu sekali, tidak terhalang oleh hujan maupun badai, tidak pernah sekalipun absen, semangat dan tekadnya untuk sembuh patut dipuji.
Setiap kali datang berobat selalu dibumbui dengan perbincangan filsafat dan motivasi, di jalan ilmu filsafat yang keras berliku itu, jatuh bangun, penuh onak duri. Lima buah buku yang saya tulis ternyata telah menimbulkan buah pikiran baginya, dan dijadikan sebagai konten kutipan dalam tesisnya.
Ibarat jalan jauh dapat menguji stamina kuda, tak terasa di tengah berbagai halangan dan kesulitan, tesisnya berhasil dirampungkannya. Sehari sebelum sidang tesis putra berbakat itu tetap tidak rela absen berobat, rasa takut dan tegang bergelut sengit, ia mengatakan harus terapi tusuk jarum dan setelah melihat saya baru hatinya akan tenang. Saya memberinya sekuntum bunga lotus kristal bertuliskan “Falun Dafa Hao (Falun Dafa Baik)”, dan memberikan ucapan selamat berjuang kepadanya dan semoga dia berhasil.
Sebelum pergi saya mewanti-wanti, sebelum sidang tesis, tataplah setiap dosen penguji, dengan tulus katakan (dalam batin) pada mereka: “Saya bersedia menyelaraskan frekuensi dengan Anda, terima kasih.” Pada saat sidang tesis dimulai, ketegangan langsung terasa, dosen penguji utama mengkritik keras teori yang dikemukakannya dalam tesisnya. Putra berbakat itu sempat terkejut, lalu teringat akan pesan saya, ia segera menyampaikan pesan kebaikan dari hati ke hati kepada dosen tersebut.
Anehnya, seketika itu juga kondisi langsung berubah haluan, dosen penguji utama pun berubah nada bicaranya, bahkan memujinya. Ia meraih nilai tinggi 91 untuk tesisnya, lulus sidang tesis, bahkan meraih beasiswa gelar doktor.
Putra berbakat itu sejak berusia 17 tahun sampai 37 tahun, akhirnya merampungkan impian ilmu filsafatnya, matanya pun kembali melihat cahaya, bisa melihat dengan normal kembali. Dalam jalan kuno filsafat, angin barat berhembus, melecut kuda mencongklang, melanglang buana demi idealismenya. (theepochtimes/sud/whs)
Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
