Ketika kita berkunjung ke Eropa, satu hal yang mengesankan adalah, jika bukan karena rusak akibat perang, maka kota-kota di Eropa umumnya sangat melestarikan bangunan-bangunan tua. Pada saat membangun kembali sebuah bangunan, juga disesuaikan dengan gaya arsitektur sekelilingnya. Jarang sekali kita temukan, adanya bangunan bergaya modern mencuat sendirian di tengah bangunan-bangunan kuno. Dinas tata kota umumnya tidak akan mengijinkan.
Justru karena apresiasi masyarakat yang tinggi pada bangunan-bangunan tua, wisata ke kota-kota Eropa akan meninggalkan kesan yang mendalam, atmosfer yang berbeda – utamanya bagi kita, orang-orang dari Asia, yang pembangunan kotanya umumnya telah didominasi gaya arsitektur modern.
Kemudian, wisatawan dari Asia sering mencari yang superlatif saat berkunjung ke Eropa, mengunjungi kota-kota besar seperti Paris, Berlin, Barcelona dan lainnya. Tentu semuanya menarik. Tetapi ada satu kota, yang pusat kotanya tergolong mungil dan banyak objek wisatanya yang berasal dari abad ke-12 hingga 15 dapat dengan mudahnya dijangkau dengan berjalan kaki, itulah Kota Brugge di Belgia.
Kota ini dapat dikatakan sangat beruntung, betapa tidak – dua kali diduduki tentara Jerman baik saat Perang Dunia I maupun II, namun tidak mengalami kerusakan berarti. Mengingat banyak peninggalan dari masa lampau yang masih utuh, kota Brugge dimasukkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO dan bahkan dinobatkan sebagai Ibu Kota Kebudayaan dari Eropa.
Karena pusat kotanya tergolong mungil, maka sangat ideal dikunjungi bersama keluarga, mengajak lansia atau anak kecil sepertinya juga tidak perlu kuatir mereka akan terlalu lelah. Kota ini bisa dinikmati pula dari sisi kanal dengan perahu, bila sudah jenuh berjalan kaki, dan pemandangan dari sisi kanal juga tidak kalah cantiknya.
Negara Belgia tidaklah besar wilayahnya bila dibandingkan Indonesia, kemana pun naik kereta atau berkendaraan, bila lebih dari dua jam sudah tergolong jauh. Dari Kota Brussels, rata-rata setiap 20-30 menit sekali ada kereta menuju Brugge, hampir tanpa henti selama 24 jam. Perjalanan rata-rata dengan kereta hanya sekitar 50-70 menit. Selamat datang di Brugge. (ntdindonesia/karnadi nurtantio)

