Jika ada keuntungan dari kondisi penguncian akibat pandemi COVID-19, salah satunya adalah: Kesempatan untuk Tidur Siang.
Tidur bisa dianggap seperti membuang-buang waktu ketika Anda memiliki banyak hal untuk diselesaikan, tetapi sebenarnya kebalikannya. Mereka yang melewatkan tidur saat tubuh sudah meminta juga dapat merusak produktivitas mereka.
Temuan studi tahun 2019 yang diterbitkan Journal of National Sleep Foundation menegaskan bahwa, memperpendek rutinitas tidur Anda dapat mengganggu kinerja pekerjaan. Peneliti dari University of South Florida, Pennsylvania State University, Harvard Medical School, dan lainnya berkontribusi dalam penelitian ini.
Ben and Jerry’s, Cisco, dan perusahaan lain memiliki kebijakan yang mendorong karyawan untuk tidur siang. Beberapa bahkan menyediakan kamar tidur siang. Perusahaan raksasa teknologi menyediakan tempat tidur siang bagi pekerja yang lelah. Salah satu pengecer sepatu online menyediakan kursi pijat yang diletakkan di bawah akuarium ikan yang berbentuk melengkung di atas kepala sehingga tampak membenamkan mereka dalam pemandangan bawah air saat berbaring.
Namun bagi kebanyakan orang, tidur siang di tengah hari kerja bukanlah hal yang umum bagi kita di Indonesia. Tapi bagi mereka yang sekarang bekerja dari rumah karena pandemi, ini mungkin kesempatan sempurna untuk bereksperimen dengan tidur siang. Menurut Jamie Gruman, seorang profesor bisnis dan peneliti senior di University of Guelph di Ontario, Kanada, produktivitas dan kualitas kerja dapat meningkat saat kita tidur siang.
Dalam bukunya, “Boost: The Science of Recharging Yourself in an Age of Unrelenting Demands”, Jamie mencurahkan seluruh bab untuk kekuatan restoratif dari tidur. Saat menulis, dia menemukan banyak penelitian yang menunjukkan bahwa tidur siang dapat meningkatkan kewaspadaan, keterampilan matematika, dan penalaran logis. Tidur siang juga dapat membuat orang lebih waspada dan meningkatkan waktu reaksinya.
“Orang-orang curhat kepada saya bahwa mereka terkadang curi-curi tidur siang di tempat kerja. Mereka akan mendatangi saya dan berkata, ‘Saya tidak ingin ada yang tahu, tapi saya kadang tidur saat bekerja’,” kata Jamie. “Biasanya sekitar pukul dua atau lebih orang lelah dan mereka ingin tidur siang. Dan jika mereka melakukannya, walaupun hanya dengan bersandar memejamkan mata selama 20 menit di kursi mereka, mereka akan menjadi lebih baik dalam apa yang mereka lakukan.”
Tidur Siang Itu Alami
Tidak ada yang membantah kebutuhan kita untuk tidur malam. Tetapi bagi banyak orang, tidur sebentar di siang hari memiliki stigma buruk yang melekat padanya, seperti orang yang malas. Tapi di Eropa, Anda akan menemukan bahwa tidur siang adalah praktik umum yang sangat sejalan dengan ritme hari.
Dr. Alon Avidan, seorang profesor neurologi dan direktur Pusat Gangguan Tidur UCLA mengatakan bahwa tidur siang adalah respons alami terhadap penurunan kewaspadaan yang biasanya terjadi beberapa jam setelah makan siang.
“Di negara Eropa lain, tidur siang dapat diterima secara sosial. Itu strategi untuk menghilangkan rasa lelah dan kantuk yang bersifat sementara,” kata Dr. Alon. “Jika Anda pergi ke Spanyol, Italia, dan Portugal di siang menjelang sore, Anda beruntung menemukan toko yang buka, karena banyak pemilik toko tutup untuk tidur siang sebelum membuka lagi tokonya di sore dan malam harinya. Di AS, kita telah meninggalkan gagasan itu dan malah mengandalkan bekerja dengan menggunakan secangkir kopi.”
Bahkan di Jepang, negara yang terkenal dengan etos kerja yang kuat dan pengabdian pada perusahaan, tidur siang mendapatkan penghormatan sosial.
Menurut Alexandra Kenny dari situs informasi Tourist Japan, tidur siang adalah praktik yang umum dan bagian dari kehidupan sehari-hari. Kenny mengatakan bahwa di Jepang, orang biasa melihat orang tidur di kafe, di kereta, di toko, dan bahkan di kantor. Praktik ini dikenal sebagai inemuri, yang berarti “tidur saat bertugas”. Stigmanya bukan negatif, tapi positif.
Inemuri bahkan didorong di beberapa tempat kerja karena memberikan waktu kepada pekerja untuk memulihkan fokus mereka saat bekerja.
“Padahal, tidur siang seringkali menjadi simbol kesuksesan seorang pekerja keras yang berhak mendapatkan istirahat,” kata Alexandra. “Ini adalah bagian dari keseimbangan kerja/hidup di Jepang. Pada gilirannya, tenaga kerja menjadi lebih produktif, efisien, dan pada akhirnya lebih bahagia.”
Menurut konsultan tidur pediatrik berserti kat Riki Taubenblat, kita secara biologis ingin tidur siang. Hanya saja budaya kita mendorong stimulan, daripada tidur untuk mengatasi keterpurukan tengah hari itu.
“Pada kenyataannya, mereka akan jauh produktif bila bekarja diselingi dengan tidur siang singkat. Tidur siang dapat meningkatkan fokus mental, keadaan emosi, dan kesehatan,” kata Riki.
