Tag: angkatan laut AS

  • AS Menyita Kapal Iran yang Terkait China

    AS Menyita Kapal Iran yang Terkait China

    Sebuah kapal kargo Iran yang berkunjung ke China bulan lalu kini disita oleh AS. Pasukan AS menyitanya pada hari Minggu setelah kapal mencoba menerobos blokade dan memasuki pelabuhan Iran. Kini muatan kapal sedang diperiksa, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa China diam-diam membantu militer Iran.

    Blokade AS masih berlaku bagi semua kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran. Kapal kargo Iran bernama Touska ini menolak berhenti saat diperintahkan.

    Presiden Trump memposting pada hari Minggu bahwa kapal perusak Angkatan Laut AS menghalangi kapal tersebut di Teluk Oman dan kini berada di bawah kendali AS.

    Mantan perwira Angkatan Laut AS Charlie Brown memberitahu Wall Street Journal bahwa ia yakin kapal tersebut mengangkut barang-barang berharga bagi Iran. Ini juga menjelaskan mengapa kapal mencoba menembus blokade AS.

    Fakta menariknya, kapal Touska adalah bagian dari armada yang sering mengunjungi China. Menurut data maritim, kapal itu berhenti di dua kota pelabuhan besar China pada akhir Maret, yaitu Shanghai dan Zhuhai

    Di Zhuhai, Pelabuhan Gaolan adalah pusat utama industri berat dan penyimpanan bahan kimia cair yang merupakan bahan baku untuk rudal jarak menengah. Data maritim juga menunjukkan kapal tersebut menghabiskan sebagian besar waktu tahun lalu berlayar bolak balik antara China dan Iran.

    Kapal Touska dikenai sanksi pada 2018 atas aktivitas ilegal termasuk dugaan penyelundupan. China menanggapi hari Senin menyatakan kekhawatirannya atas penyitaan AS ini.

    Presiden Trump menyatakan pekan lalu bahwa pemimpin rezim China Xi Jinping telah berjanji untuk tidak mengirim senjata ke Iran. Trump juga memperingatkan tarif tinggi terhadap China jika membantu militer Iran.

    Insiden ini memperburuk ketegangan antara AS dan Iran. Hari Senin, Iran berkata bahwa mereka tidak berencana menghadiri putaran perundingan damai berikutnya, meskipun belum 100% final.

  • Pelaut AL AS Jadi Mata-mata China, Dihukum Hampir 17 Tahun

    Pelaut AL AS Jadi Mata-mata China, Dihukum Hampir 17 Tahun

    Seorang mantan pelaut Angkatan Laut AS telah dijatuhi hukuman hampir 17 tahun karena menjadi mata-mata China. Ia menjual rahasia militer ke perwira intelijen China, termasuk melaporkan masalah dengan kapal angkatan laut serta mengungkap berbagai lokasinya.

    Jinchao Wei juga dikenal sebagai Patrick Wei bekerja di kapal serbu amfibi USS Essex di Pangkalan Angkatan Laut San Diego sebagai mekanis. Posisi itu memberinya akses ke informasi pertahanan sensitif,  termasuk data kapal Angkatan Laut AS dan senjata mereka. Jaksa berkata dia membocorkan foto, pergerakan kapal, dan detail senjata. Dia dilaporkan dibayar lebih dari 12.000 dolar AS.

    Juri menyatakan dia bersalah tahun lalu atas enam dakwaan, termasuk spionase dan ekspor data pertahanan yang melanggar hukum. Wei telah direkrut oleh seorang perwira China pada 2022, yang menggambarkan dirinya sebagai seorang penggemar angkatan laut yang berafiliasi dengan industri pembuatan kapal milik negara China.

    Awalnya dimulai dengan instruksi sederhana dan imbalan kecil seperti berjalan di dermaga untuk melihat kapal mana yang berlabuh setiap hari dan ia dibayar 500 dolar untuk itu. Hal ini berlanjut dengan ia membagikan ribuan dokumen, manual operasi, dan berbagai informasi sensitif.

    Wei adalah warga negara AS yang dinaturalisasi. Jaksa penuntut berkata ibunya telah mendorongnya untuk bekerja untuk China, mengatakan itu akan dapat membantunya mendapatkan pekerjaan di pemerintah China.

  • Siapa Lebih Kuat? Angkatan Laut AS vs China

    Siapa Lebih Kuat? Angkatan Laut AS vs China

    China memimpin dalam jumlah kapal, tetapi keunggulan Angkatan Laut AS terletak pada jangkauan global, kapal induk bertenaga nuklir, dan pengalaman tempur yang mendalam. Seiring meningkatnya ketegangan di Indo-Pasifik, termasuk Selat Taiwan, kedua angkatan laut berlomba untuk beradaptasi. Namun dibandingkan dengan China, infrastruktur angkatan laut dan kemampuan logistik Amerika tetap tak tertandingi. Berikut tinjauan detail tentang perbandingan AS dan China di laut.

    Dalam hal kapal induk, Amerika Serikat masih unggul dengan selisih yang lebar. Angkatan Laut AS mengoperasikan 11 kapal induk super bertenaga nuklir, yang masing-masing mampu meluncurkan berbagai macam pesawat dengan kecepatan, daya tahan, dan daya tembak di mana pun di dunia. China, sebaliknya, memiliki tiga kapal induk, semuanya bertenaga konvensional, dengan hanya kapal induk terbarunya, yang disebut Fujian, yang menggunakan sistem peluncur ketapel modern. Namun, Angkatan Laut China masih tertinggal dalam hal jangkauan serang, kapasitas pesawat, dan operasi kompleks yang dibutuhkan untuk mempertahankan kapal induk dalam misi jangka panjang.

    China kini memiliki angkatan laut terbesar di dunia, setidaknya berdasarkan jumlah kapal. Pada tahun 2025, Beijing mengklaim memiliki 370 kapal perang dibandingkan dengan 296 milik Angkatan Laut AS.

    Namun, lebih besar tidak selalu berarti lebih kuat. AS mengandalkan kapal selam bertenaga nuklir yang lebih cepat, lebih siluman, dan mampu bertahan lebih lama di laut. China memiliki lebih banyak kapal selam diesel-listrik, yang lebih cocok untuk pertahanan pesisir dan operasi regional.

    Ujian sesungguhnya bagi kekuatan angkatan laut bukan hanya jumlah. Melainkan seberapa baik Anda bertempur, berkoordinasi, dan memastikan kapal-kapal tersebut terpasok. Di situlah AS memegang keunggulan krusial: logistik global, sensor canggih, dan puluhan tahun pengalaman dalam mengoordinasikan operasi Angkatan Laut skala besar.

    China berkembang pesat, namun masih menghadapi kendala dalam hal komando, kendali, pemeliharaan, dan operasi jarak jauh. Seiring meningkatnya ketegangan di Pasifik Barat, terutama di sekitar Taiwan dan Laut Cina Selatan, kedekatan China memberikan keuntungan.

    Namun, Angkatan Laut AS juga beradaptasi. berinvestasi dalam kendaraan permukaan dan bawah air nir-awak, distribusi kekuatan yang lebih cerdas, dan mengatasi kendala berbasis industri sambil meningkatkan pembangunan kapal.