Kesehatan

Yang Tidak Disadari Saat Bermain Game

Kecanduan game
Gambar hanya untuk tujuan ilustrasi. Kecanduan game(©newhealthguide.org)

Sangat sedikit di zaman modern ini orang yang tidak bermain game, baik di ponsel maupun komputer, berbagai permainan itu telah membuat orang dewasa hingga anak-anak tergoda untuk bermain dengan sangat antusias. Namun, apakah hal itu benar- benar adalah fenomena positif?

Orang yang hanyut dalam game tidak bisa secara obyektif dan tenang menilai kekurangan yang dibawa oleh game itu sendiri, hanya merasa tertarik, bisa menikmatinya dan membunuh waktu senggang, namun tidak bisa melihat bahwa game itu sebenarnya adalah budaya metamorfosa yang sedang menggerogoti jiwa manusia secara tak terasa.

Kerugian pertama, kecanduan game bisa merusak fisik. Game sekarang ini dibuat semakin canggih dan jenisnya semakin banyak, ia semakin membuat orang terpikat. Tak peduli orang dewasa ataupun anak-anak nampaknya tiada yang kuasa menampik. Itu sebabnya sering bisa disaksikan anak-anak kecil yang sudah bermata minus karena kecanduan game; orang dewasa pun sering tidur larut malam, begadang demi bermain game yang dapat menyebabkan jam biologis terbalik, tidak teratur makannya, lama kelamaan tubuh pun rusak. Para penggila game biasanya dapat menderita gejala mata merah, tangan gemetar dan lain sebagainya, juga dalam segi mental nampak lesu tak bersemangat, emosi tidak stabil, acap kali berada dalam kondisi kesehatan buruk.

Tubuh manusia bersepadanan dengan alam, maka dari itu orang yang berpola hidup sehat acapkali akan patuh pada hukum alam dalam bekerja dan beristirahat.  Tetapi manusia zaman sekarang demi bermain game malah sering kali hidup pagi dan malam berbalikan, hal ini selain dapat merusak metabolisme normal pada tubuh, juga dapat membawa bahaya laten yang belum diketahui oleh manusia. Teringat orang zaman dulu sering mengajarkan kepada anak-cucu: Jangan berjalan di malam hari, jangan keluar rumah setelah jam 12 tengah malam, jangan begadang….. Ini karena orang di zaman kuno kebanyakan memahami hukum Yin dan Yang, tahu bahwa malam hari adalah waktunya tubuh beristirahat memulihkan energi, pepatah mengatakan ‘hawa Yin berat’, oleh karena itu harus menghindari waktu itu untuk melakukan kegiatan.Tetapi anak muda jaman sekarang begitu bermain game, semalam suntuk tidak tidur dan bangun siang, sekolah juga sambil ngantuk menguap terus kekurangan fokus, akibatnya prestasinya merosot.

Kerugian kedua, bermain game jugamerusak kesehatan mental orang. Game pada akhirnya dapat menyebabkan kecanduan, ‘kecanduan’ seperti ini jika dibiarkan akan membentuk suatu penyakit mental. Orang yang kecanduan game selalu mengurung diri dalam dunia permainan sehingga sering dapat melemahkan atau menghilangkan kemampuan berkomunikasi secara normal dengan dunia luar (terutama anggota keluarga). Sering kita saksikan, anak-anak yang karena kecanduan game lalu berubah menjadi autistik dan tidak mau berinteraksi dengan orang tua. Orang dewasa pun yang kecanduan game dapat mengabaikan tanggung jawabnya terhadap keluarga bahkan memicu konflik dengan pasangannya. Lebih parah lagi, demi permainan virtual telah menghabiskan sejumlah uang, maka tak ubahnya dengan perjudian.

Kerugian ketiga, game sedang mempropagandakan semacam budaya metamorfosis secara tersembunyi. Orang tua yang mengerti prinsip akan mengajarkan anak- anak mereka banyak membaca kitab-kitab suci agar bisa terbentuk suatu nilai pandang yang tepat dalam pikiran mereka. Namun anak muda zaman sekarang hampir tidak membaca buku, apalagi buku- buku orang bijak, sebaliknya menghabiskan banyak waktu dalam bermain game. Tapi dalam game yang kerap ditonjolkan adalah “mahluk aneh berkekuatan dahsyat” dan budaya kekerasan, manusia jika dalam jangka waktu panjang terpengaruh oleh informasi yang terus-menerus merasuk ke dalam otak seperti ini, tentu juga akan berubah agresif, kurang bermurah hati, hal ini secara tak langsung dapat menumbuhkan sifat ‘jahat’ dari manusia.

Kerugian keempat, bermain game akan merusak sifat kemanusiaan. Semua orang yang pernah menerima pendidikan budaya tradisional mengetahui bahwa budaya klasik Tionghoa mengajarkan ‘teori karakter kebajikan’, menghendaki ‘manusia menyatu dengan Langit’ dan “kebajikan tinggi bagaikan ilmu air”, tetapi game zaman sekarang mulai dari gambar di layar hingga jalan ceritanya mempropagandakan kekerasan dan saling membunuh, informasi yang disebarkan juga bersifat keiblisan.

Kerugian kelima, bermain game menghamburkan waktu menghabiskan kehidupan. Game bisa membuat orang kecanduan, ada game yang begitu dimainkan membutuhkan waktu beberapa jam, membuang-buang waktu juga menyia-nyiakan hidup, sebuah komputer atau sebuah ponsel bisa mengikat manusia, membuat orang tidak bisa menikmati cuaca alam yang cerah, juga tidak bisa merasakan kehangatan keluarga, bahkan sesi makan bersama di meja makan saja masing-masing terpaku pada ponselnya.

Masih ada orang yang bermain game bukan semata-mata merasa tertarik, karena merasa dirinya bosan, merasa bermain game kebetulan bisa mengisi waktu dia yang membosankan. Sebenarnya orang seperti ini yang paling menyedihkan, hidup tanpa tujuan dan cita-cita yang tepat, oleh karena itu baru bisa merasa hampa dan membosankan, baru mengandalkan game mematikan rasa diri sendiri. Menunggu waktu telah lewat baru menemukan bahwa kehidupan sudah pada usia senja, diri sendiri tidak melakukan apa-apa, hanya saja sebagian besar kehidupan telah dihabiskan oleh game, saat itu meskipun menyesal juga sudah terlambat.

Semua orang mengatakan bahwa Tuhan itu adil, karena Dia memberikan setiap orang waktu 24 jam satu hari. Sedangkan bagaimana manusia memanfaatkan waktu 24 jam ini, akan membedakan para pemenang, orang biasa dan pecundang. Meskipun devinisi keberhasilan itu berbeda-beda namun kami menemukan bahwa bagi orang yang berprestasi di suatu bidang, mereka tidak ada waktu untuk merasakan kebosanan dan kehampaan, lebih- lebih tidak akan membuang-buang waktu mereka yang berharga untuk bermain game. Fakta membuktikan bahwa hanyut dalam permainan game bisa membuat orang kehilangan cita-cita, terhadap seseorang atau suatu bangsa juga adalah hal yang menyedihkan. Menurut cerita jiwa manusia harus berinkarnasi selama ribuan tahun baru bisa terlahirkan menjadi manusia, masakan dengan susah payah datang satu kali ke dunia fana lalu terjebak dalam permainan game dan telah melupakan cita-cita diri sendiri menjadi manusia? Kalau begitu bukankah sia-sia datang ke dunia fana menjadi manusia. (epochtimes/lin)

Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI