Tag: antibiotik

  • 3 Buah untuk Meredakan Batuk

    3 Buah untuk Meredakan Batuk

    Banyak orang mengalami batuk di musim pancaroba seperti sekarang, terutama di malam hari, yang memengaruhi istirahat mereka dan sangat mengganggu.

    Tidak baik bagi tubuh untuk minum obat terus menerus. Selain itu, tidak ada gunanya minum antibiotik jika Anda memiliki infeksi virus.

    Selain itu, mengonsumsi antibiotik yang tidak sesuai untuk bakteri tertentu yang menyebabkan infeksi, bahkan dapat menyebabkan berkembangnya strain bakteri yang resistan terhadap obat yang akan membuatnya sangat sulit diobati di masa mendatang.

    3 jenis buah untuk menghentikan batuk.

    1. Apel

    Memasak apel dan merendam jamur salju bersama dalam air dingin, lalu menambahkan wolfberry, kurma, dll, dapat melembabkan paru-paru untuk menghentikan batuk. Selain itu, jus apel tanpa gula dapat meringankan gejala batuk dan melegakan tenggorokan serak.

    2. Pir

    Buah pir dapat menghasilkan air liur, menghilangkan dahaga, menghilangkan panas, dan menghentikan batuk. Ada beberapa cara untuk mempersiapkan pir untuk hasil terbaik:

    1. Potong pir, tambahkan biji teratai, gula batu, dan madu, lalu didihkan.
    2. Iris pir dengan kulitnya dan masukkan ke dalam mangkuk. Tambahkan gula batu dan kukus hingga pir lunak. Anda juga bisa menambahkan madu setelah lunak. Makan selagi hangat untuk mendapatkan efek terbaik.
    3. Potong buah pir menjadi beberapa bagian dengan kulitnya dan rebus menjadi sup dengan pepaya, madu, kurma, dan kaldu Ini akan menghilangkan panas di paru-paru dan meningkatkan nafsu makan Anda.
    4. Masukkan jamur salju dan pir yang sudah direndam ke dalam air dingin untuk dimasak menjadi sup. Sesuai selera masing-masing, Anda bisa menambahkan wolfberry atau kurma. Anda juga bisa menambahkan gula batu. Ini akan menghilangkan panas tubuh Anda dan mengobati batuk Anda.

    3. Buah Jeruk

    Vitamin C memiliki antioksidan dan meningkatkan imunitas tubuh. Jika pasien mengonsumsi vitamin C dalam jumlah besar setiap hari, gejala pilek bisa berkurang dan ini bisa mempersingkat perjalanan penyakit.

    Jeruk dapat menghilangkan dahaga, melegakan tenggorokan, dan menghentikan batuk. Buah jeruk kaya akan vitamin C. Hanya satu jeruk sehari dapat memenuhi asupan harian yang direkomendasikan menjadikannya senjata ajaib untuk melawan flu.

    Hindari 5 hal ini saat batuk:

    1. Minuman Dingin

    Minuman dingin memang menyegarkan, tetapi bisa membuat batuk Anda semakin parah. Sangat berbahaya meminum minuman dingin saat sedang batuk.

    Minuman dingin merangsang semua organ tubuh. Jika dahak Anda banyak, berarti fungsi limpa Anda sedang menurun.

    Minuman dingin semakin mengiritasi paru-paru dan limpa semakin rusak, menghasilkan lebih banyak dahak.

    2. Gorengan atau Makanan yang Digoreng

    Menurut pengobatan tradisional Cina (TCM), batuk biasanya disebabkan oleh panas di paru-paru, dan gorengan dapat membuat panas paru-paru semakin parah dan menambah beban pada perut dan usus. Orang harus makan makanan ringan dan bergizi saat batuk.

    Banyak orang tahu bahwa gorengan tidak bergizi bahkan berbahaya bagi tubuh, padahal gorengan itu enak. Tidak masalah jika Anda makan makanan seperti itu sesekali, tetapi jika Anda batuk, lebih baik tahan!

    3. Permen dan Manisan

    Banyak orang tidak bisa menolak permen meskipun itu bukan makanan sehat. Buah-buahan memang sangat bergizi, dan beberapa buah seperti jeruk memiliki efek meredakan batuk dan mengurangi dahak. Namun, beberapa buah, seperti pisang, bisa menghasilkan dahak.

    Dahak tidak mudah mencair, yang dapat dengan mudah memperpanjang perjalanan penyakit. Permen dan buah-buahan dengan indeks glikemik tinggi harus dihindari saat Anda batuk.

    4. Makanan asin dan pedas

    Banyak orang senang makan makanan asin atau pedas. Asupan garam yang terlalu banyak mengurangi sekresi air liur dan memudahkan berbagai bakteri dan virus untuk menyerang, yang merupakan salah satu penyebab infeksi saluran pernapasan atas dan dapat memperburuk kondisi tersebut.

    Oleh karena itu, penting untuk mengonsumsi makanan ringan saat batuk untuk membantu Anda cepat sembuh.

    5. Rokok

    Tentu saja, Anda tidak boleh merokok saat batuk. Merokok bahkan dalam keadaan normal dapat merusak trakea. Terus merokok saat Anda sudah mengalami peradangan saluran pernapasan dapat memperparah berbagai masalah yang ada.

    Merokok tidak hanya memperparah batuk, tetapi juga memperpanjang perjalanan penyakit, yang dapat menyebabkan infeksi sekunder.

    Bahkan dapat menyebabkan bronkitis, trakeitis, dan akhirnya pneumonia. Sayangi organ paru-paru Anda, karena sekali ia rusak, anda akan kesulitan bernafas. (nspirement)

    Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    VIDEO REKOMENDASI

  • Studi Menemukan “Hubungan Signifikan” antara Anak Laki-Laki Penderita Autisme dengan Waktu di depan Layar Gawai

    Studi Menemukan “Hubungan Signifikan” antara Anak Laki-Laki Penderita Autisme dengan Waktu di depan Layar Gawai

    Autism spectrum disorder (ASD) adalah suatu kondisi yang dimulai pada masa kanak-kanak yang mempengaruhi bagaimana seseorang memandang dan berinteraksi dengan orang lain dan sekitarnya, dengan ‘spektrum’ yang berarti ada berbagai gejala.

    Meskipun tidak ada obat untuk autisme, pendampingan penuh perhatian dari orangtua dapat membantu anak-anak autis berkembang dan menyesuaikan diri dengan dunia seperti yang mereka pahami.

    Meskipun beberapa klaim telah menghubungkan autisme dengan vaksin, antibiotik, dan bahkan gula, tidak ada bukti nyata yang mengonfirmasi penyebab autisme; namun satu penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan Jepang diklaim telah menemukan ‘hubungan yang signifikan’ antara anak-anak autis dengan waktu yang dihabiskan di depan layar gawai.

    Apa yang bisa dilakukan televisi dan turunannya yang lebih baru dalam mempengaruhi perkembangan anak-anak autis? Menjadikannya suatu berkah atau kutukan?

    Waktu layar dan autisme

    Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Yamanashi di Jepang ini melibatkan 84.030 anak – semuanya lahir antara Januari 2011 dan Maret 2014.

    Menurut penelitian, ASD paling banyak ditemukan pada anak usia tiga tahun, terhitung 392 per 100.000 (0,4 persen). Di antara mereka, anak laki-laki ditemukan tiga kali lebih mungkin memiliki gangguan tersebut daripada anak perempuan.

    Selain itu dilakukan kuesioner mengenai durasi waktu yang dihabiskan di hadapan layar bagi anak usia satu tahun, dengan kuesioner juga dilakukan pada anak usia tiga tahun. Sebuah pertanyaan tambahan diajukan tentang apakah anak itu didiagnosis dengan ASD.

    Studi menunjukkan bahwa diagnosis ASD tampaknya lebih umum pada anak-anak yang terpapar layar, dengan rasio 1,38 untuk anak-anak dengan waktu layar kurang dari satu jam; 2.16 selama kurang dari 2 jam; dan 3,02 untuk empat jam ke atas.
    “Di antara anak laki-laki, yang memiliki waktu di depan layar gawai lebih lama pada saat mereka berusia satu tahun secara signifikan terkait dengan gangguan spektrum autisme pada usia tiga tahun,” tulis para penulis.
    Berdasarkan hasil tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa semakin banyak perangkat yang digunakan, efek pada anak-anak dengan ASD perlu ditinjau dan waktu yang dihabiskannya di depan layar perlu dikelola.

    Terlepas dari upaya ilmiah yang dilakukan, penelitian ini hanya dapat menentukan “korelasi”, yang hanya didukung oleh “studi sebab-akibat”. Para peneliti juga mengakui bahwa kuesioner yang mereka berikan bisa saja bias.
    Dengan demikian, professor yang melakukan Penelitian Autisme, Andrew Whitehouse, dari Telethon Kids Institute, percaya bahwa temuan yang dibuat oleh Universitas Yamanashi “tidak terlalu [signifikan].” Dia juga mengklaim bahwa penelitian ini tidak cukup efektif untuk menunjukkan hubungan antara waktu yang dihabiskan di depan layar gawai dan diagnosis autisme, karena itu bisa saja faktor lebih dari sekadar menonton televisi.

    “Sungguh, sangat penting bagi kami untuk menempatkan temuan semacam ini dalam konteks. Korelasi ini tidak setara dengan hubungan sebab akibat.” Whitehouse berkata pada Sunrise.
    Beberapa penelitian lain memang mendukung penelitian ini, namun, mendorong penelitian lebih lanjut tentang masalah ini.

    Sebuah studi tahun 2020 oleh Drexel University College of Medicine menunjukkan bahwa, dari 2.152 anak yang disurvei, mereka yang terpapar layar gawai pada usia 12 bulan dikaitkan dengan lebih tingginya gejala mirip ASD pada saat mereka berusia dua tahun.

    Studi lain oleh University of Calgary pada tahun 2019 menunjukkan bahwa hasil yang serupa juga ditemukan, dengan penurunan kinerja optimal yang dikaitkan dengan jumlah waktu layar yang lebih besar pada anak-anak berusia 24 dan 36 bulan.
    Laporan tentang efek samping COVID-19 juga menunjukkan bahwa waktu di depan layar gawai pada anak-anak relatif lebih tinggi karena berada di rumah memaksa mereka untuk belajar melalui perangkat.

    Berkat atau kutukan?

    Meskipun waktu di depan layar gawai mungkin perlu menjadi perhatian, bukan berarti semua waktu yang dihabiskan di depan layar gawai selalu buruk.
    Anak-anak dengan ASD cenderung sulit untuk memahami lingkungan mereka dan sering bereaksi sangat keras terhadap setiap kejadian kecil, mulai dari suara hingga gerakan, dan bahkan kata-kata sederhana – mereka mungkin merasa sulit untuk membedakan antara pujian maupun bantahan, dan lain sebagainya.

    Mereka juga memiliki kecenderungan untuk melakukan hal yang sama berulang-ulang, kurang mampu menyesuaikan diri serta berinteraksi secara baik dengan orang lain. Dengan demikian, perangkat digital dapat dijadikan sebagai media pelarian bagi anak autis.

    Menurut sebuah artikel oleh Huffington Post, waktu layar dapat membantu anak-anak dengan autisme mengembangkan keterampilan komunikasi dan sosial, sementara juga meningkatkan kemampuan belajar dan pemulihan kecemasan, karena dapat bertindak sebagai hadiah untuk mendorong perkembangan perilaku, mengajarkan aktivitas dan membantu dalam relaksasi.

    Dr. Paul Shattuck, seorang peneliti dari Universitas Washington, mengklaim bahwa ada beberapa manfaat dari perangkat digital, termasuk video game, yang dapat membantu penderita autis untuk memuaskan perilaku berulang mereka, karena mereka akan dapat mengendalikan skenario mereka sendiri. Perangkat digital juga dapat digunakan untuk membantu menenangkan dan merangsang pikiran, memungkinkan anak-anak untuk lebih mengontrol tindakan mereka.

    Meski demikian, tidak dapat disangkal bahwa terlalu banyak waktu yang dihabiskan di depan layar gawai memiliki masalahnya tersendiri. Seperti yang ditunjukkan oleh sebuah artikel di Psychology Today, anak-anak dengan autisme masih rentan terhadap efek negatif dari terlalu banyak waktu di depan layar.

    Anak-anak dengan autisme cenderung mengalami gangguan tidur, dan waktu yang dihabiskan di layar gawai dapat memblokir melatonin – hormon di otak yang berhubungan dengan tidur. Ini juga dapat menyebabkan peradangan pada sistem saraf dan melepaskan lebih banyak hormon stres.

    Sementara penggunaan perangkat dapat membantu anak-anak autis berkomunikasi dalam beberapa cara, namun terlalu banyak waktu yang dihabiskan di depan layar gawai dapat menyebabkan hambatan lebih lanjut dalam melakukan komunikasi sosial yang sudah sulit. Ini karena akan membatasi pengalaman dalam bahasa wajah dan tubuh, dan menurunkan rentang perhatian.

    Dengan mempertimbangkan pro dan kontra yang ada, orang tua mungkin perlu mengatur keseimbangan yang dapat memenuhi kebutuhan anak mereka sambil mengatur waktu layar berdasarkan usia mereka.
    Orangtua mungkin perlu memperbolehkan anak mereka menonton dalam waktu-waktu tertentu– setidaknya, paling lama tiga jam.

    Mereka juga dapat memastikan bahwa anak-anak mereka tidak menggunakan perangkat mereka secara berlebihan, terutama sebelum tidur. Seperti disebutkan di atas, mereka mungkin diperbolehkan menggunakan layar gawai sebagai hadiah karena telah melakukan tugas-tugas mereka atau ketika harus melakukan kegiatan “membosankan” lainnya.

    Lebih penting lagi, orang tua juga harus ekstra waspada terhadap apa yang ditonton anak-anaknya. Di dunia, di mana saluran YouTube yang seharusnya didedikasikan untuk Peppa Pig dapat berisi konten terburuk yang tidak pernah kita bayangkan, sangat penting bagi orang tua untuk menjaga anak-anak mereka aman dari hal-hal kasar seperti itu dari jaringan daring.