Riki menunjuk ke sebuah studi Universitas Harvard yang melacak lebih dari 23.000 pria dan wanita Yunani. Ini terjadi pada 1990- an, ketika beberapa bagian Yunani mulai menarik diri dari budaya tidur siang tradisional untuk merangkul ritme tanpa tidur siang di dunia modern.
Selama enam tahun, para peneliti menemukan bahwa mereka yang tidak tidur siang menunjukkan risiko penyakit jantung yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tetap tidur siang secara teratur.
Tidur siang juga dapat memengaruhi umur kita. Di Pulau Ikaria, Yunani, yang budayanya masih berorientasi pada tidur siang, ditemukan bahwa pria empat kali lebih mungkin untuk hidup sampai usia 90 tahun daripada pria di Amerika Serikat.
Riki percaya bahwa alasan utama orang memiliki perasaan negatif terhadap tidur siang adalah karena budaya mereka tidak menghargai tidur.
“Kita hidup dalam masyarakat di mana Anda mendapat pujian karena menyombongkan diri bahwa Anda hanya tidur empat jam tadi malam. Tapi tidak ada yang menepuk punggung Anda karena mendapatkan tidur delapan jam,” katanya.
Jamie berpikir bahwa rasa ketangguhan melalui kurang tidur ini berasal dari anggapan bahwa pekerja yang ideal adalah orang yang paling bisa meniru mesin.
“Anda mendapatkan hasil maksimal dari mesin jika Anda menjalankannya 24/7, karena biaya variabel Anda berkurang dan lebih efisien. Jadi kita punya ide bahwa kita harus menggerakkan orang seperti mesin, 24/7,” katanya. “Tapi itu cara yang bodoh untuk berpikir tentang manusia.”
Berapa Lama Durasi Tidur Siang yang Baik?
Salah satu cara untuk menghemat energi Anda adalah dengan beristirahat. Berjalan-jalan, mendengarkan musik, atau hanya meluangkan waktu sejenak untuk menjernihkan pikiran dapat membantu menenangkan pikiran Anda agar dapat menangani pekerjaan beberapa jam ke depan dengan lebih baik.
Tetapi Dr. Alon mengatakan tidak ada yang bisa mengisi kembali tubuh seperti halnya tidur.
“Anggap saja seperti mobil listrik. Jika Anda mendudukkannya diam dan membiarkannya beristirahat, itu tidak menghabiskan energi apa pun. Tetapi jika Anda mencolokkannya, itu akan memungkinkan arus untuk mengisi ulang,” kata Dr. Alon. Itulah yang kita lakukan saat kita tidur. Kita mengizinkan otak untuk mengisi dan mengisi ulang daya.”
Namun, untuk mendapatkan hasil maksimal dari tidur siang Anda, Anda harus menggunakan kekuatan ini secara strategis. Tidur terlalu lama, atau terlalu larut di sore hari, akan berisiko mengalami insomnia — dan mengurangi jumlah tidur yang Anda dapatkan di malam hari.
“Jika seseorang tidur siang pada jam 5, 6, 7, atau 8 malam, hal itu dapat mengganggu kemampuan untuk tertidur di malam hari, karena mereka telah memulihkan sebagian rasa kantuknya, sehingga dorongan untuk tidur di malam hari tidak akan kuat,” papar Dr. Alon.
Menurut Dr. Alon, tidur siang yang ideal terjadi dalam penurunan energi alami kita setelah makan siang — biasanya pukul 1 siang sampai jam 3 sore. Adapun durasinya, kami memiliki dua pilihan: tidur siang selama 20 menit untuk menghilangkan rasa kantuk, atau tidur siang selama 45 menit hingga satu jam untuk memulihkan fungsi kognitif sepenuhnya.
Mungkin jika penelitian tentang tidur dipublikasikan dengan lebih baik, itu akan membantu menghapus beberapa stigma budaya yang kita miliki tentang tidur siang. Namun Gruman berkata bahwa pengetahuan ini saja tidak akan cukup. Dia mengatakan akan membutuhkan beberapa langkah lagi agar budaya perusahaan benar-benar merangkul tidur di tempat kerja.
Tentunya kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda. Beberapa bekerja lebih baik dengan manfaat tidur siang setiap hari, sementara yang lain hanya membutuhkannya sesekali. Jamie mengatakan dia rata-rata hanya tidur siang sekali atau dua kali sebulan. Tapi pengisian ulang cepat itu membuat perbedaan besar dalam kualitas pekerjaannya saat dia dilanda kelelahan tengah hari.
“Setelah 15 menit, saya kembali ke performa terbaik saya, dan pikiran yang sebelumnya tidak muncul di benak saya, kini muncul di benak saya. Ide dan argumen yang sebelumnya tidak bisa saya buat sekarang bisa saya buat dengan mudah,” ujarnya. “Ini benar-benar perbedaan yang dramatis.”
Jamie tahu dia beruntung. Karena sebagian besar pekerjaannya dilakukan dari rumah, dia memiliki kemewahan untuk mengatur jadwalnya agar sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Tetapi dia berpendapat bahwa jika tempat kerja modern juga mengadopsi ritme yang lebih sesuai dengan tubuh manusia, kita semua akan menjadi lebih baik.
“Ini tentang menghormati tubuh dan pikiran Anda, dan bekerja selaras dengan sinyal bahwa Anda sedang diberikan dan tidak menekan atau menyangkalnya,” katanya.
“Ada kalanya kita harus menunjukkan bahwa kita tangguh, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak harus melakukan itu. Kita harus merangkul sisi intuitif kita — yang lebih selaras dengan siklus alam. Sebenarnya, kita akan menjadi lebih efektif.” (epochtimes/tam)
Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