    Autisme bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan atau dicegah, dan berkembang pada usia yang sangat muda. Apa yang dapat dilakukan orangtua adalah membantu anak mereka mengembangkan keterampilan, bahkan sebagian melalui daring.

    Dengan begitu, ketika mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang siap bekerja, mereka mungkin dapat menemukan cara baru dan berbeda untuk menghadapi kesulitan di dunia, meskipun mereka melihatnya secara berbeda dari orang lain. (visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

    VIDEO REKOMENDASI

  • 7 ‘Resep Jitu’ Mengatasi Pilek, Benarkah?

    7 ‘Resep Jitu’ Mengatasi Pilek, Benarkah?

    Ketika Anda pernah mengalami, hidung berair seperti keran, tidak bisa berhenti bersin, badan terasa tidak enak, dan ketika melihat cermin, Anda hanya ingin memalingkan muka —kemungkinan besar Anda sedang menderita pilek. Lantas, Anda membuka internet untuk mencari cara penyembuhan yang cepat. Tapi hanya membuat kepala Anda, yang sudah pening, bertambah pusing. Baiklah, berikut beberapa fakta yang dapat membantu Anda.

    Kita semua pernah mendengar pepatah, “Makan untuk Atasi Pilek, Puasa untuk Atasi Demam” kan? Tetapi apakah memang harus melakukannya demikian? Coba perhatikan 10 resep berikut yang banyak beredar tentang pilek, dan lihat mana yang benar.

    1. Sup ayam bisa membantu melawan pilek. Benar atau salah? Jawab: Benar

    Sup Ayam (Foto: Shutterstock | Ildi Papp)

    Penelitian menunjukkan bahwa sup ayam memiliki efek anti-inflamasi dalam tubuh, dan rasanya juga enak!

    2. Antibiotik dapat menyembuhkan pilek. Benar atau salah? Jawab: Salah

    Jika Anda menggunakan obat antibiotik untuk menyembuhkan pilek, Anda dengan mudah melemahkan kekebalan tubuh, membuat tubuh Anda rentan terhadap virus yang lebih serius. Ingatlah, antibiotik tidak dapat membunuh virus!

    3. Rambut basah bisa membuat Anda pilek. Benar atau salah? Jawab: Salah

    Foto: Shutterstock | puhhha

    Pilek biasa disebabkan oleh virus, dan rambut basah tidak meningkatkan kerentanan Anda untuk menderita pilek, kecuali jika Anda menderita hipotermia berat, sehingga sistem kekebalan tubuh Anda terganggu.

    4. ‘Makan untuk Atasi Pilek, Puasa untuk Atasi Demam’. Benar atau salah? Jawab: Salah

    Ketika sakit, tubuh kita membutuhkan dukungan. Cairan adalah hal yang paling penting, terutama ketika menderita demam, karena Anda perlu menghindari dehidrasi. Tetapi Anda akan pulih lebih cepat jika mengonsumsi makanan yang bergizi. Banyak sayuran dan buah segar akan menjadi awal yang baik!

    5. Menggosok Vicks VaporRub pada kaki akan menghentikan batuk. Benar atau salah? Jawab: Seharusnya salah, meski mungkin benar

    Foto: © Flickr | Tatsuo Yamashita

    Media sosial banyak mengedarkan saran jika Anda menggosok kaki dengan Vicks di malam hari, akan meredakan batuk saat demam. Tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan kebenaran pernyataan ini; namun, banyak pembaca membuktikan keefektifannya. Tidak ada ruginya jika Anda mencobanya saat demam!

    6. Flu adalah pilek yang parah. Benar atau salah? Jawab: Salah

    Pilek disebabkan oleh berbagai virus yang menyebabkan Anda terserang flu. Gejala keduanya mirip, seperti hidung tersumbat, batuk, dan perasaan mengganjal. Tetapi flu memiliki gejala tambahan seperti demam, mual, dan linu pada tulang, serta dapat menyebabkan komplikasi serius. Dalam hal ini, Anda mungkin perlu konsultasi dengan dokter

    7. Anda hanya pilek satu kali setiap musim. Benar atau salah? Jawab: Salah

    Foto: Shutterstock | goa novi

    Karena pilek disebabkan oleh virus, ketika dia menyerang, tubuh Anda akan membangun antibodi terhadap serangan virus serupa di masa depan. Tapi masalahnya adalah, ada lebih dari 200 jenis virus berbeda yang dapat menyebabkan pilek, jadi sayangnya Anda bisa saja terserang pilek dalam rentang musim yang sama. (theepochtimes/fei/kar)